Jusuf Irianto, Guru Besar Fisip Unair.

Jepang dan Swedia, Tampak Berbeda

Jusuf Irianto 31 March 2020 04:08 WIB

Dalam menghadapi pandemi virus korona, hampir semua negara memiliki pola kebijakan yang nyaris sama. Social distancing, physical distancing, semi locked-down, atau bahkan locked-down total.

Berbagai berita atau kabar, baik tentang kondisi penderita maupun situasi tiap wilayah, pun nyaris sama. Sepi, sekaligus menakutkan, diikuti data jumlah penderita lama dan baru beserta persentase angka kesembuhan dan kematian.

Tapi, tampak suasana agak berbeda jika melihat atau mendengar tentang Jepang dan Swedia.

Satu-satunya kabar "besar" dari Jepang terkait pandemi Covid-19 adalah penundaan Olimpiade Tokyo 2020, dilaksanakan tahun depan. Beberapa media mainstream menyajikan pemberitaan situasi Jepang relatif adem ayem dibanding negara lain.

Di situs www.vox.com dapat dilihat tampilan gambar ramainya jalanan di Tokyo pada 27 Maret 2020. Sekelompok remaja makan jajanan sambil berjalan, sebagian berdiri santai, serta ilustrasi lain. Suasana mengesankan tak ada yang harus dikuatirkan.

Juga, Swedia berbeda dengan negara rumpun Skandinavia lain macam Denmark, Norwegia atau Finlandia. Swedia tampak "santui".

Mengapa kebijakan dan suasana Jepang dan Swedia berbeda dengan kebanyakan negara?

Mengutip situs vox.com, berdasarkan rekomendasi para pakar, pemerintah Jepang sejak 20 Maret mulai mengambil langkah dan kebijakan yang tegas dan jelas. Fokus pada penentuan kluster wilayah penanganan infeksi diikuti penyiapan infrastruktur kesehatan agar mampu merawat penderita secara efektif.

Jepang sepertinya lebih siap mengantisipasi Covid-19 outbreak ini. Health care system mereka sangat kuat. Jumlah hospital beds per  seribu penduduk empat kali lebih banyak dibanding AS. Meski demikian, mereka tetap menghadapi kecenderungan adanya kelangkaan masker dan disinfektan.

Namun arah kebijakan dan langkah yang diambil sudah jelas: terus hindari lingkungan yang secara kolektif atau bersamaan masuk dalam kriteria: fasilitas ventilator buruk, kerumunan padat, dan percakapan jarak dekat!

Most important thing dari pada sekadar kebijakan ternyata adalah habit dan value masyarakat Jepang itu sendiri sebelum datangnya pandemi. Orang Jepang tidak biasa bersalaman jika bertemu. Cukup membungkuk untuk memberi hormat dengan jarak aman.

Di samping itu, Jepang sangat terkenal dengan budaya bersih dan sarana sanitasi yang hebat. Teknologi dan jenis kloset terbaik dihasilkan oleh negeri sakura ini. Masyarakat Jepang terbiasa rutin hand washing, gargling atau berkumur, dan disinfeksi. Orang Jepang menghindari salaman, pelukan, atau ciuman saat bersua. Beda dengan kebiasaan atau budaya barat.

Tahun 2015 ada survei menunjukkan fakta, hanya 15 persen orang Jepang yang tidak melakukan hand washing pasca ke toilet, sementara orang Amerika jauh lebih besar: 40 persen! Cuci tangan dengan makna yang sebenarnya diyakini mampu mengurangi resiko respiratory infection mencapai hampir 16 persen.

Orang Jepang juga sangat menghormati dan memiliki rasa tanggung jawab yang sangat tinggi pada kehidupan sosial  kemasyarakatan. Saling peduli untuk sebuah kebaikan dan kemaslahatan.

Kesimpulannya, kebijakan pemerintah Jepang layak diacungi dua jempol dalam merespon pandemi virus korona, sementara masyarakat dan budayanya memiliki personal hygiene dan social responsibilities yang sangat mengagumkan.

Ke Swedia. Kunjungi situs koran New York Times yaitu www.nytimes.com. Ada judul menarik: In the Coronavirus Fight in Scandinavia, Sweden Stands Apart, disertai dengan sub judul "The country has drawn global attention with an unorthodox approach while its neighbors have imposed extensive restrictions".

Pemerintah dan warga Swedia terkesan santai merespon wabah virus. Tetangganya, Norwegia dan Denmark serius restrictions on their borders, Swedia ambil keputusan, different path!

Para tetangga itu nutup juga restoran, arena ski, stay and learn at home untuk semua peserta didik dan mahasiswa, sementara Swedia hanya nutup SMA dan perguruan tinggi. Di Swedia anak-anak TK atau preschools, SD hingga SMP atau grade schools, pub, resto, dan perbatasan tetap buka. Tidak ada pembatasan yang siginifikan!

Bisnis tetap jalan as usual. Bagi sebagian pihak ada yang berspekulasi, bahwa Swedia sedang gambling alias berjudi karena hingga kini angka penderita dan kematian terus meroket, sementara we have no cure or vaccine.

Namun, sebetulnya tak ada fakta menunjukkan pemerintah dan orang Swedia sedang guyonan atau meremehkan ganasnya Covid-19 ini. Pemerintah tampak berfikir logis, cukup dengan kebijakan kesehatan yang menekankan hand washing, social distancing, dan proteksi bagi penduduk khususnya yang berusia di atas 70 tahun dengan pembatasan kontak.

Hingga uraian ini ditulis,  menurut situs nytimes.com, masih terlihat di Swedia sekumpulan lebih dari dua orang makan malam di resto bak tiada wabah. Taman-taman bermain tetap ramai dengan screaming dan keceriaan para bocah. Pun, di berbagai pusat keramaian macam mall atau shoping centre tetap ramai, berjalan normal.

Salah seorang pakar epidemiologi Swedia bernama Anders Tegnell mengatakan: "We are trying to slow the spread enough so that we can deal with the patients coming in". Nadanya sungguh terasa tanpa bumbu kepanikan!

Pendekatan Swedia tetap  public's  self-restraint dan sense responsibility. Tegnel menegaskan bahwa sistem kesehatan di negaranya secara keseluruhan "communicable disease control is based on voluntary action, sistem imunasi juga komplit mencapai 98 persen. Orang Swedia katanya sudah punya cara tersendiri menghadapi berbagai situasi berbasis pengalaman historis mereka.

Ada pula di Swedia yang berpendapat: "you don't need to micromanage or control behavior at a detailed level" melalui larangan atau sanksi, hukuman atau pemenjaraan.

Namun demikian, harus tetap diingat, sekali lagi harus tetap diingat. Bahwa baik Jepang yang berbudaya "sangat bersih" dan disiplin maupun Swedia yang berbeda respon berbasis "well experienced" alias banyak pengalaman dan berbeda dengan negara lain; ternyata kedua negara tersebut menghadapi realitas yang sama dengan hampir semua negara di dunia: kenaikan jumlah penderita dan persentase kematian!

Persis seperti yang dinyatakan oleh saluran BBC World News Channel: kita semua bingung menghadapi pandemi ini, masih belum tau banyak apa yang harus dilakukan.

Ada apakah ini? Mari kita bersama merenung. Ber-muasabbah sekaligus berdoa agar situasi membaik, di samping terus berikhtiar menemukan metode yang paling efektif dan make sense.

*) Jusuf Irianto adalah guru besar Universitas Airlangga.

Penulis : Jusuf Irianto

Editor : Azhari

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

12 Aug 2020 22:35 WIB

Satu Tenaga Kesehatan di Banyuwangi Terpapar Covid-19

Jawa Timur

Terdapat tambahan tujuh kasus Covid-19 baru di Banyuwangi.

12 Aug 2020 22:15 WIB

Surabaya Zona Orange, Pemkot Tak Ingin Longgarkan Protokol Covid

Surabaya

Pemkot Surabaya tetap mengimbau masyarakat tetap patuhi protokol kesehatan.

12 Aug 2020 21:50 WIB

18 Agustus, Jawa Timur Uji Coba Buka Sekolah SMA/SMK

Pendidikan

Zona orange 50 persen, zona kuning 25 persen.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...