Ilustrasi operasi dan bazar pasar murah. (Ilustrasi: Vidingopibareng.id)

Jelang Nataru, Disperindag Gelar Bazar Murah dan Monitoring Harga

Reportase 17 December 2019 21:30 WIB

Kenaikan harga menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) bukanlah hal yang asing di Indonesia, khususnya Surabaya. Contohnya pada pertengahan bulan Desember ini, beberapa bahan pokok seperti beras, gula, hingga telur mengalami kenaikan hampir 15 persen dari hari biasa.

Untuk mengantisipasi hal itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Surabaya mulai melakukan bazar murah dan monitoring harga di beberapa pasar utama di Surabaya. Hal ini dilakukan sejak 28 November lalu.

Kepala Disperindag Kota Surabaya Wiwiek Widayati mengatakan, Disperindag sudah menggelar bazar murah di 24 Kecamatan di seluruh Surabaya, dan akan berlanjut sampai 31 Kecamatan di akhir tahun ini.

"Kita sudah upayakan untuk mengendalikan tren kenaikan harga di pasar sejak November. Maka dari itu kami gelar bazar murah di kecamatan-kecamatan," kata Wiwiek kepada ngopibareng.id, Selasa 17 Desember 2019 di Balai Kota Surabaya.

Wiwiek mengatakan, untuk bazar murah kali ini, Disperindag tidak menggelar di pasar-pasar, melainkan langsung di kampung-kampung atau di kantor kecamatan. Sehingga, Disperindag bisa langsung menyasar warga yang membutuhkan.

"Kalau di pasar, kami takut yang beli itu para pedagang, dan kemudian dijual lebih mahal. Soalnya harga di kami, lebih murah daripada di pasar kan. Maka dari itu kami gelar di kampung-kampung," katanya.

Wiwiek berharap, dengan digelarnya bazar murah itu, masyarakat Surabaya khususnya yang berada di ekonomi menengah ke bawah, bisa memanfaatkan dengan baik untuk keperluan perutnya.

"Semoga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat," sambungnya.

Tak hanya menggelar bazar murah, Disperindag juga melakukan operasi dan monitoring harga bahan pokok di beberapa pasar utama di Kota Surabaya, seperti Pasar Wonokromo, Pasar Pucang, Tambakrejo, Pasar Kembang, Pasar Pabean dan Pasar Genteng.

Monitoring itu dilakukan untuk mengendalikan agar pedagang tidak menjual bahan pokok melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Perindustrian.

"Kami selalu kirim surat imbauan kepada pedagang untuk mentaati yang ditetapkan Kemenperin. Nah, kan kita nggak tahu apa pedangang nurut atau tidak, makanya kami lakukan monitoring," tutur Wiwiek.

Monitoring dilakukan hampir setiap hari dan acak pasarnya. Sehingga pedagang tidak bisa mengetahui kapan tim Dipserindag datang. Selain itu, ia mengaku tim Disperindag selalu didampingi oleh Satgas Pangan Polrestabes Surabaya.

Alasannya, jika saat melakukan monitoring ditemukan pedagang yang menjual bahan pokok di atas HET, maka saat itu juga harus diturunkan harganya. Jika tidak mau, maka langsung akan ditindak oleh Satgas.

"Nanti langsung ditindak oleh satgas kalau tidak mau diturunkan ya. Kami ingin masyarakat tidak terbebani dengan anggapan kalau mau natal atau tahun baru itu naiknya banyak. Makanya kami mau kendalikan pedagang di pasar itu. Biar sama-sama enak," ujar dia.

Penulis : Alief Sambogo

Editor : Yasmin Fitrida

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

26 Feb 2020 17:06 WIB

Tak Ada Dana, Pemkot Tak Mampu Revitalisasi Pasar Tunjungan

Surabaya

Para pedagang Pasar Tunjungan tagih janji Pemkot Surabaya

26 Feb 2020 16:55 WIB

Program Student Company, Siswa SMAN 16 Dirikan Perusahaan Sendiri

Pendidikan

Siswa SMAN 16 Surabaya dirikan perusahaan sendiri.

26 Feb 2020 16:30 WIB

Rekening Sunda Empire Bernilai Bilyunan Ternyata Fiktif

Kriminalitas

Polda Jabar memastikan setelah mendapat konfirmasi dari Kedubes Swiss

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.