Jelang Lebaran, Usaha Kue Rumahan Kebanjiran Order

Ngopibareng Pasuruan 28 May 2019 08:45 WIB

Bulan Ramadhan membawa berkah buat usaha kue kering rumahan. Sulastri, 48 tahun, warga RT 01 RW 09, Dusun Wetan Embong, Desa Suwayuwo sudah 11 tahun menggeluti bisnis kue.

Memasuki bulan Ramadhan sampai menjelang Lebaran, pesanan kue kering seperti nastar, kastengels, putri salju dan lainnya meningkat. Dalam sehari ia bisa menghabiskan 30-50 kilogram bahan kue kering.

“Alhamdulillah, usaha rumahan ini jalan terus dan banyak pemesannya. Karena kalau pas saya nanya, gimana kue saya enak atau tidak. Semua bilang enak,” kata Sulastri.

Kue kering bikinan Sulastri dikemas dalam toples, kaleng, dan kardus. “Lebih simple langsung dimasukkan ke dalam tas kresek atau di tas,” sambungnya.

Sebelum sesukses seperti sekarang, Sulastri mengawali usahanya dari pesanan tetangga yang ingin dibuatkan kue untuk hajatan. Ada juga yang pesan kue basah untuk hidangan acara nikahan atau tasyakuran, serta oleh-oleh. hingga sebagai oleh-oleh.

“Saya masing ingat dulu ada tetangga yang punya hajatan kemudian saya tawari dan mau. Lumayan walau masih 50 pesanan saja,” ungkapnya.

Sulastri rupanya sempat mengikuti pelatihan dan pembinaan kewirausahaan dari Pemerintah Kabupaten Pasuruan hingga swasta seperti Sampoerna. “Sudah nggak kehitung berapa banyak pelatihan yang saya ikuti. Sekarang sudah bukan peserta lagi, tapi didapuk jadi instruktur atau pelatih pembuatan kue basah dan kering,” imbuhnya.
Pelanggan Sulastri pun bertambah. Pesanan juga bisa dilakukan melalui aplikasi WhatsApp dan Instagram. Kebetulan, Sulastri juga punya anak laki-laki yang jago dalam membuat desain kue yang ia namakan RB atau Rizki Barokah.
“Saya juga sudah buat website resmi, yakni www.kuerizkibarokah.com. Kita lengkali semua usaha kita, mulai ijin usaha, kesehatan dan lain sebagainya,” jelas dia.
Harga kue kering buatan Sulastri harganya bervariasi. Semprit jelarut Rp28 ribu untuk toples besar dan Rp18 ribu untuk toples kecil. Nastar Rp38 ribu, cookies kismis Rp30 ribu, kastengels Rp53 ribu, putri salju Rp32 ribu, good time Rp30 ribu, lidah kucing Rp28 ribu, kue kacang Rp37 ribu dan kue abon Rp37 ribu.
Selama membuat kue, dirinya dibantu oleh 2-3 pegawai. Tapi khusus Ramadhan dan menjelang hari raya, dirinya memberdayakan 7-9 orang tetangganya. Omsetnya pun lumayan, lantaran dalam sehari dirinya bisa meraup untung bersih sebesar Rp500 ribu.
“Senangnya di sini, karena bisa membantu para tetangga yang ingin mencari kesibukan. Hasil dari penjualan kita juga kita peruntukkan untuk mereka semua,” tutur Sulastri. (emil)

Penulis : Yasmin Fitrida

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

31 Jan 2020 23:45 WIB

TPA Kenep Ditutup, Pasuruan Segera Operasikan TPA Wonokerto

Ngopibareng Pasuruan

Perhari TPA Wonokerto bisa menimbun 1.152 ton sampah dari 11 kecamatan.

10 Jul 2019 16:20 WIB

Ade Rai Ajak Ibu-ibu Pasuruan Lindungi Kesehatan dengan Ikut BPJS

Ngopibareng Pasuruan

Ade Rai membuat kagum ibu-ibu, termasuk Ketua TP PKK Kab Pasuruan, Lulis Irsyad Yusuf

16 Jun 2019 10:30 WIB

Budidaya Burung Merpati Balap, Harga per Ekor Mencapai Rp35 Juta

Ngopibareng Pasuruan

Berawal dari hobi, burung merpati balap dibudidayakan hingga menghasilkan uang.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...