Presiden Anugerahkan Bintang Jasa dan Pengukuhan Paskibraka

15 Aug 2019 13:49 Nasional

Rangkaian upacara kenegaraan memperingati HUT ke-74 Kemerdekan RI, dimulai dengan penyematan bintang jasa dan tanda kehormatan bagi anak bangsa. Presiden Joko Widodo (Jokowi) atau Jokowi memberikan gelar tanda kehormatan itu di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat pukul 13.00 WIB.

Menteri Sekretaris Negara M Pratikno, mengatakan, penerima bintang jasa dan tanda kehormatan tersebut berasal dari berbagai latar belakang yakni seniman, budayawan, dan dan tokoh masyarakat.

Bintang Jasa adalah bintang medali sipil yang dikeluarkan oleh pemerintah Republik Indonesia, dengan derajat setingkat di bawah Bintang Mahaputra.

Bintang ini dikeluarkan dan diberikan kepada mereka yang berjasa luar biasa terhadap nusa dan bangsa pada bidang atau peristiwa atau hal tertentu di luar bidang militer. Antara lain Bintang Mahaputera Adipurna, Bintang Mahaputera Adipradana, Bintang Mahaputera Utama, Bintang Mahaputera Pratama, dan Bintang Mahaputera Nararya.

"Bintang jasa ini diberikan secara rutin setiap menjelang upacara HUT Kemerdekaan RI. Sedang untuk panganugerahan gelar pahlawan nasional, diberikan pada Peringatan Hari Pahlawan 10 November," kata Pratikno kepada ngopibareng.id.

Agenda Presiden Jokowi selanjutnya ialah pengukuhkan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di Istana Negara pada pukul 15.00 WIB. Mereka akan bertugas pada upacara bendera memperingati detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945 di halaman Istana Merdeka, pada Sabtu Agustus 2019.

Anggota Paskibraka ini merupakan pelajar SMA dari seluruh Provinsi di Indonesia. Setiap provinsi diwakili dua siswa putra putri setelah melalui proses seleksi. Masa latihan pun dijalani selama dua bulan di Cibubur, Jawa Barat.

Mengenai perubahan seragam anggota Paskibraka putri dari rok ke celana yang mengundang kontroversi. Deputi Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olah Raga Arorun Niam menjelaskan, rok tetap akan digunakan oleh Paskibraka Nasional 2019 putri yang tidak berjilbab.

"Ini bahasanya yang menyebabkan sensitifitas cukup tinggi. Dianggapnya ini mengganti dan menghilangkan rok, padahal tidak. Justru ini memberikan ruang pilihan, justru lebih menghargai perbedaan. Penggunaan roknya pun tidak 'rok pendek' seperti yang orang-orang bayangkan. Rok untuk Paskibraka Nasional 2019 tetap sepanjang di bawah lutut," jelas Asrorun.

Penulis : Asmanu Sudharso
Editor : Yasmin Fitrida


Bagikan artikel ini