Jejak Emas dan Lumpur Andi Arief

07 Mar 2019 05:42 Arif Afandi

Saya termasuk yang prihatin dengan jalan lumpur yang baru saja dilewati Andi Arief. Sebab, entah diakui atau tidak olehnya, saya menjadi salah satu pencatat sejarah kiprah dia dalam melahirkan reformasi yang dinikmati bangsa Indonesia sekarang ini. 

Pencatat sejarah? Ya. Ketika Andi Arief menjadi mahasiswa Fisipol UGM sekaligus pendiri SMID (Solidritas Mahasiswa untuk Demokrasi), saya sudah menjadi wartawan. Saya selalu mengikuti gerakan dia dan kawan-kawannya dalam merobohkan rezim otoriter yang telah berkuasa 32 tahun.

Bagi saya, gerakan Andi Arief dan kawan-kawan ini sungguh heroik dan berani. Akibatnya, ia bersama aktifis lain seperti Budiman Sujatmiko dan Nezar Patria menjadi incaran kekerasan penguasa. Bahkan, dua orang yang disebut terakhir sempat meringkuk di penjara.

Di era pergerakan Andi Arief, gerakan mahasiswa di Yogyakarta terbagi menjadi dua. Gerakan parlemen jalanan dan kelompok diskusi. Semuanya berbasis kampus. Meski Budiman Sujatmiko lebih membangun kekuatannya lewat PRD yang bergerak dari luar kampus.

Banyak tokoh kelompok diskusi yang menonjol pada saat itu. Di Yogyakarta seperti Rizal Malarangeng, Anies Baswedan, Ario Bimo, Deny Indrayana dan sebagainya. Seperti halnya kelompok parlemen jalanan, mereka juga membangun jaringan antar kampus. Menggelar kajian-kajian demokrasi yang kritis terhadap pemerintah.

Pada momen tertentu mereka melakukan gerakan bersama seperti apel akbar mahasiswa seperti yang pernah berlangsung di Beulevard Kampus UGM di Bulaksumur Yogyakarta. Baik tokoh parlemen jalanan maupun kelompok diskusi saling berorasi membangkitkan tuntutan reformasi.

Para tokoh gerakan mahasiswa 1990-an ini sekarang telah memilih jalannya masing-masing. Ada yang menjadi politisi. Ada pula yang mengambil jalur profesi. Yang menjadi politisi, mereka menyebar ke sejumlah partai politik. Ada yang masuk koalisi pemerintah, ada yang menjadi oposan.

Karir mereka juga beragam. Ada yang mencapai puncak, ada yang sedang-sedang, ada yang hilang di tengah peredaran. Ada juga yang sampai kini memilih sebagai aktifis jalanan yang terus bergerak di bidang pemberdayaan rakyat. Yang di jalur akademik, ada yang sudah jadi guru besar, ada juga yang baru dosen biasa.

Dekade ini adalah dekade mereka untuk menikmati perjuangannya. Perjuangan yang melahirkan reformasi politik setelah 32 tahun dikungkung penguasa otoriter yang menyesakkan. Telah banyak orang yang juga menikmati perjuangan mereka. Meski saat itu mereka entah ada di mana. Biasa, selalu ada banyak penumpang gelap dari sebuah perjuangan.

Andi Arief salah satu tokoh gerakan yang sejak pemerintahan SBY ikut menikmati hasil perjuangan itu. Ia berada di lingkar dalam dua kali pemerintahan pendiri Partai Demokrat ini. Ia berada di tempat yang ketika menjadi aktifis menjadi target gerakannya. Di sekitar puncak kekuasaan yang di tahun 1998 digulingkannya.

Apakah memang kekuasaan punya bawaan selalu membuat penghuninya terlenakan? Entahlah. Yang pasti kini kaki Andi Arief sedang belepotan lumpur akibat apa yang dia lakukan. Cipratan jejak lumpur itu akan terus membekas sampai kapan pun juga. Noda lumpur dan bekas jejaknya itu bernama narkoba.

Yang asyik adalah sikap teman-teman perjuanganya. Seperti yang diungkapkan Budiman Sujatmiko dan Nezar Patria. "Kamu sudah memilih jalanmu dengan memilih jenis teman macam apa di sekitarmu. Sedih," katanya. 

"Saya tahu banyak yang jengkel dengan ulahnya, meskipun banyak juga yang memuji manuvernya. Tentu banyak yang saya tak tahu juga, misalnya bagaimana dia bisa berujung dengan apa yang diberitakan hari-hari ini," kata Nezar sambil prihatin dengan apa yang terjadi pasa kawannya.

Saat peristiwa apesnya Andi Arief di salah satu hotel akibat mengonsumsi narkoba, saya hanya bisa tersenyum kecut. Sambil selalu mengingatkan siapa pun jangan salah mengartikan inisial AA menjadi Arif Afandi. AA yang ini adalah Andi Arief. 

Kalau dulu ia meninggalkan jejak emas ikut melahirkan reformasi politik. Kini ia baru saja menciptakan jejak lumpur yang menodai rekam sejarah yang dia ukir selama ini. (arif afandi)