Jeblok di Bisnis Pengiriman TKI, Moncer Jadi Juragan Mebel

02 Apr 2019 07:00 Ekonomi dan Bisnis

Menjadi wacana umum di Kabupaten Bojonegoro: bukan orang Sukorejo kalau tidak bisa mainan mebel! Sebab itu Desa Sukorejo pun penuh dengan perajin mebel kelas atas. Sukorejo juga menjadi sentra mebeler dan barometer produk mebel nasional, selain Jepara tentunya.

Abdul Rohman mengenang, andai dulu dia tidak banting stir ke dunia mebeler mungkin sekarang dirinya sering berurusan undang-undang terkait pengiriman TKI ke luar negeri. Mengingat, TKI di luar negeri acapkali dirundung masalah. Mulai tidak digaji, diperkosa, dihamili majikan, hingga yang meninggal dunia akibat kecelakaan kerja maupun hukuman mati yang dilakukan oleh negara yang bersangkutan.

Abdul Rohman, kini 38 tahun, warga Sukorejo Kecamatan Bojonegoro Kota, dulunya memang terlibat bisnis pengiriman TKI ke luar negeri. Warga Kabupaten Bojonegoro dan sekitarnya termasuk memiliki minat tinggi bekerja di luar negeri. Bisnis ini pun marak. Namun seiring meningkatnya kasus-kasus mengerikan yang menimpa TKI, Rohman memilih ”pensiun” awal dari bisnis yang banyak mengundang masalah ini.

Desain adalah material bisnis yang harus sesuai selera pecinta mebel Karena itu semua awak produksi harus bekerjasama satu sama lain untuk menghasilkan kualitas yang baik Fotowidikamidingopibarengid
Desain adalah material bisnis yang harus sesuai selera pecinta mebel. Karena itu semua awak produksi harus bekerjasama satu sama lain untuk menghasilkan kualitas yang baik. (Foto:widikamidi/ngopibareng.id)

Sebagai warga Sukorejo, mebel adalah pilihan paling gampang untuk alih profesi itu. Dia tinggal belajar dan menyerap ilmunya. Banyak kawan, tetangga, hingga saudara sudah lama nyemplung dalam bisnis mebel ini. Mereka, rata-rata, sukses secara ekonomi dalam bisnis ini.

Sedikitnya terdapat 100 perajin di Desa Sukorejo ini. Jumlah riilnya malah 100-an lebih. Rohman pun belajar membuat mebel dari hitungan nol di rumah paman. Belajar juga di tetangga. Menimba ilmu juga dari para kawan yang sudah lebih dulu sukses bermain mebel. “Pokoknya belajar dari ujung ke ujung,” demikian istilah Rohman yang kini menjabat sekretaris asosiasi permebelan di Bojonegoro.

Rohman berproses membuat meja, kursi, almari, hingga kusen untuk rumah. Belajar menghitung kayu sejak mulai kayu gelondongan, menggergaji, hingga menjadikannya produk mebel berkualitas. “Saya belajar dari ujung ke ujung itu karena masing-masing perajin ilmunya beda dalam menghitung kayu,” katanya.

TKI di luar negeri kerap dirundung masalah. Mulai diakali gajinya, diperkosa, dihamili majikan, meninggal dunia akibat kecelakaan kerja maupun yang hukuman mati.

Tahun 2004 Rohman memulai memproduksi sendiri produk mebeler dan kusen. Ia sudah berani mendeklarasikan diri sebagai perajin mebel. Mengerek bendera tinggi-tinggi dengan branding Mutiara Furniture yang beralamatkan di Jalan Letda Mustajab 75 Bojonegoro. Jumlah pekerjanya baru satu orang, dan meningkat terus menjadi 13 orang. Kini usahanya tidak sekadar mebeler, tetapi sudah merambah ke penggergajian kayu.

Menurut Rohman, Sukorejo menjadi sentra mebel dengan jumlah perajin yang mencapai ratusan orang justru sangat menguntungkan. Pasar akan tercipta baik dengan smart. “Memang ada komponen persaingan antarperajin, namun kompetisi itu justru sehat untuk para perajin. Sebab masing-masing perajin mampu mengusung dan mengusahakan market sendiri-sendiri,” ungkap Rohman.

Untuk ciri khas Rohman mengusung desain minimalis. Namun tidak menutup kemungkinan akan selalu berubah berdasarkan tren yang ada dipasaran berikut keinginan pemesan. Namun di setiap tren dia juga selalu menawarkan desain minimalis.

Abdul Rohman sang
Abdul Rohman, sang

Dengan 13 orang pekerja, Rohman menargetkan satu minggu selalu ada produk yang sudah jadi. Berupa set meja kursi, almari, maupun kusen rumah dalam bentuk mentah atau belum sampai proses finishing. Target ini pun juga untuk mempermudah penghitungan omset dan mengatur ritme market. Dengan target yang sudah ia tetapkan tersebut, Rohman menghitung omset minimalnya dalam sebulan adalah 30-50 juta rupiah.

“Untuk mebel, pasar kita yang paling besar adalah Jawa Timur, Surabaya utamanya. Namun meski pasar besar, mebel ini sesungguhnya agak lama menjadi menjadi duit. Butuh waktu. Sehingga modal yang dibutuhkan akhirnya juga besar. Untuk itu kita push dan berbisnis kusen untuk keperluan pembagunan rumah. Kusen ini buanter. Pasar menyerap cepat dan cepat pula menjadi duit. Menjadi omset. Bisa mbayari karyawan tepat waktu. Bisa diputar untuk mencari bahan baku dan seterusnya,” kata Rohman. (widikamidi)

Reporter/Penulis : Widi Kamidi


Bagikan artikel ini