Ketua DPC PKB sekaligus Bupati Sidoarjo, Saiful Illah, usai menjalani pemeriksaan di Mapolda Jatim, Surabaya, Rabu 8 Januari 2020 dini hari. (Foto: Fariz/ngopibareng.id)
Ketua DPC PKB sekaligus Bupati Sidoarjo, Saiful Illah, usai menjalani pemeriksaan di Mapolda Jatim, Surabaya, Rabu 8 Januari 2020 dini hari. (Foto: Fariz/ngopibareng.id)

Jalan Terjal PKB Kuasai Sidoarjo

Ngopibareng.id Pilkada 09 January 2020 17:02 WIB

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menemui jalan terjal untuk bisa kembali menguasai tahta tertinggi di Pemerintahan Kabupatan Sidoarjo dalam Pemilihan Bupati (Pilbup) 2020, September 2020 mendatang.

Seiring Bupati Sidoarjo sekaligus Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB Sidoarjo, Saiful Illah terjaring operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa 7 Januari 2020.

Kasus tersebut dinilai akan sangat berpengaruh kepada psikologis politik para pemilih. Sebab, selama ini KPK berhasil membuktikan kerjanya dengan menggagalkan atau menangkap pelaku korupsi.

"Secara umum kasus ini berpengaruh. Apalagi, menyangkut KPK, karena selama ini KPK hampir gak pernah salah dalam melakukan OTT. Jadi, penilaian masyarakat sangat bagus, sehingga secara umum berpengaruh," ujar Direktur Surabaya Survey Center, Mochtar W Oetomo kepada ngopibareng.id, Kamis 9 Januari 2020.

Padahal, bisa dikatakan selama ini Abah Ipul (sapaan akrab Saiful Illah) merupakan sosok utama keberhasilan PKB menjadi pemenang dalam berbagai ajang politik di Sidoarjo. Terbukti, ia sudah empat periode dalam pemerintahan yang terdiri dari dua periode sebagai wakil bupati dan dua periode sebagai bupati.

Tak hanya itu, tanpa komunikasi politiknya sulit bagi PKB terus menang dalam pemilihan legislatif (Pileg) Sidoarjo.

Namun, hal itu akan menjadi sulit dengan kasus yang menjeratnya. Peluang PKB kembali menang kini mulai berkurang, karena perlu sosok untuk bisa mengkonsolidir pemilih.

"Maka, perlu kekuatan yang bisa meredam. Kalau kita belajar dari kasus Tulungagung, kenapa saat itu Syahri Mulyo yang kena kasus bisa menang? Karena masih ada kekuatan yang bisa menkonsolidir yaitu bapaknya. Kalau di Sidoarjo ini gak ada kekuatan lain selain Abah Ipul yang bisa mengkosolidir sehingga akan sulit," kata Mochtar.

Apalagi, ada dua kubu sebenarnya yang berkembang di internal PKB Sidoarjo. Yakni kubu Abah Ipul yang digadang-gadang akan mencalonkan anaknya Ahmad Amir Aslichin dan kubu KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali) dengan putranya Ahmad Ali Muhdlor yang telah mendeklarasikan diri maju dalam Pilbup Sidoarjo.

Dosen di Universitas Trunojoyo Madura itu mengatakan, menjadi dilema bagi Mas Iin (sapaan Ahmad Amir Aslichin) karena suaranya bisa menurun dengan kasus yang mendera ayahnya. Apalagi, tidak ada sosok lain yang bisa menjaga suara yang besar sebelumnya.

Di sisi lain, ia menilai, kekuatan Gus Muhdlor (sapaan Ahmad Ali Muhdlor) tidak bisa dipandang enteng pasalnya ada pengaruh Gus Ali yang sangat besar. Selain itu, Gus Muhdlor juga telah berhasil membangun komunikasi politik dengan partai-partai dan stakeholder lainnya.

Dengan itu, PKB dinilai dalam posisi dilema besar harus memilih nama siapa yang akan mendapat rekom, karena bisa saja memberi rekom pada Gus Iin dengan peluang menang yang diperkirakan kecil, kemudian ada Gus Muhdlor yang jadi kompetitor sekaligus anak kyai tersohor di Sidoarjo. Atau dengan memilih tokoh nasional yang mau diturunkan di Sidoarjo.

"Kalau PKB sampai salah langkah bisa menjadi blunder. Salah merekom atau tidak mempertimbangkan secara logis akan jadi blunder bagi PKB," ungkapnya.

Senada dengan Mochtar, pakar komunikasi politik Universitas Airlangga (Unair), Dr Suko Widodo mengatakan, PKB dalam kondisi yang rawan terjadi konflik internal dengan adanya dua kubu tersebut.

Sebab, selama ini Saiful Illah yang selalu memegang peran besar kesuksesan PKB di Sidoarjo, namun di sisi lain ada Gus Ali yang selalu menjadi tokoh yang memberi pertimbangan pada politik PKB.

"Apakah loyalitas popularitas elektabilitas juga kapabilitas itu harus diperhitungkan PKB dalam merekom calon yang diusung, karena kalau tidak ini jadi potensi ambyar. Sebab ada dua calon kuat di Sidoarjo yaitu Mas Iin dan Gus Muhdlor. Nah, Gus Ali punya kekuatan besar, Pak Saiful juga punya kekuatan besar,. Jadi kalau tidak ada kesepakatan di antara dua kubu itu akan bisa ambyar," kata Suko.

Apalagi, lanjut Suko, nama-nama kyai selalu menjadi penarik daya pikat masyarakat dalam memilih.

"Kalau salah pilih potensi ambyarnya besar. Kalau ambyar, PKB gak akan dapat apa-apa di Sidoarjo padahal itu lumbungnya PKB selama ini. Dan selama ini, pengaruh kyai itu sangat besar atau bahasa gaulnya the power of kyai itu memang nyata bagi PKB. Jadi, PKB harus bisa memilih dengan tepat," katanya.

Penulis : Fariz Yarbo

Editor : Witanto

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

29 Nov 2020 11:20 WIB

Argentina Ubah Nama Liga Utama jadi Piala Diego Maradona

Dunia

Sejumlah penghormatan juga dilakukan di dalam dan di luar lapangan.

29 Nov 2020 10:45 WIB

Terkontaminasi Corona, Wuhan Hentikan Distribusi Daging Brazil

Internasional

Produk serupa dari Vietnam juga disetop.

29 Nov 2020 10:36 WIB

Hasil Liga Spanyol: Madrid Keok, Atletico dan Sevilla Juara

Liga Spanyol

Atletico belum pernah kalah, Madrid sudah menelan 3 kekalahan.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...