Jadi Tuan Rumah FIABSI Global Meeting, Indonesia Jadi Model Pelibatan Swasta dalam Pembangunan Rumah Rakyat

28 May 2018 21:59 Ekonomi dan Bisnis

Tahun ini, Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan dunia para pengembang perumahan (FIABSI GBM). Sebanyak 68 negara dan 400 delegasi asing akan bertemu di Bali, 8 Desember mendatang. Plus 1000 anggota REI dari seluruh Indonesia.

Rencana event internasional di bidang real estate itu dilaporkan Ketua Umum DPP REI Soelaeman Soemawinata kepada Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (28/5/2018). Presiden bersedia hadir dan membuka cara tersebut.

Pertimbangan Indonesia menjadi tuan rumah FIABSI Global Business Meeting ini karena satu-satunya negara yang telah melibatkan pihak swasta dalam pembangunan rumah rakyat (affordable Housing). Model ini telah dipromosikan DPP REI dalam sejumlah pertemuan internaisonal para pengembang.

Program rumah rakyat ini antara lin dikenal dengan program sejuta rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). "Kami berharap Bapak Presiden nanti bisa menyampaikan sukses pelibatan swasta dalam program affordable housing ini," katanya.

Pengurus DPP REI foto bersama Menteri PUPR di depan Istana Merdeka usai bertemu Presiden Jokowi
Pengurus DPP REI foto bersama Menteri PUPR di depan Istana Merdeka usai bertemu Presiden Jokowi.

Disebutkan, di negara lain rumah rakyat ditangani sepenuhnya oleh pemerintah. Nah, lanjut Soelaeman, ketika kami paparkan model pelibatan swasta di Indonesia, banyak negara yang tertarik. Apalagi, di dalam Fiabsi ada dari Bank Dunia dan UN Habitat.

Presiden yang saat bertemu DPP REI didampingi Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono menyambut baik even internasional itu. "Ingatkan saya sebulan sebelum acara itu digelar," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, DPP REI menegaskan dukungannya terhadap Program sejuta rumah yang ditetapkan Presiden Jokowi. Disebutkan bahwa selama 2017, anggota REI telah membangun 216 ribu rumah untuk MBR. Sementara pwmerintah mentargetkan membangun 500 ribu unit.

Dalam kesempatan tersebut, REI sempat mengusulkan perlunya suku bunga khusus untuk kredit konstruksi dalam pengembangan rumah MBR. "Selama ini, bunga kredit konstruksinya masih mahal. Bahkan di atas suku bunga bank swasta. Padahal harga rumah bersubsidi ini dipatok pemerintah," tambahnya.

Menanggapi usulan ini, Presiden mengaku telah berbicara dengan gubernur BI yang baru. "Saya minta ada terobosan untuk mendorong bangkitnya bisnis perumahan," katanya.

Selain untuk MBR, REI juga mengusulkan skema MBR Plus. Yang pengadaan rumah untuk kelas menengah bawah. Bekerjasama dengan PT Taspen dan Jamkrindo, program ini untuk menyasar rakyat berpenghasilan dua kali lipat batas penerima rumah MBR.

Selain Soelaeman, Pengurus DPP REI yang ikut bertemu Presiden adalah Sekjen Totok Lusida dan pra wakil ketua seperti Djoko Slamet Utomo, Hari Ganie, Ignesz Kemalawarta, Adrie Istambul, Umar Husin, Turino Junaedi, dan Rusmin Lawin.

Sedangkan mewakili Badan Pertimbangan Organisasi (BPO) Bally Saputra dan Arif Afandi. (azh)