Maulid Akbar dan Doa untuk Bangsa di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis 29 Oktober 2020. (Foto: pbnu)

Itu Propaganda Ekstremisasi Islam, Kritik PBNU pada Ulah Macron

29 Oct 2020 16:56

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Sekjen PBNU), A Helmy Faishal Zaini memprotes Presiden Prancis, Emmanuel Macron terkait pernyataan yang sangat tendensius soal radikalisme dan ekstremisme. Menurut Helmy, pernyataan Macron hanya menggelorakan islamofobia di dunia.

“Pernyataan ini sangat tendensius, menggelorakan islamofobia dan memiliki dampak besar terhadap perdamaian dunia… Radikalisme dan juga ekstrimisme tidak memiliki agama. Ia bisa dimiliki oleh pribadi beragama apa pun saja,” jelas Helmy, dikutip dari keterangannya, Kamis 29 Oktober 2020.

Jajaran PBNU terkait dengan perayaan Maulid Nabi menggelar acara Maulid Nabi Akbar dan Doa untuk Bangsa di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis 29 Oktober 2020. Sejumlah tokoh hadir, termasuk amanat Wapres RI KH Ma'ruf Amin. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Imam Besar Masjid Istiqlal Prof KH Nasaruddin Umar pun hadir di tengah umat Islam di DKI Jakarta.

Sebelumnya, Macron menyebut bahwa Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia. Penyataan itu, menurut Helmy, sangat berbau islamofobia. Apalagi ketika dikaitkan dengan pembunuhan seorang guru yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad SAW. Macron menyebut bahwa sang guru dibunuh karena kaum Islamis menginginkan masa depan kita.

Terkait pernyataan itu, Helmy menyebut, apa yang dikatakan Macron adalah bentuk menggelorakan propaganda bahwa Islam agama radikal.

“Maka, menggelorakan propaganda bahwa Islam merupakan agama radikalis dan ekstremis, jauh sekali dengan kebenaran dan fakta yang ada,” kecam Helmy.

Padahal, menurut Helmy, Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin. Islam tampil sebagai agama yang mengusung kasih sayang bagi seisi jagat raya. Pihaknya meminta kepada umat Islam di Tanah Air dan warga NU agar tetap tenang serta tidak terprovokasi dengan adanya pernyataan Macron.

“Sangat tidak benar jika Islam diidentikkan dengan kekerasan. Islam adalah agama rahmah, kasih sayang, dan perdamaian,” tegasnya.

Terkait hal itu, PBNU meminta Pemerintah melakukan langkah cepat untuk menyikapi persoalan tersebut. “Kami mendorong Pemerintah untuk aktif melakukan langkah diplomatik guna mencari solusi terbaik untuk menyikapi keadaan ini,” tutup A Helmy Faishal Zaini.

Selain PBNU, ormas Islam Muhammadiyah juga melayangkan kekecewaan terhadap pernyataan Presiden Prancis itu. Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyatakan kecewa kepada pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyudutkan umat Islam dan menganggap penghinaan Nabi Muhammad SAW sebagai ekspresi kebebasan.