Isu Perang Dagang Warnai KTT ASEAN, Ini Warning Mahathir Mohamad

03 Nov 2019 21:29 Internasional

Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, mengatakan, negara-negara Asia Tenggara harus bersatu menghadapi perang dagang. Hal itu dimulai oleh Presiden AS Donald Trump. Menurutnya, beberapa negara tertentu "tidak bisa mencegah perdagangan meluas dan menjadi multilateral."

"Sekarang kita lihat populisme memuncak di Eropa dan Amerika, di mana ada perbincangan tentang pembatasan perdagangan, mengenai perang dagang dan pesawat... pajak lebih tinggi untuk impor dan lain-lain," kata Mahathir.

Mahathir Mohamad mengungkapkan hal itu, pada pembukaan KTT ASEAN di Bangkok, Thailand, Sabtu 2 November 2019. PM berusia 94 tahun, menyindir Presiden AS.

"Tapi saya pikir ini tidak akan bertahan lama karena mereka akan menyadari bahwa apabila mereka membatasi diri dari produsen-produsen baru, mereka akan rugi besar. Mereka tidak bisa mencegah perdagangan meluas dan menjadi multilateral dengan adanya teknologi baru," ujarnya.

"Kita lakukan apa yang Trump lakukan. (Trump) bukan orang baik tapi dia melakukan hal-hal itu dan kita bisa belajar bahkan dari orang-orang yang tidak baik," kata Mahathir, merujuk pada langkah pemerintahan Trump yang menaikkan tarif atas barang-barang impor dari China. Langkah itu bertujuan mengurangi defisit perdagangan AS.

Negara-negara ASEAN yang bergantung pada ekspor, terkena dampak perang dagang. Pertumbuhan tahun ini diperkirakan turun ke tingkat terendah dalam lima tahun. Mereka juga khawatir dengan meningkatnya pengaruh China di kawasan berpenduduk lebih dari 620 juta orang, kurang dari separuhnya China.

Dalam perkembangan sebelummya, para menteri luar negeri negara-negara Asia Tenggara membuka pertemuan tahunan pada akhir Juli 2019. Dengan seruan dari tuan rumah Thailand untuk memperdalam integrasi dalam menghadapi tantangan global yang meningkat, dan sebuah janji dari China bahwa perselisihan terkait ketegangan di Laut Cina Selatan akan diselesaikan dalam pertemuan itu.

Pertemuan itu sendiri berlangsung dengan dibayang-bayangi ketegangan keamanan yang meningkat di Semenanjung Korea, klaim wilayah China yang agresif di Laut Cina Selatan, dan perang dagang AS-China.

Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN), blok 10 negara yang berusaha mengeraskan suara mereka di ajang dunia, juga menjadi tuan rumah bagi sejumlah menteri luar negeri negara-negara yang menjadi mitra strategis dan dialog penting ASEAN, seperti Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.

Dalam sambutannya, Menlu Thailand Don Pramudwina, mengatakan kepada sejawat-sejawatnya dari ASEAN, bahwa mereka harus lebih cekatan dalam menghadapi semangat nasionalisme yang akhir-akhir ini semakin mendunia. Ia menegaskan, terlalu mengutamakan kepentingan negara sendiri dan berpikiran sempit bukanlah pilihan bagi negara-negara ASEAN.
Ia memperingatkan jalan yang dihadapi ASEAN pada masa depan kemungkinan tidak akan mudah, namun kerjasama antara negara sesama anggota dan mitra-mitra dari luar blok itu akan membantu mempertahankan pertumbuhan jangka panjang.

Menlu China Wang Yi, pada pertemuan itu, mengatakan, Beijing dan negara-negara ASEAN saat ini terfokus pada usaha menyelesaikan perselisihan dengan sepatutnya dan berjanji untuk bersama-sama mempertahankan perdamaian dan keamanan di wilayah itu.