Istri Korban Bom Gereja Santa Maria Maafkan Pelaku Teror Bom

21 May 2018 16:07 Jawa Timur

Istri korban ledakan bom Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya, Jawa Timur, Monic Dewi Andini mengaku sudah memaafkan pelaku teror bom yang telah menewaskan suaminya, almarhum Aloysius Bayu Rendra.

"Saya dan keluarga sudah memaafkan dan tidak ada terbesit sedikit pun untuk marah ataupun dendam," kata Monic, usai menerima penghargaan dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di acara peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-110 di Taman Surya, Kota Surabaya, Senin.

Menurut dia, pihaknya sudah bisa menerima keadaan tersebut dan berdoa kepada pelaku dan seluruh korban supaya mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan.

Tragedi yang terjadi, dinilainya, sebagai spirit baru secara pribadi maupun keluarga yang ditinggalkan dan terus berjuang untuk meneruskan apa yang sudah dilakukan oleh almarhum Bayu.

"Bersatu kembali dan tidak perlu lama bersedih. Mari bersama-sama bangkit untuk memajukan Kota Surabaya dan Indonesia," kata ibu dua anak yang tinggal di Jalan Gubeng Kertajaya I Nomor 15A Surabaya itu.

Sosok Bayu menjadi perbincangan setelah dia melakukan aksi heroik dengan menghadang motor pelaku pengeboman di depan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (SMTB) di Jalan Ngagel Madya Nomor 1, Gubeng, Surabaya, Minggu (13/5).

Atas tindakan Bayu menghentikan sepeda motor dikendarai pelaku pengeboman Yusuf Fadhil (18), yang membonceng adik kandungnya Firman Hakim (16) sambil memangku bom rakitan, membuat sekira 500 jemaat Gereja SMTB di akhir dari misa atau kebaktian rutin dapat terselamatkan jiwanya.

Bayu berhasil membuat laju motor Yusuf Fadhil terhenti dan langsung meledak di halaman gereja. Seketika itu pula, Bayu yang berpostur tinggi itu tewas bersama kedua pengendara dan pembonceng motor yang menabraknya.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan pemberian penghargaan berupa bantuan sosial dan piagam kepada sejumlah warga yang memiliki semangat untuk berjuang dalam upaya pencegahan aksi terorisme.

"Jadi, ada 41 penghargaan yang kami berikan kepada mereka yang nyata-nyata berjuang sehingga terjadi pencegahan," kata Risma.

Adapun penghargaan tersebut diberikan kepada para korban meninggal maupun yang saat ini masih dalam proses perawatan di rumah sakit.

Penghargaan juga diberikan kepada anggota kepolisian, pihak rumah sakit, universitas dan tim psikolog yang sudah melakukan keberanian, pengorbanan dan dedikasi dalam mengamankan tempat ibadah serta menjaga ketertiban Kota Pahlawan, Surabaya. (ant)

Penulis : Witanto


Bagikan artikel ini