Agus Maftuh Abegebriel, Duta Besar RI di Arab Saudi, saat menyampaikan pidato bertepatan wuquf di Arafah, serangkaian pelaksanaan ibadah haji. (Foto: Istimewa)
Agus Maftuh Abegebriel, Duta Besar RI di Arab Saudi, saat menyampaikan pidato bertepatan wuquf di Arafah, serangkaian pelaksanaan ibadah haji. (Foto: Istimewa)

Islam Tak Pernah Berikan Privilege untuk Etnis dan Klan Tertentu

Ngopibareng.id Khazanah 22 November 2020 05:27 WIB

oleh: Agus Maftuh Abegebriel 

Setahun sebelum wafat, di bukit Arafah, Kanjeng Nabi Muhammad SAW menyampaikan sebuah pidato pamungkas dengan penegasan bahwa Islam adalah Agama Equality (persamaan, al-musawat).

Tidak boleh ada seseorang atau komunitas manapun yang berhak mengklaim sebagai makhluk terhebat di muka bumi ini atas nama apapun baik etnis atau klan apapun.

Kanjeng Nabi berpesan bahwa makhluk terhebat adalah mereka yang paling komitmen (takwa) kepada Allah SWT dari bangsa dan etnis apapun mereka berasal.

Tausiyah terakhir Kanjeng Nabi ini “mendestroy” dan merontokkan hegemoni etnisitas (kesukuan, kabilah, kebangsaan), hegemoni klan (nasab, keturunan) dan hegemoni atas nama apapun yang sebelumnya diagung-agungkan.

Jika kita memakai pendekatan ilmu “tawarikhul mutun” (historitas konten hadis), maka dipastikan hadis atau pesan pamungkas Kanjeng Nabi ini tidak mungkin ada yang “menasakh” atau membatalkannya.

Di samping pesan di atas, Muadz bin Jabal, seorang “Duta Besar”nya Kanjeng Nabi yang pernah bertugas di Yaman ketika itu, memaparkan juga bahwa pesan terakhir Rasulullah yang diterima Muadz adalah soal moralitas. Informasi ini bisa dibaca di karya Imam Malik yaitu Al-Muwatta’ yang diexplain oleh Sang Prolific As-Suyuti dengan “Tanwirul Hawalik”-nya.

Moralitas, meski populer dengan istilah “Makarimal Akhlaq” sebenarnya dalam referensi Sembilan Kitab Hadis Utama (Bukhari, Muslim, Nasa’i, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Muwatta’ dan Darimi) lebih dikenal dengan diksi “Husnal Akhlaq” (حسن الأخلاق) dan “Salihal Akhlaq (صالح الأخلاق).

Para santri Futuhiyyah Mranggen sanad ngaji sembilan kitab hadis utama tersebut selalu melewati transmisi KH. Muslih Abdurrohman dan KH. Ahmad Muthohar Abdurrohman dari Syeikh Alamuddin Abul Faidh Mohammad Yasin bin Isa Al-Fadani Al-Makki.

Diksi “Makarimal Akhlaq” tidak dikenal dalam kamus hadis yang sangat populer bertitelkan “Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Hadis an-Nabawi” hasil kolaborasi A.J. Wensink dengan Ulama hadis Mohammad Fuad Abdul Baqi.

Makarimal Akhlaq hanya dikenal di kitab Sunan al-Baihaqi dan Musnad al-Bazar yang keduanya di luar kitab hadis standar.

Moralitas yang dipesankan oleh Kanjeng Nabi tidak hanya moral yang “baik” (husnal akhlaq) tapi juga moralitas yang “Saleh’ (Salihal akhlaq). Karena “baik” belum tentu “saleh”.

Kata “Salih” dalam philologi Arab berarti elok dan berdampak kemaslahatan untuk orang lain. “Salih” juga bisa bermakna kompatibel (sesuai) dengan nilai-nilai lokal dan berdampak positif untuk masyarakat.

So, pesan terakhir kanjeng Nabi adalah Upholding Islam as Religion of Equality and Emphasizing Islam as Religion of Ethics.

Lalu????? Njur Piye?????

Diplomatic Quarter Riyadh, 15 November 2020.

*) Agus Maftuh Abegebriel, Duta Besar RI di Arab Saudi.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

01 Mar 2021 13:30 WIB

Jatim Jadi Provinsi Terbaik Dalam Penanganan Konflik Sosial

Jawa Timur

Salah satu penilaianya, penangan Covid-19.

01 Mar 2021 13:28 WIB

Ada Kandungan Boraks, Pabrik Krupuk di Sidoarjo Digrebek Polisi

Kriminalitas

Polisi menggrebek pabrik krupuk di Sidoarjo.

01 Mar 2021 13:16 WIB

Hadiri Sertijab Er-Ji, Khofifah Pesan Sinergi Daerah dan Provinsi

Surabaya

Salah satu faktornya adalah proyek strategis nasional di Jatim.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...