POLEMIK: Ulil Abshar Abdalla ketika hendak berceramah di Korea Selatan. (foto: dok ngopibareng.id)
POLEMIK: Ulil Abshar Abdalla ketika hendak berceramah di Korea Selatan. (foto: dok ngopibareng.id)

Islam Nusantara dan "The Fallacy of Straw Man", Ini Catatan Gus Ulil

Ngopibareng.id Khazanah 06 August 2018 09:37 WIB
"Orang-orang yang tak sepakat dengan gagasan Islam Nusantara tampaknya punya definisi sendiri soal istilah itu, lalu definisi itu mereka 'gebuki' sendiri. Padahal definisi yang ada dalam pikiran mereka itu tidak ada dalam kenyataan riil."

Persoalan Islam Nusantara sesungguhnya bukanlah masalah baru karena subtansial Islam yang menyejarah di Indonesia ini sudah berlangsung begitu lama. Sayangnya, mereka yang tak suka dengan NU –- terutama setelah mengusung tema Islam Nusantara dalam Muktamar ke-33 di Jombang pad 2015 – menjadikan hal itu sasaran perolokan dan cacian.

Memang, ada yang menjadikan sisi positif sebagai pengkayaan diskurus hingga terjadi polemik. Sebagaimana kritik kalangan ilmuwan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang justru menekankan Islam Nusantara bergandengan dengan Islam Berkemajuan, sebagai Islam Moderat di Indonesia, agar mendunia. Menjadi: Islam Nusantara Berkemajuan.

Namun begitu lantaran setiap orang bisa bicara apa saja di media sosial (medsos), sehingga orang yang tak berilmu pun bisa bicara soal tersebut yang berakiat fatal: sesat pikir dan asal omong semata.

Dalam perkembangan polemik soal Islam Nusantara, ngopibareng.id kali ini menghadirkan pandangan intelektual pesantren Ulil Abshar-Abdalla. Berikut lengkapnya:

Sering kali kita terjebak pada kesalahan berpikir yang disebut dengan "the fallacy of straw man". Kita ciptakan bayangan tertentu di kepala kita, lalu kita gebuki bayangan itu. Padahal yang kita gebuki itu tak ada dalam dunia riil. Yang kita gebuki adalah bayangan dalam kepala kita sendiri.
Dalam berpikir, cara seperti ini adalah kesalahan fatal.

Salah satu contoh terbaik dari percakapan akhir-akhir ini yang bisa masuk dalam kategori "the fallacy of straw man" adalah debat soal Islam Nusantara.

Orang-orang yang tak sepakat dengan gagasan Islam Nusantara tampaknya punya definisi sendiri soal istilah itu, lalu definisi itu mereka "gebuki" sendiri. Padahal definisi yang ada dalam pikiran mereka itu tidak ada dalam kenyataan riil.

Misalnya, mereka membayangkan bahwa pendukung ide Islam Nusantara akan sembahyang dengan bahasa Jawa, Sunda, Mandar, Bugis, Batak, dll. Pendukung ide Islam Nusantara anti segala hal yang berbau Arab, termasuk nama-nama Arab. Dan seterusnya.

MEMEDI SAWAH Straw man adalah orangorangan yang biasa dipakai petani di sawah untuk menakutnakuti manuk emprit foto uba for ngopibarengid MEMEDI SAWAH: "Straw man" adalah orang-orangan yang biasa dipakai petani di sawah untuk menakut-nakuti "manuk emprit". (foto: uba for ngopibareng.id).
"Saya pun, jujur saja, juga kadang menderita penyakit ini dalam proses berpikir saya. Itulah sebabnya kita perlu diskusi, perlu mendengar 'yang lain', agar kita bisa melihat kesalahan dalam pikiran kita, dan mengoreksinya."

Lebih parah lagi kalau ada yang berpikiran bahwa Islam Nusantara adalah aliran atau "firqah" baru.

Sudah tentu, gambaran semacam ini keliru. Para penggagas Islam Nusantara tidak bermaksud demikian. Apa yang menjadi keberatan para penyangkal Islam Nusantara sebagian besar adalah bayangan yang mereka ciptakan di kepala mereka sendiri, lalu bayangan itulah yang mereka kritik, mereka "gebuki" rame-rame.

Kesalahan berpikir semacam ini bisa mengenai siapapun. Kaum liberal, konservatif, fundamentalis, teis, ateis, moderat, kiri, kanan, tengah, relijius, sekuler, dan, yaaa, pendukung Jokowi, pendukung Prabowo, pendukung Cak Imin, pendukung UAS (hahaha...) - - semuanya bisa terpapar penyakit "the fallacy of straw man" ini.

Saya pun, jujur saja, juga kadang menderita penyakit ini dalam proses berpikir saya. Itulah sebabnya kita perlu diskusi, perlu mendengar "yang lain", agar kita bisa melihat kesalahan dalam pikiran kita, dan mengoreksinya.

Seperti sabda Kanjeng Nabi, "al-muslimu mir'atu akhihi al-muslim", seorang muslim adalah cermin bagi saudaranya. Cermin di sini maksudnya: kita bisa bercermin dan melihat kelemahan kita dengan mendengar kritik dari orang lain.

Kalau dikatakan dalam hadis ini "al-muslim", bukan berarti ajaran dalam hadis tersebut berlaku bagi orang muslim saja. Ketika Kanjeng Nabi mengatakan "al-muslim" dalam konteks pembicaraan mengenai etika universal, maka yang dimaksudkan adalah siapa saja, baik muslim maupun non-muslim.[]


Keterangan gambar: "Straw man" adalah orang-orangan yang biasa dipakai petani di sawah untuk menakut-nakuti "manuk mprit". (adi)

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

15 Feb 2021 18:50 WIB

Kang Jalal Wafat, Ulil: Kehilangan Besar Dunia Intelektual Kita

Khazanah

Intelektual Muslim Ulil Abshar Abdalla nyatakan duka

25 Jan 2021 07:39 WIB

Hidupkan Etika Al-Hujurat bagi Umat Islam

Khazanah

Pesan penting KH Ahmad Mustofa Bisri dan Haedar Nashir

22 Jan 2021 03:08 WIB

Saat Peradaban Barat Mundur, Tak Otomatis Islam Jadi Alternatif

Khazanah

Prof Azyumardi Azra tentang perdamaian dunia

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...