DifabelitasHariyanto, Semangat Bertahan Hidup Ditengah Keterbatasan Fisiknya

14 Dec 2018 04:38 Human Interest

Tak kesempurnaan fisik bukan menjadikan hidup harus bergantung pada belas kasihan orang. Seperti pada diri Hariyanto warga Desa Karang, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan ini mengalami lumpuh kaki sejak kecil dirinya membuktikan mampu mandiri dengan membuka usaha potong rambut.

"Sejak kecil saya berusaha untuk tidak merepotkan orang lain. Tidak mau hidup dari belas kasih orang, " kata Hariyanto kepada ngopibareng.id, Kamis 13 Desember 2018.

Lahir dengan kondisi normal Hariyanto harus menerima kenyataan cacat kaki dan tidak bisa berjalan karena folio di usia 9 tahun saat kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah. Saat itu dirinya menderita sakit panas dan di bawa berobat ke puskesmas. Setelah di suntik justru kedua kakinya lumpuh dan tidak bisa berjalan. Lulus MI dirinya tidak lagi melanjutkan pendidikan ke SMP.

Pria berusia 32 tahun ini membuka usaha potong rambut di teras depan rumahnya. Tidak ada ruangan khusus untuk tempat kerja. Hanya benner bertuliskan Potong rambut Bi Hallin dipasang di teras rumah menunjukkan jika tempat tersebut merupakan tempat potong rambut.

Karena keterbatasan fisiknya yang tidak bisa berdiri, Hariyanto merancang khusus tempat salonnya. Orang yang hendak memotong rambutnya tidak duduk di atas kursi umumnya namun duduk diatas dingklik. Di sekitar dingklik itu juga di pasang bangku panjang yang disusun letter U. Dibangku panjang itu menjsdi tempat duduk Hariyanto saat memotong rambut.disusun sedemikian rupa untuk memudahkannya bekerja.

"Kalau mau memotong rambut dari belakang, samping kiri, kanan tinggal merangkak ke bangku saja," ujar pria yang memelihara pukuhan ayam Bangkok ini.

Walau tempatnya serba terbatas, Hariyanto bersyukur memiliki banyak pelanggan.Tidak hanya dari sekitar Desa Karang namun juga beberapa desa tetangga. Dalam sehari rata-rata ada dua hingga tiga orang yang datang memotong rambut.

Untuk potong rambut tarifnya hanya Rp 10 ribu. Yang membuat pelanggan puas, Hariyanto bisa memenuhi permintaan model rambut sesuai dengan keinginan pelanggan.

"Biasanya pelanggan minta rambutnya di buat model tertentu dengan menunjukkan foto di hand phone. Sebisa mungkin saya memuaskan selera pelanggan," ungkapnya lagi.

Dengan penghasilan Rp30 ribu-Rp40 ribu perhari Hariyanto hidup bersama ibunya yang berusia 70 tahun dan seorang keponakan. "Dicukup-cukupkan. Disyukuri saja," ucapnya.

Dalam kondisi serba terbatas Hariyanto pantang untuk meminta pada orang lain. Dirinya justru merasa sedih jika melihat penyandang difabilitas yang memanfaatkan keterbatasannya dengan cara mengemis.

"Saya miris jika melihat ada penyandang difabilitas yang menjadi pengemis. Mereka tidak mau berusaha. Padahal selain memberikan kekurangan, Allah juga memberikan kelebihan pada setiap umatnya," papar anak nomer 8 dari 10 bersaudara ini.

Sebagai kaum 'tidak sempurna' Hariyanto mengaku sudah kenyang mendapatkan perlakukan menyakitkan dari masyarakat. Pada awalnya Hariyanto merasakan ketidak Adilan Allah yang menciptakan dirinya cacat. Namun perjalanan waktu membuatnya kebal dan sadar jika Allah telah memberikan karunia terbaik baginya.

Kesadaran itu diperolehnya saat nyantri di Pondok Pesantren (Ponpes) Tanfid Al Furqon di Desa Karang yang diasuh KH Asnawi Abdurrahman. "Kalau saya lahir sempurna mungkin saya menjadi orang nakal atau bejad. Tapi Allah justru memberikan karunia dengan kekurangan sehingga bisa selalu dekat dengan-Nya," papar Hariyanto dengan mata berkaca-kaca.

Dirinya bersyukur selepas dari Ponpes masih bisa membantu mengajar mengaji di Ponpes. Dan tetap bisa menimba ilmu agama dari ulama yang dianggap sebagai pencerah dalam kehidupannya.

Saat ini yang menjadi impian Hariyanto adalah memiliki bangunan tempat potong rambut yang lebih layak. Sejak lima tahun menekuni profesi tukang rambut dirinya sudah lebih dihargai masyarakat karena telah menunjukan jika kaum difabilitas pun bisa bekerja dan mandiri.

 

"Entah kapan Allah memberi, saya mengimpikan memiliki tempat potong rambut yang layak. Saya hanya bisa berdoa memohon pertolongan Allah," tandas Hariyanto penuh kepasrahan. (tok)


Reporter/Penulis : Totok Martono
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini