Dampak ledakan dahsyat di Beirut, Lebanon. Sejumlah warga berlarian menyelamatkan diri. (Foto: twitter @qyleeeei)

Ini Fakta Ledakan Dahsyat di Beirut Lebanon

05 Aug 2020 10:00

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Ledakan yang terjadi di Beirut, Selasa, 4 Agustus 2020 menyebabkan sekitar 78 orang tewas dan lebih dari 4.000 lainnya mengalami luka-luka.

Ledakan ini menyebabkan gelombang kejut yang besar mirip awan jamur hingga merusak bangunan dan pelabuhan. Masih belum diketahui pasti apa penyebab dari ledakan yang meluluh-lantakkan kota Beirut tersebut.

Namun, menurut beberapa sumber dikatakan jika ledakan dipicu karena adanya bahan peledak yang sengaja disimpan di dalam gudang. Berikut fakta-fakta ledakan dahsyat yang terjadi di Beirut, Lebanon dilansir dari berbagai sumber:

1. Ledakan dari 2.750 ton Amonium Nitrat

Dilansir dari laman BBC News, para pejabat tinggi di Lebanon menuding jika ledakan disebabkan karena bahan peledak yang sengaja disimpan di dalam gudang.

Dalam keterangan Perdana Menteri Hassan Diab mengatakan, setidaknya ada sebanyak 2.750 ton amonium nitrat yakni bahan untuk pupuk dan peledak yang disimpan di dalam gudang selama enam tahun.

"Saya tidak akan diam sampai kita menemukan orang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi, sehingga kita dapat meminta pertanggungjawaban dan menerapkan hukuman paling berat," kata perdana menteri dalam akun Twitter resminya dikutip dari BBC News.

Meski begitu, belum diketahui pasti penyebab dari ledakan dahsyat tersebut. Beberapa laporan menyebutkan jika ledakan mungkin saja dipicu oleh insiden di gudang pabrik kembang api. Laporan lain menyebutkan insiden terjadi di gudang yang menyimpan bahan-bahan yang sangat mudah meledak.

2. Terjadi Dua Kali Ledakan

Menurut informasi yang berhasil dihimpun, ledakan terjadi sebanyak dua kali. Ledakan pertama menyebabkan kepulan asap membumbung tinggi di langit. Setelah itu, muncul ledakan kedua yang lebih dahsyat yang menghasilkan asap berwarna merah.

3. Ledakan terasa hingga radius 200 km

Dikutip laman CNN, ledakan menimbulkan gelombang seismik yang setara dengan gempa berkekuatan magnitudo 3,3.

Dalam video yang banyak beredar, menunjukkan sebuah bangunan bertingkat tinggi meledak, mengirimkan gelombang kejut yang luas di seluruh kota. Terdengar dan terasa sejauh Siprus, lebih dari 200 km (180 mil) jauhnya.

4. Dampak Kerusakan

Akibat ledakan kondisi Beirut tampak porak poranda. Banyak bangunan dan gedung-gedung hancur, puing-puing berserakan di jalanan, dan banyak asap mengepung kota.

Rumah Sakit di sekitar kota juga mengaku kewalahan menangani korban akibat ledakan tersebut. Media lokal juga melaporkan satu rumah sakit telah menyatakan tidak dapat mengambil pasien lagi dan meminta sumbangan darah.

5. Diduga Picu Gas Beracun

Kedutaan Besar AS di Beirut menyebut ledakan tersebut memicu gas beracun. Dubes AS mendesak mereka yang berada di area ledakan untuk tinggal di dalam ruangan dan menggunakan masker jika ada. Pihak kedutaan juga sudah mengeluarkan security alert atau peringatan keamanan terkait ledakan di Beirut Lebanon itu.

"Ada laporan gas beracun yang lepas akibat ledakan itu, sehingga semua di daerah itu harus tinggal di dalam ruangan dan memakai masker jika ada," tulis Kedubes AS seperti dikutip dari CNN, Rabu, 5 Agustus 2020.

6. Pelaku Ledakan

Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab mengatakan pelaku harus bertanggung jawab atas ledakan di Beirut, Lebanon. Ia menyebut pabrik sumber ledakan sebagai tempat yang berbahaya.

"Apa yang terjadi hari ini tidak akan berlalu tanpa akuntabilitas, mereka yang bertanggung jawab pada bencana ini akan membayar harganya," katanya.

Diketahui, Israel dan Lebanon sebelumnya memang terlibat beberapa konflik. Namun, untuk kejadian ini Israel membantah terlibat dalam insiden yang melukai ratusan orang tersebut di Beirut, Lebanon.

"Israel membantah ada hubungan dengan ledakan yang mengguncang Lebanon pada Selasa, 4 Agustus 2020," demikian dikutip dari laman english.alarabiya.net.

7. Sebagai Tragedi besar Nasional

Gerakan Hezbollah Lebanon menyerukan kesatuan nasional menyusul ledakan yang disebut tragedi besar nasional. Tak hanya itu, pada Pertemuan Dewan Pertahanan Nasional di Libanon, Presiden Michael Aoun juga merekomendasikan Pemerintah menetapkan Beirut dalam kondisi darurat dua minggu.

Sementara, Perdana Menteri Libanon Hassan Diab mengumumkan hari Rabu, 5 Agustus 2020 sebagai hari berkabung Nasional.

8. Salah Satu WNI Terluka

Dikabarkan salah satu Warga Negara Indonesia (WNI) mengalami luka akibat ledakan tersebut. Korban merupakan pekerja migran. Setidaknya ada sekitar 1.447 WNI yang tinggal di Libanon.

"Ada satu WNI yang mengalami luka-luka (inisial NNE). Staf KBRI sudah berkomunikasi melalui video call dengan yang bersangkutan. Kondisinya stabil, bisa bicara dan berjalan. Yang bersangkutan sudah diobati oleh dokter rumah sakit dan sudah kembali ke apartmennya di Beirut," kata Juru bicara kementerian luar negeri Teuku Faizasyah dikutip dari BBC News.