Ini Dia, Kuliner Ibu Kota Baru Kita

28 Sep 2019 13:28 Ajar Edi
Ujar Ajar

Rencana pemindahan Ibu Kota Republik ke Provinsi Kalimantan Timur, terendam dengan ribuan demonstrasi mahasiswa pada akhir September ini. Juga tambahan gebrakan dari siswa STM. Banyak dukungan bagi mereka.

Sambil menunggu keputusan Presiden Joko Widodo, sejenak, kita kembali ke urusan ibu kota baru. Tak berbincang yang muluk. Kita cari tahu, apa kuliner yang enak di sana.

Ibu Kota baru akan berada di Kabupaten Panajam Paser Utara (PPU) dan Kutai Kartanegara (Kukar) Kaltim. Memang, di kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) milik taipan Sukanto Tanoto. Gubernur Kaltim Isran Noor menyebut Kecamatan Sepaku di PPU dan Samboja di Kukar sebagai lokasi persisnya.

Secara lebih spesifik, ada empat kelurahan yang diduga kuat jadi menjadi titik lokasi itu. Antaranya, Kelurahan Riko, Pemaluan, Bumi Harapan, dan Bukit Raya.

Mayoritas di sana adalah transmigran dari Jawa. Jadi, kalau Anda melawat ke sana, dan mahir Bahasa Jawa, rasanya seperti pulang kampung. Tapi banyak juga perantau asal Bugis.  Kalau di kota besarnya, seperti Balikpapan, bahkan akan gampang ketemu ekspatriat.

Maklum, karena kaya potensi minyak dan gas bumi, dulu banyak perusahaan multinasional yang beroperasi. Baik sebagai operator utama atau perusahaan pendukung. Namun, dengan kebijakan pemberian pengelolaan ke perusahaan nasional, para ekspatriat itu, jumlahnya makin berkurang.

Kita mulai dari Balikpapan. Kota terbesar di Kaltim ini, ada di tengah antara PPU dan Kukar. Dia punya diversity yang mumpuni. Tak ada klaim orang lokal. Karena semuanya pendatang.

Pada pagi hari, di sini, Anda bisa menemui banyak kedai. Mereka menjual kopi, roti bakar, Soto Makasar, hingga nasi kuning. Ada juga yang berdagang Soto Banjar, lontong sayur, bakmi, hingga bubur ayam.

Yang cukup terkenal adalah Depot Miki, di Jalan Jend Sudirman Balikpapan. Atau bisa ke Kedai Nam Min. Dia yang punya beberapa cabang. Masih ada Depot Cendrawasih.

Namun, saya punya satu langganan di Jalan Ahmad Yani. Kedainya tidak ada namanya. Dia numpang dagang pada keturunan Tionghua yang menjual minuman. Tapi ramai pembelinya.

Nasi kuningnya pulen. Lembut. Apalagi saat masih hangat. Hmmm, luar biasa. Bumbunya pas di mulut. Ini mengapa saya dulu rela tiap pagi mampir ke sini.

Nasinya ditaruh di baskom gede. Tidak pakai magic jar. Karena nasinya sudah enak, lauk lainnya hanya pemanis saja. Karenanya, kelezatan nasinya terus saja tengiang di kepala. Ini yang nyandu.

Lazimnya, nasi kuning dibalut ikan haruan. Alias Ikan gabus. Namun, karena mulai jarang, penjual mengantinya dengan ikan tongkol, daging, telor, atau ayam bumbu.

Namun, langganan saya lebih suka jualan ikan tenggiri atau ikan tongkol. “Balikpapan di pinggir laut, banyak ikan segar,” jelasnya suatu waktu.

Selain itu, masih ditambah sepotong daging, dan telur. Biasanya saya hanya makan nasi setengah saja. Tapi lauknya komplit.

Pernah, karena lama tak menikmati nasi kuning, saya memilih satu porsi nasi. Ya gara-gara nasinya yang pulennya ngga ketulungan itu. Makan pagi di hotel, jelas selalu saya tinggalkan.

Banyak karbohidrat? Iya. Tapi selepas subuh sebelumnya, saya sudah melahap 10 km jalan raya Balikpapan. Lari di pinggiran Teluk Balikpapan.

Agar impas. Yang masuk dan yang dibakar, seimbang. Karena, mau bagaimana lagi, memang nasinya enaknya nya kebangetan sih.

Dulu, saya tinggal hampir lima tahun di Balikpapan. Jadi bujang lokal. Jadi harus menjelajah ke banyak tempat untuk makan.

Untuk siang hari, saya biasa makan Soto Makasar dan ikan bakar. Untuk olahan dari Makasar, saya punya langganan Kedai Puang Johny. Bagi saya, racikan bumbunya luar biasa.

“Racikan bumbunya, saya ciptakan sendiri,” jawab pemilik dan chef kedai Sop Konro dan Sop Saudara di Balikpapan ini.

Kalau pas kalap, saya bisa memesan sop konro, paru goreng, ditambah satu butir telor asin. Di sini, nasi di sediakan terpisah satu bakul kecil.

Daging iganya lunak dan lembut. Kaldunya sempurna. Enaaak banget. Beneran. Paru gorengnya juga lembut, sedikit manis, mirip dibacem.

Telur asinnya, juga beda. Masir, jadi saat dibelah, warnanya merah. Ada lelehan minyaknya. Biasanya, telur ini hasil dari bebek yang dirawat liarkan. Makannya di sawah.

Puang Johny ini berdagang sejak 1978. Sebelumnya buka kedai di Pasar Balikpapan. Lalu dia pindah di gang kecil, sebelah Bank BCA Balikpapan. Hanya bisa satu motor yang lewat.

“Sejak 1984, pindah di sini,” ungkapnya. Gang ini sempit banget. Saking sempitnya, saat kursi penuh, calon pembeli berdiri. Bersandar di tembok.

Tiap hari, lebih dari 60 kg konro (iga) tandas. Untuk daging dan paru, habis 40 kg. Bukanya dari jam 09.00, lantas sudah tutup jam 14.00.

“Tidak ada cabang,” jelasnya sambil tersenyum. Karena ramai dan sempit, orang antre sambil berdiri. Sambil tenggak-tenggok. Mencari pelanggan yang akan selesai makan.

Karena ramainya, bila musim kampanye Pemilu banyak caleg yang pasang stiker hingga baliho besar. Semua partai ada di sini. Atau, saat Pilkada semua boleh pasang poster.

Nah, kalau tak suka daging, pilihan ikan tak kurang. Banyak tempat yang enak. Mau level restauran, rumah makan, atau kaki lima.

Kalau restoran berkelas, ada The Ocean, di pinggiran Pantai Balikpapan. Kalau rumah makan, ada Rumah Makan Torani. Kalau ingin kaki lima, silahkan melawat ke Pasar Kebun Sayur.

Pasar ini terkenal dengan batu mulianya. Di belakangnya, banyak berjajar warung ikan bakar. Tandanya sederhana, asap mengepul tak pernah henti. Salah satu yang terkenal, Warung Haur Gading.

Rata-rata di sini menjual udang galah, ikan patin, ikan kakap, hingga cumi. Semuanya dibakar. Kalau ikan patin, biasanya dipepes, dibungkus daun pisang.

Kalau jalan darat dari Balikpapan ke arah Samarinda lanjut ke Bontang, ada banyak warna kuliner di sini. Kalau di jalan Samarinda-Bontang, yang enak adalah Burung Punai goreng.

Besarnya seukuran burung dara. Tapi, ini burung liar. Biasanya ditangkap pakai jaring. Ada satu yang enak, namanya Warung Punai.

Olahan burungnya gurih, renyah. Pemiliknya asli dari Jawa Timur, anaknya masih kuliah di Malang.

Dia sudah lebih dari 12 tahun berdagang. Hanya burung punai goreng saja.

Banyak yang bungkus, lantas tinggal mengoreng di rumah. “Kalau dibawa ke Jakarta sudah biasa. Pernah dibawa ke Bangkok,” jelas Bu Ani, sang pemilik.

Kalau di jalan poros Balikpapan ke Samarinda, kita akan bertemu Hutan Raya Bukit Suharto. Dulu, sempat digadang-gadang jadi salah satu alternatif ibu kota baru.

Sebenarnya di Hutan Raya Bukit Suharto ini, sudah ada penguasanya. Para pemilik konsensi tambang batu bara. Mereka tinggal di Jakarta.

Kalau penguasa kulinernya, ada Rumah Makan Tahu Sumedang. Jadi, kalau lewat jalan ini, semua pasti harus sowan ke sini. Mampir untuk bertamu.

Makan tahu goreng dengan sambal kecap. Sambil menyeruput teh manis kental hangat. Cocok buat melepas penat. Karena, lokasinya pas di tengah Balikpapan-Samarinda.

Bisa jadi, kalau jalan tol sudah beroperasi, dia tergusur alami. Konon, generasi awal tahu sumedang ini, para kaum transmigran dari tlatah Pasundan. Datang pada awal program pindah desa.

Diboyong saat program transmigrasi daripada Presiden Suharto. Karena keahliannya bukan bertani, tapi bikin tahu, jadilah bisnis ini. Lalu berkembang pesat.

Buka di beberapa tempat. Termasuk juga ada satu di jalan poros Samarinda-Bontang. Besar dan kuat. Karena tak ada saingan.

Hebatnya, merasa kuat, rumah makan ini juga menusuk ke jantung pertahanan pertahuan. Buka cabang di Puncak Pas Bogor dan di jalan utama Cianjur-Bandung. Bisa dibilang nekad.

Tapi, apapun itu, terbukti dialah penguasa Hutan Bukit Suharto sebenarnya. Bisa jadi, ini alasan lain kenapa Pak Jokowi tak memilih Hutan Taman Bukit Suharto. Karena dia harus mengajak orang Sunda.

Pasti hal itu sangat berat. Maklum, karena hasil Pilpres lalu, Pak Jokowi kalah telak di Jawa Barat. Akhirnya dia memilih di HTI PT ITCI, di antara Kecamatan Penajam dan Kecamatan Sepaku.

Di sini, mayoritas penduduknya transmigran dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Jangan lupa, Pak Jokowi menyapu bersih perolehan suara di dua provinsi itu. Jadi, pas sepertinya.

Ajar Edi, kolomnis “Ujar Ajar” di ngopibareng.id

Penulis : Ajar Edi
Editor : Yasmin Fitrida


Bagikan artikel ini