Ibu Kota Jawa Barat Pindah dari Bandung, 3 Lokasi yang Diincar

30 Aug 2019 06:36 Nasional

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menetapkan lokasi ibu kota Republik Indonesia yang baru di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan Kutai Kartanegara di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Jika tak ada aral melintang, ibu kota baru rencananya dibangun pada akhir 2020 dan diharapkan selesai pada akhir 2024.

Tak hanya ibu kota negara, ibu kota Provinsi Jawa Barat juga tengah dikaji oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, untuk dipindah dari Bandung.

Gubernur yang akrab disapa Emil ini mengatakan, wacana itu muncul sewaktu ia menggelar rapat pembahasan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jabar bersama Pansus VII awal pekan lalu.

"RTRW Jabar sudah disahkan untuk sampai 2029. Di dalamnya Rebana (Cirebon-Patimban-Kertajati) sudah masuk kan, penataan jalur transportasi sudah masuk, termasuk persetujuan wacana pusat pemerintahan untuk dikaji dulu di beberapa lokasi," ujar Emil di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kamis 29 Agustus 2019.

Pemindahan Ibu Kota Jawa Barat, menurut Emil diperlukan lantaran secara fisik Kota Bandung sudah tak lagi mendukung sebagai pusat pemerintahan provinsi.

"Karena pada dasarnya, secara fisik Kota Bandung sama seperti Jakarta, sudah tidak cocok lagi melayani pusat pemerintah," ujarnya.

Emil menjelaskan, penentuan lokasi baru ibu kota Jabar terbuka untuk seluruh wilayah. Setidaknya sudah ada tiga lokasi yang diusulkan, yakni di Tegalluar di Kabupaten Bandung, Walini di Kabupaten Bandung Barat, serta di sekitar wilayah Rebana (Cirebon, Patimban, Majalengka).

Tegalluar dan Walini sebelumnya masuk dalam kawasan pengembangan jalur kereta cepat Bandung-Jakarta. Sementara wilayah Rebana (Cirebon, Patimban, Majalengka) saat ini merupakan wilayah pengembangan ekonomi baru Jabar.

Menurut Emil, kajian tentang pemindahan ibu kota Provinsi Jabar ini bisa dilakukan dalam enam bulan ke depan.

"Semua kemungkinan terkait perpindahan ibu kota Provinsi Jabar butuh kajian yang mendalam. Pihak kami akan menilai lokasi yang minim risiko, aksesibilitas, tingkat ekonomi, ketersediaan air dan lain-lain," terang Emil.

Penulis : Yasmin Fitrida


Bagikan artikel ini