Hujan mengguyur Pelalawan, Riau. Usai hujan reda, warga menemukan banyak es di pekarangan rumah. (Foto: YouTube)
Hujan mengguyur Pelalawan, Riau. Usai hujan reda, warga menemukan banyak es di pekarangan rumah. (Foto: YouTube)

Hujan Es di Tengah Kabut Asap Pelalawan

Ngopibareng.id Warta Bumi 25 September 2019 23:00 WIB

Hujan sempat mengguyur sejumlah wilayah di Riau, termasuk Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Pelalawan. Anehnya, saat hujan di tengah kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terdengar suaranya berisik ketika jatuh di atap rumah warga.

Siapa sangka, saat hujan reda, warga menemukan butiran berbentuk kristal lunak. Beberapa warga sempat mengabadikan dan menyebarkan videonya ke media sosial dan aplikasi chatting.

"Ini adalah hujan es yang turun di Desa Pulau Muda, Teluk Meranti," ucap warga yang merekam butiran-butiran kristal lunak itu.

Si perekam mengaku belum pernah melihat fenomena unik ini. Dia pun merasa heran mengapa hujan yang sudah lama tidak turun justru membawa butiran es.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Pekanbaru menyebut hujan es di Pelalawan sebagai fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi.

"Hujan es biasanya turun disertai kilat ataupun petir serta angin kencang. Biasanya terjadi saat musim pancaroba atau peralihan dari kemarau ke hujan serta sebaliknya," tutur analis BMKG Yudistira.

Sebelum hujan es turun, biasanya udara pada malam hingga pagi hari terasa panas dan gerah akibat radiasi matahari cukup kuat disertai kelembapan udara cukup tinggi.

"Muncul cumulus (awan putih berlapis lapis). Di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol," tutur Yudistira.

Tahap berikutnya, awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu kehitaman, yang dikenal dengan awan comulonimbus.

"Akan terasa sentuhan udara dingin di sekitar tempat kita berdiri. Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras tiba-tiba, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari lokasi," terang Yudhistira.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi menggelontorkan anggaran operasional pemadaman karhutla senilai Rp 1,3 miliar untuk delapan kabupaten.

"Kita bagi ke depalan kabupaten dengan besaran kisaran Rp 100-200 juta sesuai dengan kondisi daerahnya," ujar Kepala BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni.

Penulis : Yasmin Fitrida

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...