Honorer Lulusan Ponpes Tajir dari Alpukat, Bagaimana Caranya?

07 Sep 2019 05:25 Hortipreneur

Rumah besar itu belum selesai. Besi beton tampak mencungut ke atas dan ke samping. Petunjuk kalau pembangunannya masih akan berlanjut. Semacam rumah tumbuh.

Itulah tempat tinggal Agus Riyadi. Pemilik Pusat Bibit dan Buah Alpukat (Pusbikat) . Di desa Barandukun, Baran, Ambarawa, Jawa Tengah.

Padahal, rumah yang sekaligus menjadi toko itu tidak kecil. Lebar 8 meter, panjang dua kali lipatnya. Dua lantai. Atas dan bawah.

Di samping kiri dan belakang rumah terhampar ribuan bibit apukat. Mulai yang masih kecil sampai usia 3 tahun. Di atas lahan 1 hektar.

Di depan rumahnya terparkir mobil pajero warna hitam. Tahun polisi masih baru. Ada juga mobil pick up. Tampak juga motor honda ber-cc besar.

Agus selalu mengaku sebagai guru honorer. Pengajar tidak tetap. Yang nasibnya banyak yang terlunta. Tak jelas gajinya. Tak jelas kapan diangkat jadi ASN (Aparat Sipil Negara).

Tapi, sebetulnya guru honorer hanya sebagai bagian dari pengabdiannya. Tidak seperti guru honorer lainnya. Agus tak bermimpi jadi ASN. Seperti yang menjadi impian banyak honorer lainnya.

Mengapa?

Ya karena ia punya kesibukan yang lain. Mengembangkan Pusbikat. Dengan Pusbikat, ia bisa menghidupi istri dan dua anaknya yang masih kecil dengan berkecukupan. Masih bermanfaat ke petani alpukat lainnya.

Alumnus Ponpes Gontor ini mengaku sejak kecil sudah akrab dengan dunia holtikultura. Khususnya alpukat. Sejak SMP ia sudah membantu orang tuanya menggeluti dunianya sekarang. Bapaknya juga pembibit dan pekebun alpokat.

Nah, setelah lulus, ia langsung mendok di Gontor. Di tahun 2002. Sepulang dari belajar di pondok pesantren, ia sempat melamar menjadi guru Taman Kanak-Kanak. 

''Waktu itu banyak yang bingung. Biasanya pengajar TK kan perempuan. Tapi saya melamar menjadi guru TK karena ingin mengamalkan ilmu saya dari Gontor. Yang penting mengabdi,'' katanya.

Seperti kebanyakan lulusan Gontor, Agus juga mengembangkan bakat dagangnya. Ia sempat berdagang durian. Tapi tak bertahan lama. Bangkrut.

Setelah itu, ia berganti haluan. Mulai menekuni apa yang pernah dilakukan ayahnya. Mengembangkan pembibitan dan perkebunan alpukat. Tentu dengan berbagai inovasi yang diperoleh secara otodidak.

Ia pun memulai dengan menyewa lahan di sekitar rumahnya. Berbagai jenis varietas alpukat ia kembangkan. Mulai dari jenis Pangeran, Wina, Si Cantik, Muria, jambon, dan kendil. Tentu, beberapa nama jenis alpukat itu hasil kreatifitasnya.

Bibit alpukat yang sudah dicangkok
Bibit alpukat yang sudah dicangkok.

''Saya beri nama alpukat itu dari daerahnya. Ini semua alpukat lokal. Saya namakan alpukat Wina karena saya temukan dan tumbuh di dekat Hotel Wina, Bandungan,'' katanya.

Alpukat hasil pembibitan dan budi daya Agus banyak yang berukuran jumbo. Alpukat Pangeran, misalnya, satu buah bisa berbobot satu kilogram lebih. Bentuknya lonjong memanjang dan besar. Jenis lainnya ada yang bundar.

Untuk menjadikan jenis varietas itu, Agus melakukan pencangkokan. Misalnya, bibit yang disemai dari isi alpukat terus dicangkok dengan varietas yang diinginkan. Apakah bibit Pangeran atau Wina.

Di tempat pembibitannya, ia menyiapkan bibit usia kecil sampai dengan 3 tahun. Mulai dari harga Rp 50 ribu sampai dengan Rp 1,5 juta per batang. Untuk yang disebut terakhir harga bibit usia 3 tahun dan siap panen.

Ia tidak hanya mengembangkan pembibitan. Tapi juga perkebunan. Dengan melibatkan para petani di sekitarnya.

Ia galang kerja sama dengan petani lain dengan menggunakan skema Perkebunan Inti Rakyat. Ia yang memasok bibit, sedang petani menyediakan lahan perkebunan. 

Dengan skema bagi hasil. Petani pemilik kebun mendapat bagian 40 persen, Pusbikat 40 persen. Sedangkan 20 persen untuk koordinator petani. 

''Saat ini, kami punya 6000 pohon hasil kerjasama dengan para petani. Setiap koordinator mengelola 150 pohon,'' kata Agus yang juga masih aktif menjadi pengurus alumni Ponpes Gontor ini.

Dengan prinsip memberi manfaat untuk ummat, Pusbikat berkembang tidak hanya menjadi pusat pembibitan dan perkebunan alpukat. Ia juga menjadi pusat pemberdayaan masyarakat petani.

Ia tak bisa menyebut omset atau hasil penjualannya per tahun. ''Nggak pernah saya hitung. Saya hanya ukur dari keuntungan per tahun. Tahun kemarin, kami mengantongi untung Rp 700 juta,'' katanya yakin.

Agus tak hanya mencangkok bibit alpukat kecil. Tapi juga pohon yang sudah berumur puluhan tahun. Satu pohon bisa 20 batang cangkokan baru alpokat jenis unggul.

Hasilnya?

Setelah batang cangkokan baru berusia 3 tahun, satu pohon bisa menghasilkan 400 kilogram alpokat dalam sekali musim panen. Mulai dari bunga sampai siap panen butuh 6 bulan.

Saya sempat menyaksikan pohon besar yang dicangkok alpokat jenis Pangeran. Sedang dalam keadaan buah. Namun, alpokatnya belum besar-besar. Di kebun petani tak jauh dari rumah Agus.

''Harga alpukat dari hasil perkebunan kita paling rendah 13 ribu per kilogram. Rekor tertinggi pernah mencapai  Rp 40 ribu per kilogram. Itu terjadi di musim panas,'' tambahnya.

Pria energik itu tak hanya menyediakan bibit dan mengembangkan kebun petani lainnya. Ia juga memastikan pemasaran hasil perkebunanya. Ia yang menjual alpukat ke pasar.

''Selama ini masih terserap pasar lokal. Sebagian besar dikirim ke Jakarta dan Bogor. Ada juga permintaan dari luar Jawa. Belum sampai bisa melayani ekspor,'' tambah Agus bersemangat.

Agus hanya salah satu dari banyak anak muda kreatif yang bisa diandalkan. Di usianya yang baru 37 tahun, ia telah memetik hasil ketekunan dan kreatifitasnya. 

Tentu juga keikhlasannya berbuat untuk memberi manfaat kepada yang lainnya.