Kisah Haru Persaudaraan Dahlan Iskan dan Robert Lay (2)Hobi yang tak Pernah Bertemu, Manajer Super Keras

25 Feb 2018 12:28

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Sejak saya muntah darah pada tahun 2004 itu, praktis Robert Lai-lah yang menjadi ‘’manajer kesehatan’’ saya.

Selama dua tahun berikutnya saya mondar-mandir ke Singapura. Berarti Robert terus memanajeri keperluan saya.

Dokter yang dilibatkan pun kian banyak. Dari berbagai bidang. Termasuk ahli kanker. Tapi saya tetap kerja keras di perusahaan.

Sakit liver memang tidak membuat terlihat menderita. Dari luar akan terlihat sehat-sehat saja. Badan saya bengkak pun dikira saya lagi gemuk.

Apalagi sejak dipastikan tidak ada jalan lain kecuali dua kemungkinan ini:

1.Melakukan transplan dengan konsekwensi sulit mendapatkan donor hati dan transplannya gagal.

2.Tidak transplan sambil menunggu keajaiban karena secara medis umur saya tinggal enam bulan. Kanker hati saya sudah stadium akhir.

Saya putuskan untuk pilih transplan. Robert dengan jaringannya yang luas mencari di mana saya harus transplan. Pilihan utamanya di Amerika atau Australia. Tapi di negara itu sulit sekali untuk mengapat donor hati. Harus antre. Bisa 5 tahun. Padahal umur saya tinggal 6 bulan.

 

Singapura waktu itu belum mampu melakukan transplan sehingga tidak masuk dalam pilihan. Tentu Robert juga mempertimbangkan Tiongkok.

Banyak kota di Tiongkok yang dikenal mampu melakukan transplan. Guangzhou, Beijing, Shanghai, dan banyak lagi. Waktu itu kota Tianjin tidak pernah masuk pilihan. Tidak terkenal kemampuannya di bidang transplan.

Tapi, teman Robert yang asal Tianjin minta agar saya ditransplan di Tianjin. Robert memang punya teman di hampir semua daerah di Tiongkok. Di samping bisa berbahasa Mandarin Robert bisa juga berbahasa daerah seperti Kanton, Hokkian, Gek dan Tiuchu.

Akhirnya Robert pun keliling Tiongkok. Melihat kondisi rumah sakit di berbagai kota tersebut. Termasuk ke Tianjin yang letaknya sekitar 125 km dari Beijing.

Di Tianjin Robert terperangah. Jauh dari yang dia bayangkan. Ada satu blok baru di rumah sakit itu. Bangunannya berlantai 13. Masih baru. Bersih. Modern.

Blok itu dinamakan transplant center. Berarti ada perhatian khusus terhadap transplan di rumah sakit itu. Robert menemui pimpinannya. Pembawaan Robert yang humble, menghargai lawan bicara dan percaya dirinya yang tinggi membuat orang simpati padanya.

Pertanyaan Robert terakhir dan terpenting ke pimpinan rumah sakit itu adalah: sudah berapa kalikah dilakukan transplan hati di RS itu dan berapa persenkah tingkat kesuksesannya?

Robert kembali terkesima. RS Tianjin itu sudah melakukan lebih dari 5,000 kali transplan hati dalam waktu lima tahun terakhir. Tingkat suksesnya boleh dibilang 100 persen. Tapi pimpinan rumah sakit tersebut cepat-cepat mengoreksinya. “99 persen,” katanya.

“Yang satu persen lagi ditentukan oleh yang di sana,” tambahnya sambil menunjukkan jari ke arah langit.
Robert tersenyum dalam hati. Orang komunis ternyata juga percaya pada langit. Begitulah. Robert menceritakan semua hasil kunjungannya itu kepada saya. Termasuk mampu menyelipkan dialog-dialog lucunya.

Sejak itu kami mantab melakukan transplan di Tianjin. Robert pun menyiapkan semua hal. Termasuk memutuskan untuk membeli mobil, merekrut sopir, dan menyewa apartemen jangka panjang. Istri saya, anak-anak saya dan Robert sendiri bisa tinggal di apartemen itu.

Kami sudah siap mental untuk tinggal lama di Tianjin. Istri saya bisa memasak atau belanja ke pasar. Siap untuk berbulan-bulan menunggu donor dan berbulan-bulan berikutnya setelah operasi.

Robertlah yang menjadi pengendali. Termasuk mengawasi apa saja yang boleh dan tidak boleh dimakan. Mengontrol obat dan memperdebatkannya dengan dokter.

Dalam hal kedisiplinan hidup Robert Lai adalah juaranya. Di mata saya. Termasuk berani menegur, mencegah dan kalau perlu membuang makanan yang dilihatnya tidak baik untuk saya. Istri saya pun tunduk ampun kepadanya.

Apalagi soal kebersihan. Luar biasa ketatnya. Berbagai jenis tisue harus tersedia. Di mobil, di saku dan di apartemen. Gelas, piring, sendok harus dia yang mencuci. Itu pun setiap akan menggunakannya harus dicuci lagi dengan air panas. Setiap kali makan di restoran Robert selalu memesan air panas satu teko.

Untuk mencuci piring dan gelas yang disajikan.

Saya sering bertanya dalam hati: dari mana datangnya sikap disiplin tinggi itu. Dari kebiasaan yang begitu lama jadi warga negara Singapura? Atau dari pendidikan hukumnya di Inggris? Atau karena dia sendiri mengidap sakit gula yang hanya bisa diatasi dengan disiplin tinggi dalam mengatur makanan?

Suatu saat saya akan menanyakannya. Hanya saja untuk kehati-hatiannya itu dia sering mengatakan kepada saya: “trust is good but control is better”.

Percaya itu baik tapi mengontrolnya akan lebih baik.
Prinsip tersebut tentu bisa dipakai di semua bidang kehidupan. Oleh siapa saja. Terlalu banyak bukan orang tertipu karena kurang melakukan kontrol?

DUA HOBI

Pengorbanan Robert Lai untuk saya termasuk di bidang golf. Dia suka sekali main golf. Dia mengurangi banyak sekali hobbynya itu. Selama merawat saya kadang sebulan penuh Robert tidak main golf.

Dia tahu saya tidak main golf. Dia juga tidak berhasil meyakinkan saya untuk mulai main golf. Tapi dia tidak henti-hentinya bercerita tentang menariknya main golf.

Dia tahu apa pun dan siapa pun tentang golf. Kalau lagi ada siaran langsung pertandingan penting golf dunia saya relakan tv di apartemen sepenuhnya menjadi miliknya.

Di Singapura dia pernah dipercaya menjadi direktur lapangan golf terkemuka. Tanah Merah Country Club. Dekat bandara Changi. Yang Lee Kuan Yew dan anggota kabinetnya sering bermain di situ.

Dia minta waktu mempersiapkan diri satu bulan. Waktu satu bulan itulah dia pergunakan untuk belajar mengelola lapangan golf.

Termasuk belajar di lapangan golf paling terkenal di dunia: The T&A of St Andrew. Di Scotland. Boleh dibilang, kata Robert, St Andrew adalah induknya lapangan golf dunia.

Dia ceritakan bagaimana boneknya dia untuk bisa diterima magang di St Andrew itu.

Dia tahu sebagai orang Asia dia akan diremehkan di sana. Sebagai pemain golf yang bukan kelas dunia Robert bukan siapa-siapa. Apalagi dia tidak kenal siapa pun di golf club itu.

Dia hanya tahu nama CEO-nya dari majalah golf. Padahal golf club St Andrew itu sangat ekslusif.

Tapi hatinya teguh. Harus bisa diterima magang di lapangan golf terbaik dunia. Robert langsung datang ke Scotland.

Dia ketuk pintu kamar kerja pimpinan St Andrew. Dia bilang begini: Nama saya Robert Lai dari Singapura. Saya baru mendapat penugasan memimpin lapangan golf terbaik di Singapura. Bolehkah saya belajar magang di sini?

Dengan gaya sopannya Asia, dengan percaya dirinya Singapura, dan dengan bahasa Inggris aksen Inggrisnya, Robert akhirnya diterima.

Dua minggu Robert magang di St Andrew. Bahkan bisa main golf di lapangan yang menjadi impian semua pemain golf.

Begitu banyak orang bule sekali pun ditolak main golf di situ. Sedang Robert bisa jadi orang dalamnya!

Bisa menggunakan semua fasilitas yang dimiliki St Andrew.

Itu tahun 1985. Nama pimpinan St Andrew saat itu: Michael Bonallack. Saat ini usia Bonallack sudah 83 tahun. Umur Robert sendiri sudah 70 tahun.

Robert bisa berjam-jam bercerita mengenai melegendanya lapangan golf ini. Bagaimana sejarah terbentuknya banker di lapangan golf itu. Bagaimana rumput ditumbuhkan dan dirawat. Bagaimana dia diajari harus bisa mencium aroma tanah di bagian-bagian tertentu lapangan golf itu. Agar tahu apakah petugas perawatan telah memberikan pupuk dan kimia yang benar untuk seluruh rumput di situ.

Setelah dua minggu di St Andrew, Robert lebih percaya diri. Mulailah dia bertugas mengelola Tanah Merah Country Club.

Di situlah dia bisa melihat tokoh tertinggi Singapura, Lee Kuan Yew. Bahkan Robert merasa mendapat beberapa pelajaran hidup dari tokoh tersebut.

Saya juga tahu Robert sangat memuja kehebatan lapangan golf Augusta di Georgia, Amerika Serikat. Begitu kagumnya akan Augusta pernah, sudah lama sekali, Robert ke sana untuk nonton pertandingan paling bergensi di dunia. Dia bisa menceritakan semua aspek lapangan golf di Augusta itu.

Dua tahun lalu saya ajak Robert dan istrinya ke USA. Dia bayar tiketnya sendiri. Kami ingin menemui John Mohn, ayah angkat Azrul Ananda, anak saya.

Kami pun sepakat untuk keliling USA bagian selatan dan timur. Naik mobil. Saya memang baru membelikan John mobil Lexus SUV. Bisa untuk keliling. Yang nyetir bergantian. John dan saya.

Kami keliling dari Indiana ke Memphis, Alabama, Georgia, Carolina, Philadelphia sampai New York.

Dari Atlanta ke Carolina giliran saya yang jadi sopir. Diam-diam saya set peta di mobil untuk mampir di satu tempat.

Tanpa memberitahu Robert maupun John. Mereka mengira dari Atlanta langsung mau ke Columbia di South Carolina.

Setelah dua jam meninggalkan Atlanta saya minggir dan berhenti di gerbang salah satu lapangan golf.

Robert bertanya: mengapa kita berhenti? Di mana ini?
Bertanya begitu sambil matanya jelalatan melihat sekeliling. “Saya seperti kenal tempat ini,” katanya.

Sesaat kemudian dia berteriak: Ini lapangan golf Augusta!
Saya puas bisa membuat kejutan yang menyenangkan untuk Robert.

Dia tidak menyangka sama sekali akan bisa melihat Augusta sekali lagi.

Maka Robert pun bercerita mengenai pengalamannya nonton di situ. Juga mengenai segala tahayul yang ada di dalamnya.

“Tidak ada olahraga yang lebih mengasyikkan selain golf,” katanya.

Golf itu, katanya, seperti perempuan. Setiap lapangan itu beda ukurannya, beda sexynya, beda rumputnya, beda aromanya, beda lekuk-lekuknya, beda perilakunya dan beda lubangnya. “Coba kalau Anda main bola atau tenis, di mana pun semuanya sama,” katanya.

Suatu saat, ketika saya sulit tidur di apartemen Tianjin, saya pinjam majalah golfnya yang terbaru. Robert senang sekali.

Dengan antusias dia carikan majalah itu. Dia mengira saya sudah mulai tertarik pada golf.
Maka, dengan antusias, dia tunjukkan halaman berapa saja yang wajib saya baca. Dia ceritakan kehebatan tokoh-tokoh di dalamnya.

Namun….dia pun harus tertawa ngakak tidak henti-hentinya mana kala saya sampaikan padanya bahwa malam itu saya perlu majalah yang paling tidak menarik agar bisa segera tidur! (Dahlan Iskan)