Hobi Makan Sabun Gara-gara Ngidam Saat Hamil

15 Feb 2019 17:20 Jawa Timur

Khosik Assyifa perempuan asal Dusun Sumberan, Desa Dungun, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo tiba-tiba viral di dunia maya. Ternyata, perempuan bernama asli Mubarokatul Khosyiah, 21 tahun itu "hobi" makan sabun sudah sejak sekitar dua tahun silam.

"Saya mulai senang makan sabun mandi saat hamil anak saya. Orang hamil biasanya ngidam, senang buah masam seperti mangga muda. Saya justru ngidam nglamuti sabun mandi," ujar Khosik di rumahnya Desa Dungun, Jumat, 15 Februari 2019.

Kebiasaan saat hamil itu berlanjut hingga kini, saat anaknya, Assyifa Khoirun Nisa’ berumur sekitar satu tahun. “Anak saya kelahiran 13 Januari 2018, sekarang umur setahun. Ditambah awal mula makan sabun saat hamil muda, sampai sekarang sudah dua tahunan, saya hobi makan sabun,” ujarnya sambil senyum.

Didampingi suaminya, Khoirul Anwar, 29 tahun dan sejumlah kerabat dan tetangganya, Khosik menceritakan, awal mula dirinya menjilati dan mengunyah sabun. Ia pun mengawali ceritanya dengan nglamuti sabun mandi.

"Nyaem, nyaem,....sabun ini mesti rasanya pahit getir tapi aromanya seperti jeruk segar," ujar Khosik. Sebelum "menyantap" sabun, ia lebih dulu membasahi kedua tangannya dengan air. Sabun mandi kemudian ia remas-remas dengan kedua tangannya.

Setelah busanya muncul menutupi kedua telapak tangannya, barulah Khosik nglamuti sabun mandi itu layaknya anak kecil menyantap es krim. “Mungkin istri saya bosan makan ikan, jadinya nyoba makan sabun,” sela Bokir, panggilan Khoirul Anwar, suaminya sambil ngakak.

Maklum, ikan-ikan laut setiap hari bisa "menghampiri" keluarga nelayan itu. Bokir hampir setiap hari melaut untuk menangkap ikan. "Saya nelayan kecil, hanya memancing di atas perahu. Sementara istri saya kerja di pabrik pengolahan ikan segar untuk tujuan ekspor di dusun sebelah, Dusun Jalit," ujar Bokir.

Khosik sedang menikmati sabun mandi batangan
Khosik sedang menikmati sabun mandi batangan.

Meski sudah lama makan sabun, Khosik mengaku, tidak mau mempertontonkan “hobi”-nya itu kepada orang lain termasuk kepada suaminya sendiri. "Pernah ketahuan suami juga, saat saya mandi sambil nglamuti sabun," ujar alumnus Pesantren Al Yasini, Kabupaten Pasuruan itu.

Ketika suaminya menanyakan, apa sudah hobi makan sabun saat di pesantren, Khosik geleng-geleng kepala. "Ya hobinya saat aku hamil, ngidam makan sabun. Dan sempat ketahuan, saat mandi dan nglamuti sabun mandi, Sampeyan intip," ujar Khosik sambil tertawa.

Meski rutin memeriksakan kehamilannya kepada bidan desa, Khosik tidak pernah bercerita kalau selama mengandung sering makan sabun. "Alhamdulillah, saat melahirkan normal, tidak melalui bedah Caesar, dan bayinya juga sehat," ujarnya.

Khosik juga mengaku, tidak pernah mengeluhkan sakit terutama menyangkut metabolisme perutnya setelah menyantap sabun mandi. "Alhamdulillah tidak pernah sakit termasuk sakit perut seperti mual dan kembung setelah makan sabun," ujar ibu satu anak itu.

Hobi Khosik nglamuti sabun mandi akhirnya terbuka ke khalayak begitu ia mengunggah video ke Instagram pada 8 Februari 2019 lalu. "Awal iseng-iseng ketika ditanya teman-teman di media sosial. Kujawab, nanti videoku kuunggah di Instagram," ujar perempuan kelahiran 18 Februari 1997 itu.

Pada unggahan pertama itu, ia menuliskan caption "Enak Banget". Sabun merek Lux awalnya dibasahi dengan air, lalu dijilat, busa-busa yang menempel di bibir dan mulutnya pun langsung ditelan dan dibersihkan dengan lidah.

Belum cukup, Khosik kembali mengunggah video dirinya makan sabun Lifebuoy. "Halo, kemarin ada yang request sabun Lifebuoy dong kak, katanya gitu," ucapnya.

Seolah makan sabun tersebut merupakan request dari salah satu followersnya. Sama seperti video sebelumnya, sabun berwarna merah itu dibasahi dengan air terlebih dulu sebelum dimakan busanya.

Terakhir, Khosik nglamuti sabun merek Giv. Kali ini keterangan videonya sedikit berbeda. Ia menyindir orang-orang yang mengomentari aksinya tersebut.

"Ini mulut orang yang kerjaannya nyinyir harus disabun sampai berbusa...," begitu ucapan Khosik. (isa)

Penulis : Ikhsan Mahmudi
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini