Hingga Minggu Pagi, Ada 1.105 Gempa Susulan Terjadi di Ambon

06 Oct 2019 09:32 Timur Indonesia

Sejumlah gempa susulan terus terjadi di Ambon dan sekitarnya pasca gempa berkekuatan 6,8 pada 26 September 2019.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) Stasiun Ambon mencatat hingga Minggu, 6 Oktober 2019 pukul 09.00 WIT telah terjadi 1.105 kali gempa susulan.

"Sampai pagi ini pukul 09.00 WIT ada 1.105 kali gempa susulan," kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Ambon, Andi Azhar Rusdin dikutip kompas, Minggu, 6 Oktober 2019.

Andi menyebutkan, dari jumlah gempa susulan yang terjadi itu, sebanyak 118 kali gempa ikut dirasakan oleh warga di Pulau Ambon dan sekitarnya. Meski begitu, Andi mengaku bahwa saat ini intensitas gempa susulan telah menurun.

"Kalau dibanding dengan beberapa hari lalu, saat ini intensitasnya sudah menurun," kata dia.

Gempa susulan masih terus terjadi karena masih ada energi yang tersisa di zona patahan yang terus dikeluarkan secara perlahan untuk mencapai kestabilan.

"Jadi, energi tersisa itu dikeluarkan secara perlahan sehingga kondisi patahan itu bisa mencapai kestabilan kembali. Saat ini kondisinya mulai normal," katanya.

Menurut Andi, meski banyak gempa susulan yang terjadi namun skalanya relatif lebih kecil dibanding gempa utama dengan magnitudo 6,5.
Sementara itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) mencatat hingga saat ini jumlah pengungsi mencapai 135.875 orang.

"Jumlah penyintas mencapai 135.875 orang. Sehari sebelumnya jumlah penyintas sebanyak 111 ribu jiwa," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo, dalam keterangan tertulis.

Menurutnya, jumlah pengungsi terus bertambah karena masih terjadinya gempa susulan. "Kenaikan jumlah pengungsi disebabkan berapa faktor seperti gempa susulan yang masih dirasakan oleh warga," ujar Agus.

Selain itu, jumlah pengungsi naik gara-gara hoax gempa besar pada 9 Oktober 2019. Informasi palsu itu beredar dari mulut ke mulut.

"Di samping itu, kenaikan angka pengungsi khususnya di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) disebabkan berita palsu atau hoax. Informasi yang beredar melalui mulut ke mulut bahwa tanggal 9 Oktober nanti akan ada gempa besar," kata Agus.

Selain itu, warga mengungsi karena ada informasi akan adanya bantuan. Namun tidak spesifik bantuan seperti apa yang diharapkan oleh warga yang sebelumnya pernah mengungsi.

Catatan BNPB pasca gempa 6,5 SR ada sekitar 6.975 unit rumah rusak. Dan setidaknya tercatat sekitar 38 orang tewas.

"Gempa dengan kekuatan M 6,5 pada 26 September lalu menyebabkan 37 orang meninggal dunia. Sebagian besar korban disebabkan karena tertimpa bangunan," katanya.

Agus menyatakan stok makanan di lokasi pengungsian masih mencukupi untuk sebulan ke depan. Meski demikian, dia mengatakan para pengungsi membutuhkan logistik lain seperti tenda, air bersih serta selimut.

Penulis : Witanto


Bagikan artikel ini