Kerahkan Segala Daya Upaya, Agar Mereka Mau Kembali Sekolah

17 Nov 2018 17:37 Pendidikan

Gempa bumi yang diikuti tsunami telah menghancurkan fasilitas sekolah yang ada di Palu dan Donggala pada September lalu. Namun, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy tak menginginkan bencana itu dijadikan alasan untuk patah semangat dalam belajar.

"Saya pesankan kepada para guru dan siswa, jangan ada yang minta perlakuan khusus  dalam menghadapi ujian maupun kenaikan kelas, dengan alasan bencana alam," kata Mendikbud ketika meninjau pelaksanaan belajar mengajar pasca gempa di Palu dan Donggala, Sabtu 17 November 2018.

Pernyataan "galak" Pak Menteri ini jangan dianggap sebagai ancaman. Tapi semata, agar para guru siswa bisa kembali bersemangat dalam proses belajar mengajar. Saat meninjau pelaksanaan belajar di Palu dan Donggala hari ini, Sabtu 17 November 2018, Muhadjir Effendy pun selalu menggelorakan semangat para siswa di sekolah-sekolah yang ia kunjungi. Muhadjir selalu mengajak para siswa untuk meneriakkan yel-yel agar mereka tetap semangat.

"Palu Bangkit! Palu Hebat!"," teriak Muhadjir dengan semangat kepada para siswa.

Anak-anak pun menyambut yel yel Muhadjir itu sambil mengepalkan tangan dan acungan jempol. Muhadjir merasa perlu untuk membangkitkan semangat belajar para siswa itu, karena saat ini mereka belajar dalam situasi yang belum normal. Para siswa ini masih belajar di kelas darurat yang dibangun di halaman sekolah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy duduk bersama siswa membangkitkan semangat Foto Asmanungopibarengid
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy duduk bersama siswa membangkitkan semangat. (Foto: Asmanu/ngopibareng.id)

Kelas darurat ini terbuat dari bahan kayu dan atap terpal. Sebagai sekatnya dipakai anyaman bambu.

Meski udaranya terasa panas, namun para siswa ternyata merasa lebih nyaman belajar di kelas darurat ini. Alasannnya, mereka masih trauma dengan gempa 29 September 2018 lalu.

Beberapa guru kepada ngopibareng.id mengatakan ketakutan para siswa masuk kelas, cukup beralasan. Pasalnya, sampai sekarang gempa susulan masih terjadi meskipun dengan kekuatan rendah. Mereka khawatir gempa susulan bisa merobohkan bangunan sekolahnya yang sudah retak-retak akibat gempa yang lalu.

"Banyak orang  tua yang  masih takut kalau anaknya belajar di kelas," kata Suharti,  guru SMP Negeri 10 , Pelabuhan Donggala kepada ngopibareng.id

Trauma siswa akan gempa itu ternyata masih menjadi penghambat utama dalam proses belajar mengajar di Palu dan Donggala. Suharti bahkan mengatakan, karena trauma itu jumlah siswa di sekolahnya yang sudah mau masuk sekolah kembali belum utuh. Baru sekitar 60 persen.

Padahal bencana gempa dan tsunami sudah berlalu 1,5 bulan lalu. Satu sisi, mereka harus mulai menyiapkan diri untuk menghadapi kenaikan kelas dan ujian.

"Mau tidak mau saya harus menambah jam belajar yang hilang dengan memberi les," kata Suharti.

Namun pemerintah tak menutup mata atas usaha keras para guru untuk membangkit semangat para siswanya untuk kembali belajar. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyiapkan tunjungan khusus sebesar Rp76 Miliar untuk 15.080 guru di empat kabupaten,  yakni  Palu, Sigi, Donggala  dan Kabupaten Perigi Moutong.

Tunjangan itu telah diserahkan oleh Mendikbud pada apel gerakan kembali ke sekolah  di halaman Kantor Gubernur Sulteng Sabtu pagi. (asm)

Tenda darurat  untuk ruang belajar bantuan dari Unicef  Foto Asmanungopibarengid
Tenda darurat untuk ruang belajar bantuan dari Unicef (Foto: Asmanu/ngopibareng.id)
Reporter/Penulis : Asmanu Sudharso
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini