Istri para mantan teroris mengajar mengaji di masjid di Tenggulun, Lamongan. (foto: ngopibareng/bahari)

Cerita Tentang Ali Fauzi, Eks Napi Teroris (3)Hidupi Yayasan, Bisnis Akik, Kontraktor Sampai Makelar

04 Mar 2018 12:07

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Usai menjadi imam salat Ashar di Masjid Baitul Muttaqin sore akhir Februari lalu, Ali Fauzi pun mengganti baju gamisnya dengan hanya mengenakan  kaos oblong. ‘’Ayo ikut ke kebun. Nggak usah pakai sepatu, sandal saja,’’ pinta Ali.

Kebun yang dimaksud Ali tak jauh dari kantor YLP. Bahkan dengan Masjid Baitul Muttaqin hanya dibatasi jalan setapak. Ali lalu berjalan menyusuri kebun jagung yang sebagaian sudah dipanen. Juga ada pohon jati di lahan miliknya yang baru ditebang. Ali menunjuk pohon dengan tinggi satu  meter lebih  yang baru ditanamnya seminggu lalu. Di tanah pangkal pohon tampak masih basah, bekas siraman. ‘’Ini bibit duren unggul. Hasil pesilangan antara duren mothong dengan duren petruk. Dalam tiga, sampai empat tahun ke depan duren sudah berbuah,’’ kata Ali Fauzi.

Puluhan bahkan ratusan bibit duren hasil silang duren terbaik ditanam di lahan miliknya yang berbatasan langsung hutan jati milik Perhutani. Selama pohon duren belum besar, di sela sela duren bisa ditanami kacang kacangan. ‘’Lima tahun atau sepuluh tahun nanti kita akan buka wisata agro; petik duren di wilayah ini,’’ ujar Ali

Mengapa pilih duren? Harga duren dari tahun ke tahun sangat stabil bahkan cenderung naik. Berbeda dengan buah lain kalau lagi panen raya harganya anjlok. Ali sudah ketemu pakar tumbuhan dari IPB Bogor bahwa tanah sekitar desanya Tenggulun cocok ditanami duren. ‘’Makanya, saya pilih duren sebagai investasi jangka panjang,’’ aku Ali.

Sore itu di pojok kebun ada perempuan tua sedang membersihkan rumput di tengah tanaman kacang kacangan. ‘’Ingat tidak siapa perempuan itu?’’ tanya Ali. Setelah mengingat-ingat, penulis pun menebak. ‘’Ibu Tariyem!’’.  Ali Fauzi pun membenarkan seraya mendekati perempuan  sepuh. Umurnya 80 tahun, jalannya sudah membungkuk. Tapi, etos kerjanya sebagai petani jangan diragukan.

Tiap hari rajin  ke kebun. Ibu 12 anak termasuk Ali Gufron atau Mukhlas, Amrozi dan Ali Imron sangat sangat sehat. ‘’Ini sebagai hiburan. Kalau tidak bergerak atau kerja katanya badannya tambah sakit. Jadi anak anaknya tidak bisa melarangnya,’’ ujar Ali seraya mendekati perempuan sepuh tadi. Mereka duduk di kayu seraya ngobrol.

‘’Emak tanya  terus kapan Ali Imron bebas. Katanya sudah kangen. Padahal, sebulan lalu sekeluarga Tenggulun termasuk Emak sudah besuk Ali Imron ke Jakarta sambil bawa marning atau rontokan jagung yang digoreng. Itu  makanan kesukaan Ali Imron.’’

’Ayo Emak wis sore ndang moleh. Akeh nyamuk nang kene,’’ ujar Ali Fauzi. Tapi, sampai penulis dan Ali meninggalkan kebun Mak Tariyem belum beranjak dari kebun. Masih asyik memandangi kebunnya.  ‘’Sik ngasoh dhisik. Mari ngono tak nyusul moleh,’’ jawab Mak Tariyem.

Ali Fauzi baru kulakan bibit duren unggul langsung dari pusat pembibitan duren di IPB, Bogor. Ribuan bibit duren tadi diangkut dengan truk menuju Tenggulun. Selain ditanam sendiri, bibit duren tadi dijual ke petani dan penggila kebun lewat medsos; WA, FB maupun promosi dari mulut ke mulut.

Hasilnya, ratusan bibit duren sudah terjual. Harga per bibit antara Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu. Ada yang beli satu, dua, lima, sepuluh bahkan ratusan.  Para pembeli tak hanya dari Tenggulun sekitarnya tapi juga dari Lamongan, Gresik dan kota lainnya.

‘’Hasilnya ya untuk menghidupi YLP plus membayar para pengajar LPA maupun untuk makan anak anak napiter yang menjadi tanggungjawabnya.’’

Ali lalu menunjuk ratusan bibit duren di polibeg dijejer di samping kantor YLP. Kemarin ada seribuan lebih bibit duren. Sekarang tinggal ratusan karena sudah dibeli orang. Ali memanggil salah satu anak didiknya untuk menyirami bibit duren tadi. ‘’Disirami nak. Jangan sampai layu,’’ pintanya. Anak tadi dengan cekatan mengambil slang untuk menyirami bibit duren tadi.

Malam itu datang seorang petani dari Sedayu Gresik menemui Ali Fauzi sambil membawa pikap. Sambil membeli puluhan bibit duren, petani muda tadi minta diajari bagaimana cara menanam duren yang baik. Ali pun menjelaskan tanaman di polibeg tidak boleh dipendam semuanya. Tapi, harus disisakan sedikit. Selain itu, punggung daun tanaman harus membelakangi sinar matahari saat terbit. Maksudnya, agar proses fotosintesis bisa maksimal. Itu membuat duren cepat tumbuh dan berbuah. Petani tadi manggut manggut.

‘’Saya tahu semua itu belajar dari seorang pakar ITB yang khusus mengembangkan bibit unggul duren. Saya bertemu beliau saat sama sama mengisi seminar. Sejak itu saya rajin belajar ke beliau di IPB ,’’ aku Ali .

Ali Fauzi yang mengaku tidak bisa diam itu, otaknya terus berfikir bagaimana bisa memberdayakan napiter untuk mensejahterakan kehidupannya. Setiap ada peluang bisnis yang lagi trend selalu dicobanya. Saat lagi ngetrend batu akik, Ali dkk di YLP pun berbisnis akik. Hasilnya, lumayan dengan memanfaatkan jaringan melalui medsos. ‘’Pokoknya ada  bisnis lagi ngetrend, kami selalu ikut jualan. Hasilnya, untuk menggaji pengajar LPA, mensejahterakan napiter dan anak anak mereka. Pokoknya bisnis apa pun kami lakukan. Yang penting halal,’’ tukas Ali.

Tak hanya itu Ali dkk. di YLP juga menjadi makelar,  bisnis jual beli mobil. Membeli mobil second dari mana pun lalu menjualnya kembali. Selain bisa menambah pundi pundi pemasukan YLP juga memberi kesibukan anak didiknya napiter. ‘’Hasilnya lumayan untuk tambah tambah uang belanja,’’ tuturnya.

Kalau ada yang minta tolong menjualkan tanah, rumah atau kebun  Ali Fauzi dengan senang hati akan membantunya. Sebaliknya, jika ada pembeli berminat membeli rumah atau tanah, Ali Fauzi dkk bisa menghubungi pemilknya. ‘’ Ya.. lumayan komisinya bisa untuk jajan anak anak,’’ ungkap Ali.

Yang diandalkan Ali Fauzi pemasukan bisnis dari Zam Zam, travel umroh dan haji yang dikelolanya. Labanya, bisa untuk menopang roda organisasi YLP dan menggaji pengajar LPA dan member makan  puluhan anak anak napiter yang dipercayakan kepada Ali Fauzi.

Ali Fauzi kini, di kantornya di Tenggulun, Lamongan. (foto: ngopibareng/bahari)

Ali Fauzi dkk. juga mendirikan  CV  At- Taubah yang bergerak di bidang jasa dan kontraktor. Karyawan CV At Taubah umumnya mantan napiter. Bertindak sebagai General Manager (GM)  adalah Hendra anak Amrozi. Sedangkan Ali Fauzi menjadi Direkturnya. ‘’Perusahaan ini jadi andalan pemasukan kami. Meski tidak banyak proyek yang kami garap, tapi alhamdulillah selalu ada meski kecil kecil. Hasilnya untuk menopang kegiatan YLP dan menggaji  guru ngaji dan menghidupi puluhan anak anak napiter,’’ ujar Ali.

Karena itu, Ali Fauzi mengetuk hati para pejabat di Lamongan sekitarnya untuk memberi cipratan proyek kepada CV yang dikelolanya. Dimana hasilnya dipakai biaya pembinaan napiter dan keluarganya. ‘’Saya tidak mau diisitimewakan tapi tolong diperhatikan sedikit saja,’’ pintanya.

Meski sebagai Direktur, Ali Fauzi tidak pernah sekali pun menerima bayaran. Gaji yang tidak seberapa besar antara Rp 3 juta sampai Rp 5 juta sebulan yang menjadi haknya dipakai rupa rupa keperluan. Ya nomboki gaji pengajar LPA, biaya makan anak anak sampai menutupi gaji karyawan CV At Taubah. Juga membayar keperluan lain. ‘’Jadi, saya ini meski Direktur tak pernah gajian ha..ha..ha.’’.

Ali Fauzi mengingatkan, pembinaan napiter terkait proyek deradikalisasi mantan napiter menjadi tanggungjawab pemerintah. YLP sifatnya hanya membantu sebisanya. ‘’Makanya, kami juga minta ditolong diberi proyek kecil saja. Yang penting ada pemasukan,’’ pintanya.

Jika saat ini YLP sebatas membina puluhan atau sekitar 37 napiter, di luar sana masih ada ribuan napiter nasibnya perlu diperhatikan untuk disadarkan atau di-dekaradikalisasi agar tidak terus terlibat kekerasan terorisme. ‘’Ini penting karena mereka umumnya punya kemampuan meracik bom,’’ ingat Ali Fauzi.

Ali Fauzi juga menepis jika YLP yang dipimpinnya mendapat kucuran bantuan dari Polri cukup besar. Semua itu tidak benar. Kalau benar dapat bantuan besar, mengapa dirinya dan napiter harus pontang panting, bersusah payah bisnis apa saja menghidupi YLP. Serta  dan menggaji guru ngaji di TPA yang umumnya istri para napiter.

Salah satu alasan mengapa Ali Fauzi dihujat sebagai penjilat polisi karena mereka mengira YLP menerima bantuan tadi. Padahal, semua sangkaan itu tidak benar. Mereka salah paham dan menerima informasi yang tidak benar. ‘’Dikira kami kami ini dapat bantuan bermiliar miliar ha..ha.. ha... Semua itu salah,’’ tegas Ali.

Ali Fauzi menegaskan, soal kerjasama dengan pihak mana pun pihak YLP membuka diri. Yang penting untuk kesejahteraan napiter dan keluarganya. Termasuk dengan polisi sekali pun tidak masalah. Tapi, YLP juga tidak bisa didikte begitu saja. ‘’Kami tetap independen,’’ aku Ali Fauzi.

Ke depan YLK nantinya akan mendirikan Ponpes berbasis wira usaha. Ali Fauzan akan memanfaatkan beberapa lahan sekitar Masjid Baitul Muttaqin yang sudah dibeli. Semua akan diwakafkan untuk kepentingan pondok. ‘’Saya terobsesi para santri bisa menghidupi diri sendiri dengan beragam wirausaha. Tidak perlu cari kerja di kota tapi bagaimana bisa menciptakan lapangan kerja di pondok. Makanya, perlu Ponpes berbasis wirausaha. Itu cita cita saya.’’. (bahari/bersambung)