Tinggal di UKS Sekolah, Siswa SMK di Malang Ini Tak Menyerah

07 Sep 2019 07:31 Jawa Timur

Sekilas tak ada yang membedakan antara,-- sebut saja Amir dengan siswa SMK Widyagama Kota Malang lainnya. Amir tampak bergaul dengan teman satu sekolahnya seperti siswa lainnya. Seolah tak memiliki beban hidup yang sangat berat.

Padahal, jika merujuk cerita orang-orang di sekelilingnya, Amir sebenarnya menanggung beban hidup yang sangat berat. Bahkan bisa dikatakan beban hidup yang ditanggung si Amir terlampau berat untuk ditanggung anak seusianya.

Amir sejak SMP dipaksa keadaan untuk hidup mandiri. Dia terpaksa harus berpisah dengan kedua orang tuanya. Amir pun kini terpaksa menginap di Unit Kesehatan Sekolah (UKS) SMK Widyagama Malang setiap hari. Beruntung sekolah tempat ia menimba ilmu, mau memberikan tempat kepadanya untuk sekedar berteduh.

Tak banyak orang yang mengetahui awal cerita sedih yang dialami Amir. Termasuk  Kepala Sekolah SMK Widyagama, Mawan Suliyadi. Mawan hanya mengetahui jika Amir sebelumnya pernah tinggal dengan seorang pemilik toko elektronik. Namanya Angga.

Sepengetahuan Mawan, Amir ini sebelum bertemu dengan Angga, hidupnya berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lainnya di Kota Malang. Nah, kebetulan saat tidur di masjid di sekitar Mendit Kota Malang, dia ditemukan oleh Angga. Oleh Angga ini, Amir diajak tinggal sementara waktu di rumahnya. Angga menemukan saat Amir masih duduk kelas tiga SMP semester genap.

"Pas SMP semester genap dia ditemukan oleh Mas Angga di masjid. Kemudian diajak tinggal di rumahnya," kata Mawan.

Sejak saat itu, tutur Mawan, Amir tinggal bersama Angga yang sudah ia anggap sebagai bapak asuhnya. Sehari-hari Amir membantu di toko elektronik milik Angga. Amir membantu memperbaiki sampai jualan barang elektronik.

Namun, kata Mawan, keadaan tak bertahan lama karena Amir harus kembali tak memiliki tempat tinggal tetap. Penyebabnya, Angga harus rela melepas Amir keluar dari rumahnya karena (diduga) desakan ibunya.

"Mungkin karena ada omongan dari orang-orang, sehingga ibunya menyuruh Angga untuk melepas Amir," jelasnya.

Namun sebelum melepas Amir keluar dari rumahnya, Angga masih sempat mendaftarkan sekolah Amir ke SMK Widyagama Malang. Sejak keluar dari rumah Angga itu, Amir pun akhirnya harus menginap di rumah satu teman ke teman lainnya. Karena keseringan menginap di rumah teman itu, akhirnya teman-temannya mengetahui jika ternyata Amir tak mempunyai tempat tinggal yang tetap.   

"Dari situ temannya tahu dia tidak punya apa-apa di Kota Malang ini. Maka di grup kelas, ramai teman-temanya ingin urunan untuk menyewakan kos-kosan," kata Mawan.

Mulai dari situ, pihak sekolah kemudian mengetahui bahwa siswanya tidak memiliki tempat tinggal. Bahkan ia hanya memiliki satu pasang pakaian selain seragam sekolahnya.

"Waktu selesai jam pelajaran, guru kelasnya ngaajak ngobrol anak ini. Pada akhirnya untuk sementara kita tempatkan sdi UKS. Di sana kan ada kasur dan kamar mandi dalamnya," tuturnya.

Saat diajak bicara dari ke hati, Amir tak terlalu terbuka dengan masalah yang dihadapinya. Para guru hanya mengetahui jika Amir berasal dari Bali. Kemudian diajak orangtuanya pindah ke Malang saat dia kelas dua SMP. Saat di Malang ini, musibah menimpa keluarga Amir.

“Musibah seperti apa, guru tak mau menanyakan lebih lanjut karena takut membuat Amir sedih,” kata Mawan.

Namun jika melihat Kartu Keluarganya, Amir sebelumnya tinggal bersama dengan orangtuanya di Perumahan Araya. Sebuah perumahan elite yang ada di Kota Malang.

"Kita tidak tahu masalah yang menimpa keluarganya seperti apa. Saya juga tidak mau ikut campur. Terpenting anak ini sekarang sudah aman," jelasnya.

Amir juga dinilai sebagai anak rajin melakukan ibadah. Dalam ibadahnya, Amir tak pernah putus-putusnya mendoakan agar masalah yang menimpa orangtuanya cepat diselesaikan.

Selain rajin ibadah, Amir juga rajin bekerja. Selama ditampung di UKS sekolah Amir tak segan membersihkan halaman bahkan sampai kamar mandi sekolah. "Halaman sekolah bersih. Saya tanya satpam, ternyata dia yang mengerjakan," kata Mawan.

Secara akademis, nilai Amir juga tak mengecewakan. Nilainya pun bagus. Pihak sekolah rencananya akan menempatkan Amir di tempat yang lebih layak. Minggu depan anak ini rencananya akan ditempatkan di asrama milik Yayasan Widyagama.

Penulis : Lalu Theo Ariawan Hidayat Kabul
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini