Heboh Video UAS 'Penonton Drama Korea Kafir', MUI Angkat Bicara

11 Sep 2019 03:10 Nasional

Video lama Ustadz Abdul Somad (UAS) menjawab pertanyaan soal drama Korea kini viral dan ramai dibahas.

Dalam video itu, UAS awalnya membaca sebuah pertanyaan yang sampai kepadanya. "Apa hukumnya menggemari, menyukai film Korea?" demikian bunyi pertanyaan itu.

UAS mengimbau jangan suka menonton film Korea yang diperankan orang-orang kafir. Ia menyarankan jemaah menghindari menonton drama Korea agar tidak termasuk golongan kafir.

"Jangan suka kepada orang kafir. Siapa yang suka kepada orang kafir, maka dia bagian dari kafir itu. Condong hatinya pada orang kafir," ucap UAS dalam video tersebut.

UAS menyarankan beberapa tontonan selain drama Korea yang layak dinikmati. Ia mengatakan, lebih baik mendengarkan bacaan Alquran ketimbang menyaksikan film Korea yang tidak ada manfaatnya.

"Jangan ditonton lagi itu sinetron Korea, rusak. Nanti pas sakaratul maut datang dia ramai-ramai. Apa yang sering kita dengar, apa yang sering kita tengok, akan datang saat sakaratul maut," tegas UAS.

Jawaban UAS tersebut kemudian menuai kontroversi di kalangan publik.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Riau menilai tak ada masalah dari ceramah itu dan menduga video itu sengaja diviralkan lagi sekarang.

Ketua MUI Riau, Nazir Karim, menilai apa yang disampaikan UAS ada dalam hal akidah Islam.

"Sebenarnya apa yang disampaikan beliau itu kan untuk dalam agama itukan ada untuk menghindari yang membahayakan lebih dahulukan dari merebut kebaikan yang lain," kata Nazir Karim.

Bagi Nazir, sudah pantas UAS menyampaikan pendapatan soal tontotan drama korea tersebut. Sudut pandang UAS soal drama korea itu tentunya ditilik sudut padang ajaran Islam.

"Yang namanya ulama, ustadz, para dai itukan mengingatkan intinya, menyapaikan yang benar dalam ajaran Islam. Mereka itu pewaris para nabi, itukan tugasnya mengingatkan menyampaikan yang benar," kata Nazir.

Jika sudah disampaikan lewat para dai seperti UAS yang melarang nonton drama korea, bagi Nazir, semuanya dikembalikan ke masyarakat.

"Kalau itu sudah disampaikan, ada yang tidak menerima, itukan persoalan-persoalan lain. Ya itu aja, ngapain diribut-ributkan. Itukan ndak perlu, dan itu sejak dulu juga Indonesia harus waspada dengan transaksional budaya, itu berbahaya betul," kata Nazir.

Penulis : Yasmin Fitrida


Bagikan artikel ini