BUKA PUASA: Kiai Said Aqil Siroj dan jajaran PBNU di Jakarta. (foto: ist)

Hawa Nafsu Dipoles Agama Lebih Banyak, Ini Tengara Kiai Said Aqil

09 Jun 2018 09:21

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

"Yang punya pangkat, jadi ketua, jadi menteri, itu gampang.Yang sulit adalah melawan hawa nafsu yang menipu dan menggoda kita," kata Kiai Said Aqil Siroj.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyampaikan bulan Ramadhan berasal dari kata ramdhan. Artinya batu yang mengadung panas karena sehari penuh menyerap panas matahari.

Pada bulan Ramadhan umat Islam berhasil melawan hawa nafsu. Mengutip ayat Al-Qur'an, Kiai Said mengatakan hawa nafsu membuat manusia mudah terpedaya oleh dunia, harta kekayaan, dan jabatan.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang suci, bukan karena seperti dipahami secara awam sebagai bulan mengganti waktu makan dan minum dari siang hari menjadi malam hari. "Namun disebut bulan suci karena Muslim dituntut berhasil melawan hawa nafsu.

Hawa nafsu, kata Kiai Said adalah musuh bebuyutan. Hawa nafsu menyebabkan manusia menjadi sombong. "Yang punya pangkat, jadi ketua, jadi menteri, itu gampang," kata Kiai Said. "Yang sulit adalah melawan hawa nafsu yang menipu dan menggoda kita," ujarnya.

Hal itu diungkapkannya saat buka puasa bersama di lantai 8 Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta Pusat, Jumat (8/6). Kegiatan ini mengusung tema Ramadhan sebagai Bulan Muhasabah, Mu'atabarah dan Muraqabah Menuju Peningkatan Iman.

Hawa nafsu yang paling banyak menurut Kiai Said justeru dengan polesan agama. Seperti menggunakan alasan agama tetapi ada niat tertentu di baliknya. "Mari berjuang demi syariat Islam, demi agama, demi Al-Qur'an. Padahal demi kepentingan interest tamak dan rakusnya," Kiai Said mencontohkan.

Menjadi tokoh juga mudah terjebak pada kesombongan. "Penceramah senang ditepuktangani karena ramai. Itu tertipu oleh hawa napsu," kata kiai kelahiran Cirebon ini.

Turut hadir pada kesempatan tersebut di antaranya Wakil Ketua PBNU H Maksum Mahfoedz, Sekjen PBNU H Ahmad Helmy Faishal Zaini, Bendahara PBNU Bina Suhendra, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, sejumlah Ketua PBNU, ketua lembaga dan banom NU. (adi)