Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto di ruang tunggu KPK, Jumat. (Foto:Antara)

Hasto Diperiksa KPK

Hukum 24 January 2020 11:49 WIB

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto hari ini diperiksa KPK, dalam penyidikan kasus dugaan suap terkait proses pergantian antar waktu (PAW) anggota DPR RI terpilih dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan periode 2019-2024.

Hasto diperiksa untuk untuk tersangka salah seorang stafnya yang bernama Saeful (SAE) dari unsur swasta dalam penyidikan tindak pidana korupsi suap terkait penetapan anggota DPR RI terpilih Tahun 2019-2024.

"Yang bersangkutan diperiksa untuk tersangka SAE," ujar Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri di Jakarta, Jumat.

Saat ini Hasto masih menjalani pemeriksaan oleh penyidik KPK. Selain Hasto, KPK juga memeriksa Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Evi Novida Ginting Manik dan Hasyim Asy'ari.

Ali Fikri mengatakan baik Evi maupun Hasyim juga telah berada di Gedung KPK.

"Saksi Evi, Hasyim dan Hasto diperiksa untuk tersangka SAE," ujar Ali.

KPK pada Kamis kemarin telah memeriksa dua pejabat KPU, yakni Kepala Bagian Teknis KPU Yuli Harteti dan Kasubag Pencalonan KPU Yulianto. Keduanya diperiksa untuk tersangka Saeful (SAE).

Sebelumnya, KPK pada Rabu lalu juga telah memeriksa Kasubag Persidangan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riyani juga untuk tersangka Saeful.

Terkait pemeriksaan Riyani, KPK mengonfirmasi yang bersangkutan terkait tugas, pokok, dan fungsi (tupoksi) para Komisioner KPU.

KPK pada Kamis 9 Januri telah mengumumkan empat tersangka dalam kasus tersebut Sebagai penerima, yakni Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan (WSE) dan mantan anggota Badan Pengawas Pemilu atau orang kepercayaan Wahyu, Agustiani Tio Fridelina (ATF).

Sedangkan sebagai pemberi kader PDIP Harun Masiku (HAR) dan Saeful.

Diketahui, Wahyu meminta dana operasional Rp900 juta untuk membantu Harun menjadi anggota DPR RI dapil Sumatera Selatan I menggantikan caleg DPR terpilih dari Fraksi PDIP dapil Sumatera Selatan I Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, Wahyu hanya menerima Rp600 juta. (ant)

Penulis : M. Anis

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

27 Feb 2020 16:10 WIB

Amphuri Imbau Calon Jamaah Umrah Tidak Membatalkan Keberangkatan

Nasional

Calon Jamaah diharap me-reschedule saja

27 Feb 2020 16:06 WIB

Pemerintah Indonesia Hormati Penghentian Sementara Ibadah Umroh

Nasional

Jemaah umroh asal Indonesia setiap tahun jumlah mencapai 1,2 juta orang.

27 Feb 2020 15:57 WIB

Ketua MPR Desak Arab Saudi Kaji Penghentian Umrah Indonesia

Nasional

Bambang Soesatyo melobi Liga Muslim Dunia dan Kedutaan Besar

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.