Hari Film Nasional, gedung bioskop ikut terdampak corona, sesuai aturan pemerintah untuk social distancing dan  physical distancing. (Foto: Istimewa)
Hari Film Nasional, gedung bioskop ikut terdampak corona, sesuai aturan pemerintah untuk social distancing dan physical distancing. (Foto: Istimewa)

Hari Film Nasional Diawali Darah & Doa Karya Usmar Ismail

Ngopibareng.id Film 30 March 2020 16:54 WIB

Hari Film Nasional diperingati setiap tanggal 30 Maret. Ironisnya, tahun ini, Hari Film Nasional diperingati bersamaan wabah virus corona. Sejumlah bioskop di Indonesia, terutama yang berada di wilayah zona merah virus corona terpaksa ditutup untuk sementara waktu mengikuti anjuran pemerintah. Selain itu, aktivitas syuting film juga dihentikan sesuai imbauan social distancing dan physical distancing.

Melalui akun media sosial masing-masing, para pembuat film memberikan ucapan selamat Hari Film Nasional dan berharap agar industri film Indonesia semakin maju dan kreatif.

Sutradara Mira Lesmana memilih mengunggah cuplikan film Petualangan Sherina sembari mengajak pengikutnya untuk tetap di rumah selama masa pandemi global virus corona.

Sementara, sutradara Riri Riza mengenang peristiwa 70 tahun silam yakni 30 Maret 1950, hari pertama syuting film Darah dan Doa karya Usmar Ismail yang kemudian ditetapkan menjadi Hari Film Nasional.

Sejarah Hari Film Nasional

Sejarah Hari Film Nasional dimulai dari film Darah & Doa atau Long March Siliwangi yang merupakan film besutan sutradara Usmar Ismail. Pengambilan gambar film tersebut pertama kali dilakukan pada 30 Maret 1950.

Darah & Doa begitu spesial karena menjadi film pertama yang disutradarai oleh orang pribumi dan produksi perusahaan film Indonesia, Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) yang didirikan oleh Usmar Ismail.

Karena itulah, Konferensi Dewan Film Nasional dengan Organisasi Perfilman pada 11 Oktober 1962 menetapkan bahwa 30 Maret menjadi Hari Film Nasional.

Ketetapan itu diperkuat dengan munculnya Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres RI) Nomor 25 Tahun 1999 tentang Hari Film Nasional pada masa Presiden BJ Habibie.

Setelah perfilman Indonesia terkekang karena dominasi penjajahan Belanda dan Jepang, tahun 1950 dianggap sebagai kebangkitan film nasional. Disusul dengan peresmian bioskop termegah, Metropole pada 1951 dan meningkatnya jumlah bioskop.

Kemudian pada 1955 terbentuklah Persatuan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia dan Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GAPEBI) yang akhirnya melebur menjadi Gabungan Bioskop Seluruh Indonesia (GABSI).

Penulis : Yasmin Fitrida

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

25 Nov 2020 18:00 WIB

Ketahui Manfaat Kerja Sama Surabaya-Jepang lewat Webinar Centrius

Surabaya

Sister city dalam green cities dengan Kitakyushu di Jepang.

25 Nov 2020 17:46 WIB

Dinas Kesehatan Mempersiapkan 2Ribu Lebih Tenaga Vaksinator

Nusantara

Jateng akan menerima 21ribu lebih vaksin Covid-19 dari pusat.

25 Nov 2020 17:39 WIB

Bu Yayuk, Guru di Lereng Bromo Tak Canggung ‘Nunut’ Pikap Sayur

Feature

Profesinya yang dihormati tapi tak membuat perempuan ini canggung nunut.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...