Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution

Harga Tiket Pesawat Mahal, Ternyata Ini Penyebabnya

Ekonomi dan Bisnis 08 June 2019 23:12 WIB

Menarik maskapai asing masuk ke Indonesia dipercaya mampu menurunkan harga tiket pesawat, merupakan usulan Presiden Joko Widodo. Alasannya, selama ini peta persaingan industri maskapai di Indonesia hanya didominasi oleh dua pihak.

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan, saat ini hanya terdapat dua pemain yang mengusai penerbangan di dalam negeri, yakni Garuda Indonesia dan Lion Air. Dalam dunia persaingan usaha, praktik ini disebut duopoli.

"Struktur pasar duopoli, Garuda dan Lion Air. Dia nggak akan bisa naikkan jauh-jauh karena saingan yang ada. Idenya adalah kalau struktur pasar cenderung memberikan power kekuatan di produsen maka jawabannya adalah undang saingannya supaya dia teken, turunkan harga itu dia," ujar Darmin, dikutip Sabtu 8 Juni 2019.

Menurutnya usulan Jokowi membuka peluang untuk maskapai asing guna menurunkan harga tiket dengan memecah duopoli tersebut. Semakin banyak maskapai di dalam negeri maka harga tiket diharapkan bisa tertekan turun.

"Sekarang pemerintah milih apa. Pemerintah tidak hanya pikir produsen tapi konsumen. Kenaikan itu tidak akan terjadi setajam itu kalau pasar nggak duopoli," tutup dia.

Darmin percaya hal itu patut dicoba untuk memberi persaingan di dalam negeri. Meskipun imbas dari kebijakan itu menimbulkan peta persaingan yang semakin ketat bagi para maskapai.

"Risiko apa, tentu maskapai penerbangan bisa berteriak. 'huaa ini jadi susah'," tutupnya. (asm)

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

03 Sep 2020 13:15 WIB

WNI Dilarang Masuk, Garuda Tetap Layani Penerbangan ke Malaysia

Nasional

Pelarangan dilakukan akibat kasus Covid-19 yang meningkat di Indonesia.

31 Aug 2020 17:03 WIB

Pramugari Garuda Cabut Laporan Terhadap Akun @digeeembok

Hukum

Pramugari Garuda Wisi cabut laporannya ke polisi terhadap akun @digeeembok

24 Jul 2020 09:53 WIB

Yang Bisa Menyelamatkan Garuda Itu Penumpang

Ekonomi dan Bisnis

Kata Dirut PT Garuda, bukan bantuan pinjaman Rp8,5 triliun.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...