Harga Tembus Rp350 Ribu, Warga Gunungkidul Sulit Cari Air Bersih

13 Sep 2018 20:50 Nasional

Kekeringan melanda Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Akibatnya warga kekurangan air bersih. Untuk mendapatkan air bersih warga terpaksa harus mengeluarkan kocek antara Rp150 ribu hingga Rp350.000 per tangki.

Pariman, salah satu warga Dusun Baturturu, Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari, mengatakan krisis air bersih di daerah mereka memaksa warga memutar otak untuk bisa menyediakan air guna keperluan sehari-hari.

Apalagi harga air bersih per tangki dinilai sangat mahal dan memberatkan warga. Selain terlalu mahal, air tersebut juga hanya mampu bertahan untuk pemakaian dua hingga tiga minggu saja.

Untuk menekan pengeluaran, warga di desa tersebut terpaksa memanfaatkan tempat bekas penggalian sumur bor yang tidak dipakai lagi. Meskipun debit air rendah, warga masih bisa mendapatkan air bersih dari sana.

Memanfaatkan air bekas sumur bor bukanlah hal mudah. Dibutuhkan waktu hingga 30 menit untuk dapat mengisi 1 jeriken air bersih berkapasitas 10 liter.

Pasalnya, di tempat tersebut hanya terdapat sebuah lubang dari pipa berdiameter 15 sentimeter. Karena itu, diperlukan toples yang terikat dengan sebuah tali serta sebuah bambu sepanjang 1 meter untuk bisa memindahkan air.

"Air yang kami dapatkan hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan air minum dan memasak. Untuk keperluan mandi dan juga mencuci, kami terpaksa mencari ke sumber air lain yang lebih jauh," papar Pariman, seperti dikutip media Yogyakarta, Kamis, 13 September 2018.

Sementara Kepala Desa Mertelu Tugiman mengakui kekeringan selalu terjadi setiap tahun di desanya. Seluruh pedukuhan di sana tidak ada yang dialiri air dari PDAM. Kondisi itu diperparah dengan bak penampungan air hujan milik warga yang sudah mengering sejak empat bulan lalu akibat musim kemarau.

Pemerintah desa sudah melakukan upaya untuk menangani masalah tersebut. Salah satunya dengan menyediakan dana khusus untuk memberikan bantuan air bersih ataupun mencari sumber air untuk membuat sumur bor. Upaya itu gagal karena debit airnya terlalu kecil.

"Namun, warga memanfaatkan bekas sumur bor itu. Tapi, warga harus pakai stoples karena tempatnya kecil dan debit airnya juga kecil," kata Tugiman.

Tugiman mengatakan, warga berharap agar pemerintah bisa menyediakan saluran PDAM di desa mereka. Sarana publik tersebut sangat penting dan mendesak agar mereka tidak perlu lagi merasakan krisis air bersih setiap tahun. (wit/ant)

Reporter/Penulis : Witanto


Bagikan artikel ini