Para karyawan sedang mengolah adonan. (Foto: Fendi/ngopibareng.id)

Bumbu Pecel Bu Mukti Masih Bisa Pedas Meski Cabai Mahal

Feature 25 January 2020 23:57 WIB

Rumah sekaligus tempat pembuatan bumbu pecel milik Bu Mukti di Desa Tepus, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, tampak seperti biasanya. Beberapa orang terlihat tampak sibuk mencampur adonan. Komposisi adonan yang dicampur terdiri dari cabai, kacang, bawang merah, bawang putih, gula merah dan rempah-rempah lainnya. Para karyawan ini seolah tak ragu untuk mencampurkan sejumlah cabai ke dalam adonan. Padahal, harga cabai dalam beberapa hari ini sedang melangit. Jika biasanya harga cabai per kilogramnya hanya Rp15 ribu. Namun kini harganya sudah melangit menjadi Rp70 ribu per kilogram.

Naiknya harga cabai yang gila-gilaan itu ternyata tak membuat Buk Mukti terlalu resah. Perempuan setengah baya yang sudah menekuni pembuatan bumbu pecel sejak 20 tahun lalu ini masih tetap memproduksi bumbu pecel seperti biasa. Harganya pun tak ikut-ikutan naik, mengikuti harga cabai yang melangit. Baginya menaikan harga jual bumbu pecel produksinya adalah langkah terakhir, jika tak ada celah yang bisa dimainkan.

Beruntung, kenaikan harga cabai yang terjadi seperti sekarang dia mengaku masih memiliki celah yang bisa dimainkan. Celah yang bisa dimainkan Bu Mukti ternyata adalah harga kacang yang ternyata lagi turun. Harga kacang tanah saat ini memang sedang turun. Jika biasanya harga kacang tanah per kilo Rp25.000, kini sedang turun menjadi Rp20.000.

Karyawan sedang mengolah adonan  Foto FendingopibarengidKaryawan sedang mengolah adonan. (Foto: Fendi/ngopibareng.id)

Jika dihitung, turunnya memang tak sebanding dengan kenaikan harga kacang yang naik berlipat-lipat. Kata Bu Mukti, masih ada trik lain yang membuat dia tetap bisa bertahan untuk tak menaikkan bumbu pecel produksinya.

"Karena saya beli cabainya dalam jumlah banyak. Hitungan kuintal, campuran cabe kecil dan besar. Saya juga membeli cabai langsung dari petani dalam jumlah banyak sehingga harganya relatif lebih murah, jika dibandingkan harga pasar," kata dia membeberkan rahasia lainnya.

Para karyawan sedang mengemas bumbu pecel  Foto FendingopibarengidPara karyawan sedang mengemas bumbu pecel. (Foto: Fendi/ngopibareng.id)

Berkat strategi yang diterapkanya itu, Bu Mukti mengaku jadi tahan banting dengan kenaikan harga bahan baku. Dia pun menyebut bumbu pecel produksinya pun belum pernah naik sejak setahun yang lalu. Harga jual per kilogram bumbu pecel produksinya sekarang dibanderol Rp28.000. Bumbu pecel ini dikemas plastik dengan berbagai ukuran tergantung pesanan konsumen.

Dalam pembuatan bumbu pecelnya Bu Mukti mengklaim memiliki rasa khas jika dibandingkan bumbu pecel lain. Menurutnya semua proses pembuatan bumbu pecel murni menggunakan rempah alami tanpa bahan minyak. Yang menjadi pembeda lainya, gula yang digunakan untuk bahan adalah gula kelapa, tanpa tambahan gula tebu. Manis gurih gula kelapa rasanya dianggap lebih enak ketimbang manis gula tebu.
Gula kelapa yang digunakan untuk campuran adonan didatangkan khusus dari Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar Jawa Timur.

Untuk satu kali order gula kelapa, Bu Mukti biasanya langsung sebanyak 15 kuintal. Pesanan gula kelapa dalam jumlah banyak itu sekaligus dijadikan stok bahan. Sedangkan untuk sekali produksi bumbu pecel, Bu Mukti biasanya bisa sampai 2 kuintal. Tergantung pesanan dari konsumen. Konsumennya pun tak hanya dari Kota Kediri saja, juga datang dari Jakarta, Tangerang, Surabaya, Malang, bahkan Kalimantan sekali pun.

Pernah suatu ketika ada warga dari Kediri yang tinggal di Malaysia. Dia memesan bumbu pecel Bu Mukti dalam jumlah yang banyak. Beratnya mencapai 15 kuintal.

"Katanya, untuk dijual lagi Malaysia," kata Bu Mukti.

Penulis : Fendhy Plesmana

Editor : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

05 Apr 2020 01:00 WIB

138 Petugas Medis Malaysia Positif Corona, Penyebabnya...

Internasional

Petugas medis yang seharusnya merawat pasien malah terjangkit virus corona.

05 Apr 2020 00:46 WIB

Dulu Aniaya Pacar, Saddil Ramdani Kembali Terlibat Penganiayaan

Liga Indonesia

Saddil Ramdani curhat kasus penganiayaan yang menjerat dirinya.

05 Apr 2020 00:30 WIB

Kapasan dan PGS Jadi Cluster Baru Covid-19 di Surabaya

Jawa Timur

Pasar Kapasan dan PGS secara resmi ditemukan ada suspect Covid-19.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.