Hakikat Surga dan Neraka, Menurut Gus Baha'

20 Oct 2019 03:29 Khazanah

KH Bahauddin Nur Salim (Gus Baha) menjadi juru dakwah yang diminati saat ini. Setiap ceramahnya membukakan wawasan baru. Sebagaimana pesan-pesan berikut, disampaikan Gus Baha' tentang hakikat surga dan neraka:

"Dalam disiplin Ilmu Tasawuf, menurut Imam Al Ghazali ; representasi Al-Quran tentang Surga-Neraka itu hanyalah gambaran 'litaqribil afham' ; gambaran untuk mendekatkan pemahaman logika manusia. Karena Al Qur'an adalah kalam Allâh yang qodim, ketika turun ke level hawadits, tentu dengan menggunakan bahasa hawadits. Neraka, dengan bermacam kepedihan adzabnya merupakan simbol perwujudan dari sukhtullâh (kemurkaan Allâh), dan surga dengan gelimang nikmatnya adalah sebagai perwujudan dari simbol Ridho Allâh. Itu saja hakikatnya."

Gus Baha melatih kita berfikir dengan logika yang sahih, agar dalam melakukan kebaikan-ibadah, (bisa) murni hanya berdasar iman, syukur, cinta, mengagungkan, dan rindu kepada (keridho'an) Allâh semata, dan bukan lagi orientasi surga-neraka ataupun transaksional duniawi.

Caranya, kita harus kembali pada ajaran tasawuf dengan menjiwai secara penuh kalimah munajat ; "Ilahî anta maqsûdi wa ridhôka matlûbi". Namun jika belum bisa dan belum mampu, harus senantiasa dilatih, dan dilatih lagi.

Agar lebih mudah memahami cara cara itu, Gus Baha memberi analogi (Qiyas).

Menurut Gus Baha', "1+1 berapa? Kamu menjawab 2 itu, nunggu saya beri hadiah satu juta, atau tetap menjawab 2 demi menjaga status kewarasan (akal sehat) anda? Tentunya tetap menjawab dua, kan?"

"Kenapa demikian, karena 1+1 = 2 itu adalah hakikat. Dan hakikat itu, lâtahtâju ila ujroh; yang namanya mempertahankan hakikat itu, tidak lagi butuh upah. Jelas ya?"

"Sekarang Allâh sebagai Tuhan itu hakikat atau bukan? Hakikat. Kemudian, jika seandainya kalian mengatakan begini; "Ya Allâh, jika Engkau kasih surga, saya akan katakan Engkau Tuhan. Namun jika tidak, 'tunggu dulu'." Orang yang seperti itu, waras atau tidak? Jawabannya, pasti tidak waras."

Dengan memahami itu, kita akan berfikir; "Ya Alláh, betapa malunya hamba, untuk mengatakan 1+1=2 hamba tidak butuh upah. Lalu kenapa untuk bersaksi bahwa engkau Tuhan, kita masih berharap surga, (takut neraka, bahkan sampai transaksional persoalan duniawi)? Betapa bodohnya kita?!" ujar Gus Baha.

Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini