Lukisan foto  Syamsuddin Muhammad Hafizh Asy-Syirazi (1320-1389). (Foto:Istimewa)
Lukisan foto Syamsuddin Muhammad Hafizh Asy-Syirazi (1320-1389). (Foto:Istimewa)

Hafizh, Hakikat Cinta Itu Tuhan

Ngopibareng.id Ady Amar 02 August 2020 10:06 WIB

Oleh : Ady Amar

Segala yang aku tahu adalah Cinta,
dan kudapati kalbuku Tak Berbatas
dan di Mana-mana!

Syamsuddin Muhammad Hafizh Asy-Syirazi (1320-1389), biasa dipanggil dengan Hafizh. Di Barat namanya tidak sepopuler Rumi. Namun Hafizh, merupakan satu dari pujangga Persia paling dikagumi.

Lahir di Syiraz, sebuah kota yang terletak di Iran bagian Selatan. Syiraz terkenal sebagai kota dengan taman-taman bunga yang indah. Salah satu kota yang selamat dari invasi bangsa Mongol maupun Tartar, selama periode sejarah yang brutal dan rusuh.

Hafizh menghabiskan seluruh hidupnya di kota Syiraz, kota yang tidak saja dikenal indah, tapi juga dikenal sebagai pusat kebudayaan. Tidak pernah ia meninggalkan kota itu, tidak seperti pencari jalan spiritual lainnya, semisal Sya'di Syirazi, yang berpetualang ke negeri-negeri lain.

Kehidupan Hafizh adalah kehidupan yang tidak mudah, bahkan tergolong miskin. Ayahnya penjual arang, yang meninggal saat Hafizh dalam usia belasan tahun. Hafizh anak bungsu dari tiga bersaudara, semuanya laki-laki. Untuk membantu kehidupan keluarganya, dan membiayai sekolah pada malam harinya, Hafizh bekerja sebagai penjual roti.

Nama Hafizh dipilihnya, saat dia mulai menulis puisi. Julukan "Hafizh" dinisbatkan pada seseorang yang hafal seluruh isi kandungan al-Qur'an dengan baik, dan itu memang hal sebenarnya. Hafizh memang "hafizh" al-Qur'an.

Dia juga mempelajari fiqh dan teologi, juga ilmu hitung (aljabar) dan astronomi. Hafizh pun menguasai seni kaligrafi dengan baik. Karena keahliannya itu, ia mendapat kedudukan istimewa, dianggap bagian dari mereka yang melanggengkan al-Qur'an, yang kala itu ditulis dengan tangan, tentu sebelum era percetakan.

Hafizh pengagum dan diwarnai pujangga-pujangga besar Persia, antara lain Sya'di Syirazi, Fariduddin Attar, dan Jalaluddin Rumi.

Puisi-puisi Hafizh

Larik-lirik puisi Hafizh, memiliki keunikan tersendiri. Sebuah puisi dengan ungkapan cinta alam semesta, keindahan dan kekayaan hidup ketika dillihat dengan mata cinta.

Hafizh dalam puisi-puisinya menggali perasaan dan kecenderungan-kecenderungan yang berkenaan dengan setiap tingkatan cinta, menelusuri setiap nuansa emosi secara mendalam dan detil.

Puisi-puisi Hafizh menggaris bawahi "jalan cinta" kaum mistikus: petualangan dari penyingkapan batiniah di mana cinta memendarkan batasan-batasan dan belenggu-belenggu pribadi untuk bergabung dengan proses-proses pertumbuhan dan transformasi yang lebih besar.

Melalui proses ini, maka cinta manusia, menurut Hafizh, akan menjadi cinta Ilahiah, yang berpuncak sang pecinta bersatu dengan sang sumber dan tujuan segala cinta. Itulah yang disebut Hafizh sebagai Kekasih Ilahi.

Puisi-puisi Hafizh, meski hidup di abad ke-14, amat populer di pelosok Timur Dekat dan India. Pandangan dan kasihnya, bahasanya yang halus dan ekspresif, penghormatannya yang mendalam pada keindahan dalam semua aspeknya, menjadikannya sebagai pujangga favorit para pecinta, dan terutama pecinta-pecinta Tuhan.

Hafizh mencintai dengan penuh dan tulus, sehingga ia menjadi perwujudan cinta yang hidup itu sendiri.

Hafizh hidup lebih kurang seabad setelah Rumi. Memang tidak sepopuler Rumi di Barat, yang dikenal dengan begitu luas. Banyak faktor yang melatarbelakanginya, salah satunya adalah penerjemahan puisi-puisinya yang diterjemahkan seadanya, tidak profesional. Penerjemah yang tidak kompeten dalam menerjemahkan puisi-puisinya yang dalam dan pekat. Tidak sebagaimana Rumi, yang karyanya diterjemahkan di Barat dengan penerjemahan yang lebih baik. Lebih utama lagi, tidak ada yang menerjemahkan utuh karya puisi-puisi Hafizh.

Jasa Clarke Pada Awalnya

Sampai pada waktunya di tahun 1891, Wilberforce Clarke, berhasil menerjemahkan dan menerbitkan karya Hafizh dalam edisi Inggris, 2 jilid, setebal 1.011 halaman. Judulnya The Divan-i-Hafiz. Inilah jasa Clarke yang mengawali penerjemahan karya puisi-puisi Hafizh dengan serius.

Lalu kemudian, Paul Smith, yang disebut sebagai pujangga kontemporer asal Australia, menulis sebuah versi dari seluruh puisi karya Hafizh, Divan of Hafiz, (1986).

Karya Smith ini, dianggap karya luar biasa, berdasar kerja ketekunan dengan mensimulasi gaya Hafizh dalam langgam irama versi Inggris, yang sedekat mungkin hampir sama dengan karya aslinya. Sehingga "rasa" yang didapat pembaca hampir seirama dengan bahasa aslinya (Persia), dan terutama agar tidak terjadi bias makna yang terkandung dari setiap puisi Hafizh. Ada 791 puisi yang dihasilkannya, dan itu termuat dalam jilid kedua dari bukunya.

Sedangkan jilid pertama, memuat bibliografi cukup panjang tentang Hafizh, kehidupan berikut puisinya. Dan yang menarik, disertakan pula kutipan puisinya oleh Goethe, Emerson, Edward Fitzgerald, guru Sufi Hazrat Inayat Khan (India) dan lainnya.

Inayat Khan menyebut misi Hafizh dalam penulisan karya puisi-puisinya, dengan pujian begitu tepat, "Misi Hafizh adalah untuk mengekspresikan bagi sebuah dunia baru yang fanatik, bahwa kehadiran Tuhan tidak saja dapat ditemukan di Surga, tetapi juga di atas bumi ini."

Setelah itu karya puisi-puisi Hafizh diterjemahkan secara baik di Barat. Beberapa diantaranya, A.J Arberry, Fifty Poems of Hafiz (edisi cetak ulang,1993). Sebuah kompilasi karya puisi-puisi pilihan.

Mehdi Nakosteen, The Ghazaliyyat of Haafez of Shiraz (1973). Terjemahan 124 karya puisinya dari bahasa Persia ke Inggris.

Buku karya Wilberforce Clarke The DivaniHafiz kanan dan buku puisi Hafizh lainnya FotoIstimewaBuku karya Wilberforce Clarke, "The Divan-i-Hafiz" (kanan), dan buku puisi Hafizh lainnya. (Foto:Istimewa)

Kisah Si Pengantar Roti dan Si Gadis Cantik

Kisah Hafizh menjadi murid pada "madrasah Sufi" adalah kisah populer, yang dikisahkan dalam banyak versi.

Saat menginjak usia 21 tahun, Hafizh "si pengantar roti" mengantarkan roti kesebuah rumah indah milik seorang bangsawan. Ditemuinya gadis cantik, anak bangsawan itu, di halaman rumah yang rindang. Sorot mata Hafizh tak berkedip memandang keelokan wajah gadis itu. Ia menampakkan ketertarikan, tapi tidak dengan gadis cantik itu, yang lalu melengos tanda tak menyukainya. Memang tautan yang tak sebanding, gadis cantik anak bangsawan dan Hafizh lelaki pengantar roti, yang tergolong pendek ukuran tubuhnya, dan secara fisik tak menarik. Berharap tanpa pengharapan, bertepuk sebelah tangan.

Bulan berganti bulan, dan bayangan gadis cantik itu tak juga sirna dari pelupuk mata. Makin dirindukan, makin tampak benderang. Sulit menyapu hilang dari ingatan. Hafizh pun lalu menggubah puisi-puisi dan kidung-kidung cinta, bagian dari merayakan kecantikan gadis idaman, dan kerinduan padanya. Puisi-puisi cinta itu begitu menyentuh, sehingga menjadikan karyanya terkenal di seantero negeri. Hafizh lalu mendapat julukan pujangga cinta.

Hasrat hati tak padam memikirkan untuk mendapatkan pujaannya. Maka Hafizh melakukan khalwat 40 hari. Berjaga saban malam tanpa tidur. Cuma cinta yang begitu kuat, yang menyebabkan ia mampu menyelesaikan khalwatnya.

Jalan Spiritualnya

Pada saat fajar di hari ke-40, datanglah sesosok manusia tampak sebagai orang suci. Sosok yang tidak dia kenal sebelumnya. Parasnya menawan, sosok yang indah dilihat. Terbersit di pikiran Hafizh, "Jika saja sosok ini datang menemuinya karena diutus Tuhan, pastilah Tuhan itu Maha Indah tak terbayangkan."

Hafizh lalu menjadi lupa pada sang gadis idamannya itu, ia berkata, "Aku hanya menginginkan Tuhan."

Lalu orang suci itu mengarahkan Hafizh untuk menemui guru spiritual, yang hidup di kota yang sama dengannya, Syiraz. Katanya, "Belajarlah dengannya, dan jadilah pelayan terbaiknya."

Hafizh lalu bergegas menemui sang guru itu. Dialah Muhammad Attar, yang dikenal juga sebagai pembuat parfum.

Inilah babak baru perjalanan spiritual Hafizh. Attar, sang guru, membuka cakrawala Hafizh guna menyegarkan persepsi yang lebih mendalam, tak semata relativitas kecantikan. Attar juga memberikan pemahaman yang jauh lebih luas dari perasaan cinta semata.

Hafizh dalam tempaan sang guru, berjuang keras menyempurnakan diri memusatkan seluruh pikiran dan laku ke fokus tunggal (Tuhan). Berjuang keras menyempurnakan cintanya kepada Tuhan, sampai tak sesuatu pun ada baginya.

Kekuatan puisi-puisi Hafizh bukan saja perenungan yang dalam yang membangkitkan gairah ketuhanan, tetapi juga kuat dengan simbol-simbol (metafora) yang memikat.

Puisi-puisi Hafizh bisa dinikmati layaknya mendengar sebuah kisah perjalanan anak manusia menuju kebahagiaan hakiki, pengetahuan dan cinta sempurna.

Apa itu cinta dan tawa mulia
Yang menguncup dalam kalbu kita?
Ia adalah suara kemenangan
Dari jiwa yang sedang terjaga!

- Tulisan ini amat terbantu dari buku karya Daniel Ladinsky, I Heard God Laughing, Renderings of Hafiz. Buku yang begitu memukau, menyelami Hafizh dengan begitu indahnya--.*

*Ady Amar, penikmat dan pemerhati buku, tinggal di Surabaya.

Ady Amar penulis FotoIstimewaAdy Amar, penulis. (Foto:Istimewa)

Penulis : M. Anis

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

02 Dec 2020 10:30 WIB

Atalanta Nyaris Tumbang di Kandang Lawan Midtjylland

Liga Champions

Atalanta hanya mampu bermain imbang 1-1 lawan tim tak terkenal.

02 Dec 2020 10:05 WIB

Ketua GP Ansor Instruksikan Banser Jaga Rumah Ibunda Mahfud MD

Nasional

Sudah menjadi tanggung jawab Banser untuk menjaga ulama dan tokoh NU.

02 Dec 2020 09:30 WIB

Dhito-Dewi Janji Akomodir Kaum Difabel Minimal 2 Persen

Pilkada

Paslon Dhito-Dewi janji akan akomodir kaum difabel

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...