Ketua Umum PP Muhammdiyah Haedar Nashir. (Foto: md)

Haedar Nashir: Lembaga Pendidikan Juga Mencerdaskan Akal Budi

24 Oct 2020 03:22

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Ketua Umum PP Muhammdiyah Haedar Nashir mengatakan, lembaga pendidikan sebagai usaha untuk mencerdaskan akal pikiran juga berperan untuk mencerdaskan akal budi yang melahirkan karakter utama.

Termasuk melalui hadirnya Universitas Muhammadiyah (UM) Papua, selain sebagai anugrah juga mengandung tantangan bagi Muhammadiyah untuk terus menghadirkan lembaga pendidikan di bumi Papua.

"Bersama dengan stakeholder terkait, Haedar berharap Muhammadiyah bisa mengakselerasi seluruh kegiatan pendidikan agar sumber daya insani di bumi Papua dan di negeri ini menjadi unggul dan berkemajuan.

"Dengan tidak meninggalkan karakter asli ke-Indonesiaan dan keragaman sesuai keadaan bangsa ini," tutur Haedar Nashir, saat launching Univertas Papua di Jayapura, via virtual, Jumat 23 Oktober 2020.

Selanjutnya, menurut Haedar, selain bidang pendidikan yang mempengaruhi kelangsungan sebuah bangsa-negara itu tergantung pada persatuan, kebersamaan, dan keutuhannya sebagai sebuah nations. Pecahnya Negara-negara besar yang dahulu pernah ada dan kini menjadi terpecah belah juga disebabkan karena adanya perpecahan dan separatism.

“Karena itu kita berharap dengan hadirnya lembaga pendidikan, kesehatan, dan berbagai gerakannya menjadi kekuatan perekat dan pemersatu bangsa. Tugas terberat kita saat ini satu di antaranya adalaha selain membangun sumber daya manusia yang unggul, yaitu juga tetap menjaga keutuhan dan persatuan nasional atau persatuan bangsa dari pusat sampai daerah," ungkapnya.

Persoalan yang merundung bangsa Indonesia harus mampu menjadikannya lebih dewasa sebagai sebuah bangsa. Dan menyadari perbedaan harus dibalut dengan semangat bhineka tunggal ika, dengan semangat persatuan Indonesia itu harus tetap menjadi komitmen bersama. Persoalan bangsa seberat apapun menurut Haedar akan selesai manakala memiliki spirit kebersamaan.

“Kebersamaan yang autentik, persatuan yang autentik. Persatuan yang bukan diatas kata-kata dan retorika, tetapi persatuan yang lahir dari jiwa yang tulus. Bahkan disaat kita berbeda, kita berusaha mencari titik temu bukan memperuncing perbedaan itu," urai Haedar.

Hatta, jika tidak ditemukan titik temu maka harus tetap bisa dengan sikap bijaksana sepakat dalam perbedaan. Nilai-nilai luhur ini diwariskan para pendiri bangsa, termasuk dari tokoh-tokoh Muhammadiyah. Bekal legacy ini menjadikan lembaga pendidikan Muhammadiyah menjadi kekuatan perekat bangsa yang menyebarkan nilai-nilai damai, toleran, persatuan dan kebersamaan demi masa depan Papua, Indonesia, bahkan demi masa depan kemanusiaan semesta.

“Muhammadiyah lahir bukan hanya untuk Muhammadiyah, Muhammadiyah lahir bukan hanya untuk kaum muslim, Muhammadiyah lahir untuk bangsa, Negara dan kemanusiaan semesta," tutur Haedar Nashir.