Wapres Jusuf Kalla ketika tampil di PBB pada 2018. (Foto: dok/ngopibareng.id)

Hadiri Sidang Umum PBB, Wapres JK Pimpin Delegasi RI

Internasional 23 September 2019 19:34 WIB

Wakil Presiden Jusuf Kalla menghadiri sidang umum PBB ke-74 di New York, AS, Minggu 22 September 2019 (waktu AS). JK wakili Presiden Jokowi untuk pimpin delegasi Indonesia berbicara.

JK dan istri, Mufidah Jusuf Kalla tiba di Hotel Westin New York, Sabtu 21 September). Kehadiran JK langsung disambut Menlu Retno Marsudi.

Selain itu, JK dan Mufidah juga disambut Menkominfo Rudiantara, Menteri ESDM Ignasius Jonan, dan Dubes Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk AS Mahendra Siregar.

Sidang umum PBB dihadiri pemimpin dari 193 negara anggota PBB, 100 kepala negara, tiga Wakil Presiden, 47 Perdana Menteri serta para 36 Menteri serta 2 Chairman of Delegation.

Di sela rangkaian Sidang umum PBB, Wapres diagendakan pertemuan bilateral dengan sejumlah pemimpin negara dan menghadiri undangan jamuan santap malam Presiden Donald Trump di Latte New York Palace Hotel.

Isu PBB

Terkait dengan PBB. Kini berkembang isu soal HAM. Sejumlah organisasi HAM terkemuka internasional meminta Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk secara terbuka mengecam China karena menahan lebih dari satu juta Muslim.

Surat bersama yang ditandatangani oleh Human Rights Watch, Amnesty International, Komisi Ahli Hukum Internasional, Federasi Internasional untuk Hak Asasi Manusia dan Konferensi Dunia Uighur juga mendesak sekjen PBB untuk menyerukan penutupan segera semua kamp penahanan di provinsi Xinjiang.

Organisasi itu mengatakan kecaman terbuka dari Guterres akan menjadi langkah penting untuk mengatasi "salah satu masalah HAM yang paling mendesak di zaman kita."

Pekan lalu, Guterres meluncurkan program baru untuk melindungi situs-situs keagamaan di seluruh dunia. Program ini bertujuan memberikan rekomendasi konkret untuk membantu negara memastikan bahwa rumah ibadah dan jemaat mereka aman, dan nilai-nilai kasih sayang dan toleransi dipupuk secara global.

Ia kembali menahan diri untuk tidak mengecam Beijing pekan lalu, seperti dilansir VOA. Benarkah ia memiliki pesan khusus bagi China mengenai penahanan dan penganiayaan terhadap Muslim Uighur.

"Pesan khusus saya untuk semua negara di dunia adalah kebebasan beragama perlu dihormati dalam segala situasi," katanya, "dan itu dalam konteks kebebasan beragama dihormati sepenuhnya, semua situs keagamaan harus dilindungi."

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

29 Sep 2020 06:20 WIB

5 Fakta Negara Vanuatu yang Singgung Papua di Sidang PBB

Internasional

Vanuatu, negara kecil yang indah tapi nenek moyangnya kanibal.

28 Sep 2020 20:45 WIB

Disekak Diplomat Perempuan, Begini Pidato PM Vanuatu di Forum PBB

Reportase

PM Vanuatu meminta agar Indonesia mematuhi pesan negara Pasifik.

28 Sep 2020 20:00 WIB

Wapres Sebut Parmusi Berdayakan Ekomi Rakyat

Nasional

Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) memberdayakan perekonomian.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...