Habibie Award Gengsinya Akan Ditingkatkan Setara Nobel

13 Nov 2019 05:14 Nasional

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro akan menjadikan Habibie Award sebagai pengakuan bergengsi bagi para peneliti di Indonesia dengan hadiah ditingkatkan dan bidang diperluas.

"Kalau di dunia ini setiap tahun komunitas tertentu dan orang secara umum menunggu siapa pemenang Nobel. Ada Nobel fisika, kimia, kedokteran, bidang saya ekonomi juga ada. Kami harapkan gema atau dampak seperti itu juga bisa dirasakan untuk Habibie Award," katanya saat Habibie Award 2019 di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat, Selasa 12 November 2019 malam.

Tahun ini ada lima penerima Habibie Award Tahun 2019. Antara lain, bidang Ilmu Dasar diraih Prof. Dr. Ivandini Tribidasari Anggraningrum, guru besar kimia di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI).

Ivandini telah menghasilkan delapan karya intelektual, tiga bersertifikat paten dan lima terdaftar paten. Sebagian besar karyanya tentang intan terdadah boron atau boron-doped diamond (BDD) sebagai sensor dan biosensor. Ivandini mengembangkan intan yang dilihat sebagian orang sebagai perhiasan saja menjadi bahan untuk teknologi katalis dan energi alternatif.

Penerima Habibie Award 2019 bidang ilmu kedokteran adalah Prof dr Adi Utarini, M.Sc., Ph.D. Adi Utarini adalah seorang dokter dan guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM).

Sebagai Ketua Peneliti World Mosquito Program Yogyakarta, Adi Utarini menemukan terobosan biologis dalam mencegah penyakit demam berdarah dengue dengan memasukkan bakteri Wolbachia ke tubuh nyamuk Aedes aegypti. Bakteri ini mampu menghambat berkembangnya virus demam berdarah dengue dalam tubuh nyamuk sehingga virus tersebut terhambat dalam menulari manusia.

Penerima Habibie Award 2019 Bidang Ilmu Rekayasa adalah Prof Dr Ir Tati Latifah Erawati Rajab, seorang guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB). Karyanya mencakup berbagai alat kesehatan yang sudah dipakai di rumah sakit, mencakup alat bantu rehab medik pasca operasi, software pemeriksaan mata, sistem sensor ElectroEncephaloGraphy, serta sistem deteksi dini kanker payudara.

Tiga patennya yang terdaftar mencakup Non-Invasive Vascular Analyzer (NIVA) yang mendeteksi tingkat kelenturan pembuluh darah, alat medis ElektroKardioGrafi 12 Lead dengan Telemetri, dan alat medis Elisa Reader terbaru yang mendeteksi hepatitis B.

Penerima Habibie Award 2019 bidang ilmu sosial dan politik adalah Prof Dr Eko Prasojo, Mag.rer.publ., guru besar dan dekan pertama Fakultas Ilmu Administratif Universitas Indonesia (FIA UI).

Eko Prasojo yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi ini telah menulis puluhan karya pada jurnal ilmiah dan opini media massa. Eko Prasojo juga menulis lima belas buku, termasuk Deregulasi dan Debirokratisasi Perizinan di Indonesia (2007).

Penerima Habibie Award 2019 Bidang Ilmu Kebudayaan adalah Dr (HC) I Gusti Ngurah Putu Wijaya, SH. Penulis naskah drama yang tiga karyanya telah mendapat Piala Citra dari Festival Film Indonesia ini mendapat gelar doktor honoris causa dalam bidang teater dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan juga penghargaan Southeast Asian Writers dari Kerajaan Thailand.

Setiap penerima Habibie Award 2019 mendapatkan medali dan sertifikat Habibie Award dan hadiah sebesar 25 ribu Dollar Amerika Serikat atau Rp351 juta. Turut hadir dalam kesempatan ini Ilham Habibie, Ketua The Habibie Center Sofian Effendi, dan Ketua Yayasan Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Yayasan SDM Iptek) Wardiman Djojonegoro, serta keluarga penerima Habibie Award 2019.

Bambang menjelaskan, selama dua puluh tahun sejak tahun 1999 hingga 2019, Habibie Award telah diberikan oleh Habibie Center dan Yayasan Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Yayasan SDM Iptek). Mulai tahun depan Kemenristek/BRIN akan turut terlibat menyelenggarakan Habibie Award dan memberi hadiah serta insentif melalui penganugerahan yang diinisiasi oleh Almarhum Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie tersebut.

"Ini cara terbaik untuk mendorong para peneliti, terutama yang berusia muda untuk tetap konsisten dalam bidang pekerjaannya. Membina peneliti itu tidak mudah. Paling berat adalah menjaga konsistensinya agar dia tetap di bidang penelitian," katanya.

Saat ini Habibie Award diberikan bagi seseorang atau badan yang sangat aktif dan berjasa besar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan pada lima bidang, yaitu ilmu dasar, ilmu kedokteran, ilmu rekayasa, ilmu sosial dan politik, dan ilmu kebudayaan. Bambang Brodjonegoro berharap penerima dari lima bidang tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi peneliti lain di bidang serupa.

"Mereka bisa menjadi contoh rekan-rekan sejawatnya, koleganya bahwa kalau konsisten terus di bidangnya, dan terus melahirkan penelitian berkualitas, maka akhirnya yang didapat adalah award. Itulah yang diinginkan, kami angkat Habibie Award di tingkat nasional sehingga semua peneliti di bidang lima tadi kemudian membuat target. Kalau dia relatif muda, mungkin dia membayangkan, saya akan fokus penelitian di bidang ini dengan terobosan kekhususan di bidang tertentu sehingga target saya lima tahun lagi bisa menang Habibie Award," kata Bambang.

Penulis : Asmanu Sudharso
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini