Fathorrahman Fadli

Gus Sholah dan Kerinduan Lahirnya Pemimpin Profetik

Fathorrahman Fadli 03 February 2020 14:42 WIB

Ketika tersebar berita perihal sakit Gus Sholah menemui titik kritis, saya sudah punya firasat buruk, bahwa ia segera menghadap Sang Khaliq dengan membawa integritas yang ia tebar dalam tulisan, ceramah-ceramah, dan nasihat-nasihat pendek beliau. Juga dalam sikap-sikap hidupnya sehari-hari.

Berita itu tentu menyisakan duka yang mendalam dan rasa kehilangan bagi seluruh umat dan bangsa ini. Untuknya kita panjatkan doa semoga almarhum mendapatkan "makamam mahmuda". Aamiiin Ya Robb!!

Namun disisi lain peristiwa kematian, sejatinya adalah peristiwa biasa dalam kehidupan. Hidup dan mati itu adalah satu kesatuan yang integral sebagai takdir. Takdir itu adalah hak prerogatif Tuhan. Tak ada satupun makhluk yang bisa lari dari takdir Ilahi itu.

Sebagaimana Alquran menegaskan," - Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan" ( Al Jumu'ah:8).

Oleh karena itu kepergian beliau tak perlu ditangisi atau dibumbui kesediaan yang teramat sangat. Cukuplah peristiwa wafatnya tokoh besar NU itu sebagai pelajaran berharga, terutama sebagai energi kehidupan untuk meraih kemaslahatan yang lebih besar.

Banyak pelajaran yang bisa ditimba dari sosok yang mulia itu. Gus Sholah adalah sosok teladan Umat yang layak mendapatkan penghormatan yang memadai terutama dalam soal menjaga integritas pribadinya ditengah-tengah godaan pragmatisme politik bangsa ini.

Banyak tokoh NU yang kerap melakukan akrobat politik hanya untuk meraih remah-remah kekuasaan dan uang tak seberapa. Untuk itu mereka rela kehilangan marwahnya sebagai tokoh, juga kehilangan elan vitalnya sebagai panutan umat.

Pada yang demikian itu, umat kehilangan tempat bertanya akan masalah-masalah pelik kehidupan umat yang mendera mereka. Pada soal ini, Gus Sholah menaruh perhatian yang besar. Dimata Gus Sholah, posisi Kyai itu merupakan penerjemah kehidupan (Social Interpreter) yang perannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat muslim terutama yang hidup dipedesaan.

Semua tingkah laku Kyai akan langsung dilihat, diamati, dan dipikirkan masyarakatnya. Kyai adalah elit sosial keagamaan yang rumahnya kerap menjadi tumpukan limbah beban hidup masyarakat. Oleh karena itu dimata Gus Sholah, sangatlah penting seorang Kyai itu menjaga marwahnya dalam masyarakat.

Integritas adalah kunci, keterpaduan antara ucapan dan tindakan adalah harta yang sangat berharga dalam menjalani profesi keulamaan itu sendiri. Sebagai tokoh panutan dikalangan Kaum Nahdliyin, Gus Sholah sangat berhati-hati dalam menjaga moralitas pribadinya. Ia memposisikan dirinya sebagai tokoh umat yang menyejukkan, dan tidak gemar membuat kontroversi yang tidak perlu.

Gus Sholah sebagaimana diakui banyak tokoh umat lainnya, terbilang sosok yang dicintai bukan hanya dikalangan NU, namun juga dikalangan kelompok modernis lainnya seperti dikalangan HMI, Muhammadiyah, Persatuan Islam, Dewan Dakwah Islamiyah, maupun kalangan terdidik lainnya.

Penghormatan terhadap Gus Sholah sebagai tokoh yang penuh kearifan, juga muncul dari kalangan non muslim. Pendek kata Gus Sholah adalah tokoh yang betul-betul berada secara tegak lurus ditengah-tengah umat dan bangsa.

Dari gurat-gurat wajahnya, terkadang ia merasa sepi. Ia merindukan kehadiran tokoh-tokoh umat yang mampu membawa pesan-pesan profetik Islam yang lebih membumi, tanpa harus menjual dirinya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Gus Sholah merindukan hadirnya pemimpin Umat dari berbagai kalangan, baik ia dari NU maupun muhammadiyah yang mampu membawa persatuan dan kesatuan umat. Bukan memecah belah umat. Dari situlah Gus Sholah menaruh kesadaran yang tinggi akan pentingnya dakwah yang merangkul, bukan memukul. Dakwah yang mendewasakan dan bukan yang menyebalkan.

Mengapa Gus Sholah mengambil sikap seperti itu. Rasa-rasanya beliau menyakini bahwa Umat Islam itu sesungguhnya satu dalam akidah. Beliau sangat menghayati konsep Tauhidul- Aqidah (kesamaan di dalam Akidah). Oleh karena itu beliau meyakini pula bahwa sejatinya umat itu bisa juga berada dalam kesatuan gerakan (Tauhidul H)arakah).

Hal ini diakui oleh tokoh Muhammadiyah Dien Syamsudin di mana Gus Sholah kerapkali mengajak dirinya untuk berkumpul merumuskan strategi perjuangan umat sebagai agenda bersama. Silaturahmi atas dasar prinsip saling percaya (mutual trust) di kalangan tokoh-tokoh umat adalah kuncinya.

Dalam konteks relasi antara NU dan Muhammadiyah, Nurcholish Madjid selaku pemikir besar kerapkali menyederhanakan keduanya ibarat dua sayap Garuda Islam Indonesia (GII). Sebagai sayap Garuda, NU dan Muhammadiyah tidak boleh saling bergesekan satu sama lain. Namun justru harus saling mendukung dan bahu membahu agar Umat Islam Indonesia bisa take off dengan sukses, terutama dalam menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks.

Harapan Cak Nur ini tidak akan pernah terwujud jika tokoh-tokoh Umat itu masih memelihara egoismenya masing-masing dengan cara membenturkan perbedaan dan bukan mendekatkan persamaan akidah itu sendiri.

Pelajaran Untuk HMI, PMII, dan IMM

Rasa-rasa, sepeninggalnya Gus Sholah, kita mesti memetik pelajaran berharga dari beliau semasa hidupnya. Gus Sholah tokoh yang merangkul, bukan memukul.
Semangat ini sangat penting ditularkan pada anak-anak Umat yang sedang belajar organisasi, baik di HMI, di PMII, maupun di IMM.

Mengapa? Karena sumber mata air ketokohan umat itu munculnya dari sana. Ada juga. Banyak yang lain, namun yang lebih terlatih menyeimbangkan pemahaman akan Keislaman dan Keindonesiaan itu adalah mereka. Kepada merekalah kita semua berharap akan masa depan Umat yang lebih baik.

Mereka adalah sekumpulan calon pemimpin umat yang tidak boleh kita rusak oleh kepentingan pragmatisme politik jangka pendek yang membuyarkan harapan umat yang lebih besar.

Mereka semua harus berlatih membuka diri, membangun dialog yang terbuka untuk bersama-sama merumuskan agenda umat. Hal ini penting agar bangsa yang mereka cintai itu tidak mudah dicaplok orang asing yang datang untuk merusak dengan cara memberinya makan, mempengaruhi, memperalatnya, lalu menipunya.

Semoga wafatnya tokoh besar Umat K.H. Ir. Solahudin Wahid itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi pendewasaan umat dan bangsa ini.

*) Penulis adalah Direktur Eksekutif Indonesia Development Research (IDR), Dosen dan alumnus HMI.

Penulis : Fathorrahman Fadli

Editor : Rohman Taufik

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

06 Apr 2020 17:00 WIB

Pasar Kapasan Dibuka Hanya untuk Pedagang

Surabaya

Tapi tidak ada transaksi, hanya diizinkan mengambil barang yang tertinggal

06 Apr 2020 16:47 WIB

Guru Besar UI Sebut Disinfektan Berbahaya Bagi Lansia

Nasional

Disinfektan berbahaya jika disemprotkan langsung kepada manusia.

06 Apr 2020 16:32 WIB

Usaha Jahit Sepi, Pasangan Ini Malah Sumbang APD Gratis

Feature

Ivan Brekele merasa cuma bisa membantu semampunya.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.