Gus Mus Sorot Perilaku Wakil Rakyat yang Kurang Adab

10 Oct 2019 18:20 Politik

KH Ahmad Mustofa Bisri mengungkapkan keprihatinannya pada perilaku wakil rakyat yang menunjukkan pemandangan tak elok di masyarakat. Hal itu kerap disaksikan di layar televisi, elite politik tidak lagi menghargai adab dan tata sopan santun dalam berbicara.

"Dari orang yang tidak beradab pun, kita bisa belajar menjadi orang beradab," kata KH Ahmad Mustofa Bisri pada akun facebooknya, Kamis 10 Oktober 2019, pukul 16.32 WIB.

Komentar Gus Mus ini, langsung bisa ditebak tujuannya. Ia menampilkan foto penuh ketegangan di wajah Arteria Dahlan dan Prof Emil Salim, yang tersenyum. Tentu saja, hal itu mendapat respon dari warganet. Fauzi Fauzi, misalnya, memberikan respon atas komentar Gus Mus tersebut.

"Enjih Mbah Yai,,, Cermin buat diri kita untuk koreksi dan bisa memperbaiki adab diri," kata Fauzi.

Muchus Budi R, juga memberikan komentarnya. "induk dari segala berhala adalah 'aku'.(Jalaluddin Rumi)," tuturnya.

"Sakit hati ini melihat tingkah laku wakil rakyat kita yg tak punya adab Mbah Yai..," kata Yeksa Sarkeh Chandra.

Seperti diketahui, anggota Komisi III DPR RI Arteria Dahlan memberikan pernyataan yang mengundang kontroversi. Arteria Dahlan sebelumnya terlibat adu argumen dengan ekonom senior, Emil Salim, saat menjadi bintang tamu di acara Mata Najwa, Rabu 9 Oktober 2019 malam.

Arteria Dahlan dan Emil Salim dalam tayangan televisi Foto akun fb Gus Mus
Arteria Dahlan dan Emil Salim, dalam tayangan televisi. (Foto: akun fb Gus Mus)

Dalam potongan video yang tersebar, nampak Arteria Dahlan terlibat adu argumen dengan memotong pembicaraan dan menyebut Emil Salim sesat.

Sikap tak terpuji itu pernah juga dilayangkan Arteria Dahlan untuk Kementerian Agama yang dipimpin Lukman Hakim.

Dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi III bersama Jaksa Agung, pada 28 Maret 2018, Arteria Dahlan sempat mencela Kementerian Agama dengan kata 'b*ngsat'. Hal itu ia sampaikan terkait kasus penipuan ibadah umrah.

Pernyataan kasar politisi PDIP ini bermula pada saat ia membahas tentang pola penindakan jaksa agung yang bermain di hilir. Politisi berusia 43 tahun itu berdalih bahwa ia hanya memberikan masukan agar jaksa agung menangani kasus First Travel, dengan melalukan penindakan di hulu.

Namun, Arteria Dahlan beralasan yang memaki tersebut ia ungkapkan bukan ditujukan kepada menteri agama, melainkan kepada sistem pengawasan yang lemah, sehingga penipuan travel ibadah umrah tidak kembali terulang.

Kini, giliran Emil Salim yang kena semprot Arteria Dahlan. Hal itu berlangsung saat Emil Salim diberi kesempatan host Mata Najwa, yakni Najwa Shihab untuk membicarakan tema 'Ragu-ragu Perpu' terkait revisi Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Emil Salim mengatakan bahwa ada kewajiban dalam UU KPK untuk menyampaikan laporan. Arteria menepis hal tersebut.

"Nggak pernah dikerjakan Prof. Prof tahu nggak?" kata Arteria Dahlan sambil membetulkan posisi duduknya. Ia tampak setengah berdiri sembari menghadap ke arah Emil Salim.

"Tiap tahun menyampaikan laporan," ujar Emil.

"Mana Prof, saya di DPR, Prof. Nggak boleh begitu Prof, saya yang di DPR saya yang tahu, mana, Prof sesat, ini namanya sesat," kata Arteria memotong pernyataan Emil dengan menunjuk-nunjuk ke arah Emil.

Perdebatan Arteria dengan Emil Salim tak berhenti di situ. Di segmen lain, Arteria Dahlan terlibat perdebatan soal demokrasi, pemilihan dan korupsi.

"Jadi yang jadi soal Bung. Ada credibility gap, Bung yang dipilih, yang menjadi persoalan itu apa cara memilih itu bebas dari korupsi," kata Emil Salim.

"Iya lah," ujar Arteria Dahlan.

Saat Emil Salim berniat melanjutkan pernyataannya, Arteria Dahlan kembali menyela.
"Ada buku Bung...," ujar Emil Salim.

"Jangan...Prof nanya saya bebas korupsi atau tidak, saya yakin. Jangan digeneralisir, Anda bisa jadi menteri karena proses politik di DPR, Pak jangan salah," ujar Arteria Dahlan yang awalnya duduk bersender kemudian badannya dimajukan sambil menunjuk Emil Salim. Suaranya meninggi.

"Kasih contoh, Pak ke generasi muda kita, bernegara dengan baik, beradab dengan baik dan beretika dengan baik," sambung Emil Salim.