Dari kondang Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah). (Foto: Istimewa)

Gus Miftah: Tak Seorang pun Boleh Dihinakan

22 Nov 2020 08:07

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Dari kondang Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah) mengingatkan, seorang habib sudah selayaknya menjadi panutan pengikutnya dalam bersikap.

Gus Miftah menyebut, para habaib (bentuk jamak habib) tak boleh direndahkan sebab di dalam dirinya mengalir darah Nabi Muhammad SAW. Namun, dia juga mengaskan bahwa seorang habaib pun tak pantas melakukan hal serupa, menghina orang lain.

Gus Miftah, beberapa waktu lalu, live di akun instagtram pribadinya, dengan dialog seperti berikut.

“Gus, boleh gak kita menghina habaib?"

Jawab Gus Miftah: "Tidak boleh!

"Kenapa?"

"Karena dalam tubuh habaib ada darahnya Nabi."

"Lalu bolehkah habaib menghina orang lain?"

Gus Miftah: "Tidak boleh. Masa di dalam tubuhnya ada darah Nabi kok menghina orang lain? Kan gak pantes".

"Terus siapa orang yang boleh kita hinakan?"

Gus Miftah: "Tidak ada satu pun orang yang boleh kita hinakan".

Sesama manusia

Sebelumnya, Ketua PCNU Kota Pasuruan, KH Mohammad Nailur Rochman mengatakan, Nabi Muhammad SAW adalah manusia terbaik dan Nabi yang paling istimewa. Begitu pun, menurut Gus Amak -- panggilan akrabnya -- ada batasan jangan sampai menuhankan Nabi, karena bagaimanapun Nabi bukanlah Tuhan.

Menurut Gus Amak, tugas kita sebagai Muslim adalah mengajak sesama manusia untuk beribadah kepada Tuhannya semua manusia yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena siapapun mempunyai kesempatan untuk mendapatkan ampunan Allah dan masuk ke dalam Surga-Nya.

"Ajaran dalam Islam tidak membenarkan bahwa dengan modal "kemuliaan" kemudian boleh merendahkan siapa saja, boleh melakukan apa saja, boleh mengatakan apa saja, termasuk menebar "kalam fahisy" yang berupa olokan-olokan penghinaan dan ujaran penuh caci maki dan kebencian.

"Nabi Muhammad SAW adalah manusia terbaik dan Nabi yang paling istimewa, itupun ada batasan jangan sampai menuhankan Nabi, karena bagaimanapun Nabi bukanlah Tuhan. Jika untuk mencintai manusia paling mulia saja tidak boleh melebihi batas ke"hamba"an, maka mencintai manusia biasa juga harus terukur sesuai ketentuan, tidak berlebih-lebihan," tuturnya.