Grand Mufti Lebanon Sambut Muhammadiyah, Ini Misi Dakwahnya

22 Sep 2019 18:03 Pendidikan

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, karakter masyarakat dan Islam yang moderat tersebut merupakan hal yang tepat untuk Indonesia.

"Kita diperintahkan untuk menjadi umat yang adil, moderat dan proporsional dalam bertindak. Banyak dari kita yang berhenti hanya sampai pada tahapan ini, padahal itu harus diikuti dengan keharusan kita menjadi saksi atas apa yang sudah dilakukan oleh kita dan saudara-saudara kita yang lain. Ini yang Muhammadiyah selalu coba ingat dan lakukan dalam setiap tindakannya," ungkap Haedar, dalam keterangan diterima ngopibareng.id, Minggu 22 September 2019.

Hal itu selaras dengan pesan Al -Quran pada surat Al-Baqarah ayat ke 143, sebagaimana diperintahAllah subhanahu wa ta'ala. 'Dan demikian (pula) Kami menjadikan kamu ummatan wasathan agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia'.

Haedar mengingatkan, sebagai salah satu amal usaha Muhammadiyah yang mengusung paham Islam moderat.

"Kenapa Muhammadiyah selalu memberitakan dan menyebarkan nilai-nilai Islam? Tidak lain adalah karena kita ingin menyampaikan bahwa nilai Islam adalah rahmat yang universal. Ini bukan retorika semata tapi merupakan bukti konkret dalam bentuk amaliah yang nyata.

"Dengan pemikiran dan sumber daya manusia yang maju, tetapi amaliah kita juga tetap mencerminkan nilai-nilai Islam. Ini merupakan bukti bahwa Islam mampu membangun sebuah peradaban untuk menjadi maju dan kita harus menjaga ini tetap menjadi bagian dari sifat kita," kata Haedar.

"Tidak ada manifestasi Islam kecuali dalam amal, dan melalui amal ini kita menjadi organisasi yang dikenal tidak hanya di Indonesia tapi juga di kancah internasional. Ini yang dilakukan KH Ahmad Dahlan dalam masa awal perjuangannya. Ketika agama lain membuka sekolah maka Dahlan membuka sekolah. Ketika mereka membuat rumah sakit Dahlan juga melakukannya.

"Berlomba dalam kebaikan, ini yang seharusnya kita contoh dari KH Ahmad Dahlan. Kita tidak memerangi mereka yang zindiq dengan kekerasan namun dengan amalan baik yang mampu kita lakukan," jelas Haedar.

Haedar bersama Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Noordjannah Djohantini terkait kunjungannya kepada Grand Mufti Republik Lebanon, Sheikh Abdul Latif Derian di Gedung Fatwa Lebanon pada Kamis 19 September 2019. Pertemuan yang juga dihadiri Duta Besar Indonesia untuk Lebanon, Hajriyanto Y Thohari dan Atase Kebudayaan Bashiruddin A. Hadiah tersebut membahas penguatan hubungan antara Indonesia dan Lebanon.

Dalam pertemuan tersebut Haedar menyampaikan tiga hal:

Pertama, yakni memperkuat hubungan persaudaraan antara Asosiasi dan lembaga Fatwa di Republik Lebanon.

Kedua, Haedar mengajak Drian untuk menghadiri Muktamar Muhammadiyah yang akan digelar pada Juli tahun 2020 di Surakarta.

Ketiga, Haedar turut menjelaskan peran Muhammadiyah dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan.

“Apa yang dilakukan oleh Muhammadiyah merupakan bentuk nyata menghadirkan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, dan bermanfaat secara universal,” jelas Haedar.