Godaan Kikil Sapi Pagesangan, Mana Tahan...

06 Jan 2019 13:36 Kuliner

Sikil sapi, ada yang mau? Eh kok sikil sih! Sikil itu bahasa Jawa. Artinya kaki. Berarti kaki sapi.

Masak sikil mau ditawarkan? Lagi pula kalau sikil sapi ditawarkan apa yang empunya sikil tak marah tuh. Kena sepak kakinya sapi tahu rasa!

Yang benar itu, penawarannya, harusnya, adalah kikil sapi. Mau kikil sapi? Nah ini baru benar.

Kalau ini yang ditawarkan, yakin deh banyak telunjuk jari yang berebut teracung ke atas kepala. Uhuiii termasuk saya dong... 

Menu kikil sapi memang kuliner yang asik. Selalu jadi pilihan kalau boring dengan menu yang itu-itu saja.

Warung dengan menu khususon kikil sapi di Surabaya buanyak. Susah dihitung, dan susah pula mengingatnya.

Kikil sapi yang enak sih banyak. Bahkan rata-rata warung kikil sapi bisa dibilang enak. Tapi yang bisa disebut enak dan sedap jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Nah, sedikit kan?

Sebentar. Ukuran enak dan sedap itu seperti apa? Jawabnya bisa absurd lho. Tapi, kira-kira, rambu-rambu sederhananya begini: makan satu mangkok kikil saja sudah puas. Bibir bisa berdecap lega, sementara hati juga bisa bilang enak. Selesai. Hanya itu saja.

Kalau enak dan sedap bicaranya jadi lebih panjang. Perut juga serasa bisa menampung lebih panjang. Lebih banyak. 

Penunjuk sederhana itu pun dibranding sama produk kecap FotoWidingopibareng id
Penunjuk sederhana, itu pun dibranding sama produk kecap. (Foto:Widi/ngopibareng id)

Begini logikanya: makan satu mangkok kikil tak puas rasanya. Maka minta nambah untuk mangkok kedua. Mangkok kedua ludes rasanya perut masih bisa muat semangkok lagi. Jadi pinginnya nambah mangkok ketiga.

Tapi mau yang ketiga rasanya malu sama kanan dan kiri, sebab nanti bisa dibilang rakus. Wiii makannya banyak. Apa ndak takut kolestrol tuh, apa ini apa itu dan seterusnya.

Akhirnya mangkok ketiga hanya jadi angan-angan. Lalu hati seakan-akan "bersumpah", akan segera balik lagi kalau ada kesempatan.

Sementara decapan lidah tak henti-hentinya komat komit. Seraya mungkin bibir kepedasan, dia  bilang: uihhh uenaknya bukan main. 

Jadi enak sama uenak jelas beda dong...

Di Jalan Pagesangan Surabaya siapa menyangka ada kikil euenak dan suedap yang rekomen. Kalau di area wilayah itu, kikil sapi yang jadi buah bibir adalah kikil di pojokan jalan sepanjang. Seberang jembatan yang mau menuju Stasiun KA sepanjang itu. Yang di Pagesangan itu rupanya luput dari tim kuliner ngopibareng.id. He he he he he. 

Warung kikil Pagesangan ini tak ada penunjuknya sama sekali. Nemplek di tembok pabrik korek api yang cukup melegenda di kawasan Pagesangan itu. Tapi orang pada tahu, andainya ada yang bertanya, "Mana kikil yang ngetop itu?" Di luar kepala orang akan menjawab, "Ooo kikil Pak Said to, tuh depan Indomart."

Kikil Pak Said ini memang sudah lama ngetop. Menurut sing ngedoli (karena saat itu Pak Said ndak kelihatan, red) warung nemplek di tembok pabrik ini sudah ada dan nemplek begitu sejak tahun 1974. Bertahan hingga sekarang. Tak ada yang berubah. Kalau berubah mungkin hanya piring dan sendok saja. 

Tetap tak punya space parkir. Tetap mengundang kemacetan. Tetap membuat orang Indomart kelabakan karena pelanggan yang pakai mobil suka parkir di area mereka.

Potongannya bikin lidah ser serrrrr FotoWidingopibarengid
Potongannya bikin lidah ser serrrrr. (Foto:Widi/ngopibareng.id)

Maka, sentuhan kepedulian adalah perlu. Kalau Anda pelanggan kikil, kemudian pakai moda mobil pribadi, boleh saja parkir barang sebentar di area Indomart. Belilah minum atau camilan di sana. Air kemasan atau soft drink pasti tersedia. Dingin lebih nikmat bukan. Biar mereka juga dapat omzet, biar para karyawan juga tak cemberut berkepanjangan. Syukur-syukur bungkusin satu atau dua, pasti mereka juga "mempersilakan" parkirnya dipakai sebentar.

Butuh hati dan rasa. Karena memang problemnya kikil keren ini ada di space parkir. Kalau bawa motor pasti lebih simple. Nah, kalau berombongan, ini yang jadi hal kalau tepaselira diabaikan. Makan enak, tapi setelah itu dicemberuti rasanya jadi ada taste yang berkurang.

Kalau soal pabrik korek apinya sepertinya no problem. Temboknya dibuat nempel. Asal bersih, jalan terus. Lagian sudah sejak tahun 1974. 

Harusnya Pak Said mulai memikirkan pelanggan. Memikirkan parkir. Memikirkan kroditnya jalan Pagesangan kalau pelanggannya datang bejibun. Dengan seporsi Rp25.000, lontong plus kikil, dengan pelanggan bejibun begitu, rasanya mencari area yang menyenangkan pelanggan adalah perlu.

Pelanggan tidak kepanasan. Pelanggan tidak was-was. Pelanggan tidak sumuk. Berdempet-dempet kursi. Tidak nyenggol bokong orang. Tidak menyenggol sikut dan sendok orang, dan seterusnya. 

Bravo Pak Said, semoga segera punya area yang lebih suedap dan nyuaman. Bebas dari cemberutan orang. Hoeee sudah maksi belum? Sekalian habiskan week end hari ini buktikan kikil Pak Said menika nggih. (widikamidi)

Penulis : Widi Kamidi


Bagikan artikel ini