GMNI Pertemukan NU-Muhammadiyah, Ini yang Terjadi

25 Jul 2019 03:42 Khazanah

Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini mengatakan, pendiri Budi Utomo, Dr Soetomo mengakui tentang peran pesantren jauh sebelum pemerintahan Hindia Belanda mendirikan sekolah, pesantren telah menjadi sumber pengetahuan dan mata air ilmu bagi masyarakat.

"Meskipun (NU) berdirinya tahun 26 (1926), tapi pemikiran, gagasan tentang bagaimana bangsa ini insya Allah telah mendahului Muhammadiyah yang berdiri 1912," kata Helmy disambut tawa peserta dialog Peradaban Bangsa, Islam, dan TNI yang diselenggarakan DPP PA GMNI di Jakarta, Senin 22 Juli 2019 lalu.

Selanjutnya Helmy mengatakan, kebijakan seorang pemimpin itu terkait langsung dengan kemaslahatan. “Siapa pun jadi pemimpin sepanjang lahirnya kemaslahatan di masyarakat,” ujar Helmy.

Sementara itu, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu'ti mengatakan, Muhammadiyah telah banyak melahirkan kader bangsa yang kemudian menjadi tokoh penting dalam sejarah lahirnya bangsa Indonesia, seperti presiden pertama Indonesia Soekarno, penjahit bendera merah putih Fatmawati, anggota Pandu Hizbul Wathan Jenderal Soedirman, dan tokoh BPUPKI Ki Bagus Hadikusumo.

“Hanya NU yang tidak dilahirkan oleh Muhammadiyah,” ujar Mu’ti.

Lebih lanjut Mu'ti menyampaikan, Indonesia rumah untuk semua golongan dengan menempatkan Pancasila sebagai konsensus yang final.

“Jika dikaitkan dengan peradaban, "tarikannya" terletak pada Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI,” imbuh Mu’ti.

"Pendiri Budi Utomo, Dr Soetomo mengakui tentang peran pesantren jauh sebelum pemerintahan Hindia Belanda mendirikan sekolah, pesantren telah menjadi sumber pengetahuan dan mata air ilmu bagi masyarakat."

Menurut Mu'ti, Muhammadiyah bertanggungjawab terhadap itu semua. "Muhammadiyah bertanggung jawab sejak awal Pancasila milik kita bersama. Dalam rumusan Muktamar Muhammadiyah ke 47 Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wasy Syahadah," kata Mu'ti.

Konsensus segala bangsa harus hadir di dalamnya memberi makna kehadiran kita kemudian memberi kontribusi negara yang sesuai cita-cita bangsa alinea keempat pembukaan UUD 1945 ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sedangkan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyampaikan TNI tidak lahir secara ujug-ujug melainkan melalui proses panjang. Mantan Panglima TNI itu mengatakan, sebelum disahkan menjadi TNI oleh Bung Karno, para prajurit ikut berjuang melawan penjajah dalam wadah bernama Tentara Rakyat.

Menurut Moeldoko, sejak awal TNI bersama kalangan nasionalis dan agama bagaikan tiga serangkai yang tidak bisa dipisahkan mengawal berdirinya Republik Indonesia. Peran ini, katanya, semakin harmonis hingga sekarang.

"Apakah tiga-tiganya eksis? Tidak perlu diragukan kalau bicara Islam, jelas perjuangan bagian dari iman. Kalau kita lihat kelompok nasionalis, kalau tidak ada nasionalis ambruk. Posisi nasionalis ini bisa bertahan dari tarikan kanan kiri," tutur Moeldoko.

Pembicara lainnya Hasto Kristiyanto, Sekjen PDI Perjuangan memberikan pandangan yang progresif tentang peradaban bangsa. Kalangan nasionalis dikatakannya sangat membutuhkan TNI, NU, Muhammadiyah dan lembaga atau organisasi keagamaan lainya.

Acara dibuka secara resmi oleh Ahmad Basarah, Wakil Ketua MPR RI yang juga ketua umum PA GMNI. (adi)

Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini