Gerakan Akal Sehat, atau Gerakan Akal-Akalan?

02 Feb 2019 16:05 Erros Djarot

Dalam perhelatan pemilu-pilpres yang tengah berjalan, memberi bahkan memperbesar tempat untuk akal sehat eksis dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, merupakan pilihan yang menjadi wajib hukumnya untuk disepakati.

Kesepakatan ini wajib dijadikan pegangan bagi setiap elemen bangsa yang aktif berkiprah dalam kegiatan politik pada pemilu-pilpres kali ini, dan seterusnya. Sikap anti terhadap akal busuk dan akal-akalan membusukan lawan, dengan sendirinya merupakan hal yang harus dipegang teguh yang bersifat wajib untuk dipatuhi.

Itulah sebabnya ketika akal sehat dikampanyekan sebagai pijakan gerakan dalam menjalankan salah satu amanat penting preambule UUD’45… 'mencerdaskan kehidupan bangs' dilakukan oleh seorang tokoh, kontan dukungan saya berikan tanpa reserve.

Oleh karenanya setiap kegiatan dan kiprah sang tokoh yang hyper aktif hadir dalam berbagai panggung kampanye politik pada pemilu-pilpres kali ini, selalu saya ikuti dan cermati secara intensif. Tentu kepadanya saya tumpukan harapan sangat besar agar sukses dan gerakannya didukung masyarakat luas dalam upaya menyuburkan akal sehat di negeri ini.

Pada awal pemunculannya, sangat mengagumkan. Karena pemikiran dan nilai-nilai yang ditawarkan kepada publik dikemas dan disampaikan lewat tutur kata, diksi dan redaksi yang begitu indah. Penampilan fisiknya pun tak kalah indahnya dari setiap ‘bahasa intelek’ yang meluncur dari mulutnya.

Decak kagum pun mengema di seluruh Nusantara. Bahkan ada yang saking kagum mengatakan kepada saya bahwa ‘sang pencerah’ yang lama ditunggu, telah lahir. Hal yang memang tidak terlalu salah disikapi kawan saya ini pada awal kemunculan dan kehadiran sang tokoh.

Dalam perjalanan selanjutnya, dukungan kepada sang tokoh yang pada awalnya solid diberikan oleh sejumlah masyarakat yang sangat pro gerakan akal sehat, perlahan mulai mengundang penyangsian. Bahkan tak sedikit yang mulai mempertanyakan, apakah sang tokoh benar-benar mengkampanyekan gerakan akal sehat, atau gerakan akal sehat dijadikannya sebagai alat kampanye politik mendukung salah satu paslon dalam pemilu-pilpres kali ini.

Perdebataan antar pendukung gerakan akal sehat yang dicanangkan sang tokoh pada awal kehadirannya pun belakangan mulai melahirkan perpecahan di antara mereka. Setidaknya mulai muncul pertanyaan; benarkah atau lebih jauh lagi pantaskah sang tokoh ini dijadikan sumber penyemaian dan sumber enerji gerakan akal sehat?

Pasalnya, semakin sering ia muncul di televisi, di panggung-panggung kampanye politik, di berbagai liputan sosial media, semakin santer muncul pertanyaan; misi politik apa yang diusung sang tokoh ini? Karena dalam berbagai pemunculannya di sejumlah panggung politik pemilu-pilpres, warnanya sebagai juru kampanye salah satu paslon dalam Pilpres 2019, makin terasa dan kentara. 

Masyarakat semakin pandai menilai berkat ulah sang tokoh sendiri yang menawarkan gerakan akal sehat untuk dihayati dan didukung masyarakat. Kesimpulan masyarakat bahwa telah terjadi pengaburan tentang arti dan posisi akal sehat dalam kehidupan kita hari ini, tak terhindarkan lagi.

Puncaknya terjadi ketika sang tokoh dengan sangat meyakinkan bahwa dirinya adalah sumber akal sehat dan kebenaran, memberikan 'dakwah kebangsaan' dengan menyatakan bahwa Pancasila memberi ruang dan mengadopsi Atheisme lewat sejumlah butir dari lima butir yang terkandung di dalamnya. 

Nah, sampai titik ini, gerakan akal sehat yang ditawarkannya sudah sangat perlu disikapi lewat pemikiran dan jendela ideologis. Apa maunya dan misi politik apa yang diembannya lewat pencanangan gerakan akal sehat yang dikemas cantik ini?  Seolah gerakan ini merupakan gerakan pemikiran intelektual yang mengatasnamakan demi kepentingan masa depan bangsa yang lebih baik (???).

Kehadiran ‘dakwah kebangsaannya’ membuat saya jadi teringat justru pada seorang tokoh besar, bapak proklamator bangsa, dalam Dakwah Ideologi Kebangsaannya sempat berpesan bahwa…mereka yang Atheis tak mungkin dapat memahami pemikiran dan ajaranku…(Marhaenisme-Pancasila). 

Nah, aneh bila Bung Karno yang tegas mengatakan dan menyampaikan pesan itu kepada rakyatnya, kemudian menawarkan sebuah pijakan nilai dasar-pandangan hidup bangsanya (Pancasila) yang memberi ruang kepada Atheisme.

Kontradiksi (interminus) ini hanya bisa dihadirkan oleh pisau analisa yang tanpa muatan akal sehat (dalam kasus 'sang tokoh') karena lebih dipenuhi oleh muatan kampanye politik penyesatan yang bertujuan menguatkan posisi tawar kepentingan politik yang diembannya sebagai salah satu 'tim sukses bayangan' salah satu Paslon pada Pilpres 2019.

Penyimpulan ini tidak berlebihan ketika akal sehat benar-benar dijadikan pegangan sebagai pijakan dalam bergerak dan melangkah menjabarkan amanat turut mencerdaskan bangsa sebagaimana yang diamanatkan dalam salah satu alinea pembukaan UUD ’45.

Salah satu sebab mengapa saya menolak untuk berdebat terbuka secara langsung kepada 'sang tokoh'; karena secara kebetulan saya dikirimi sebuah canda ‘satire politik’ dari seorang teman, seputar perdebatan antara seekor Harimau dan Keledai. Sang Keledai dan sang Harimau berdua menyoal tentang warna padang rumput yang subur tergelar di hadapan mereka. 

Sang Keledai mengatakan bahwa padang rumput berwarna biru; sementara sang Harimau menolak karena menurutnya padang rumput dari dulu hingga sekarang, tetap berwarna hijau. 

Karena tak mencapai titik temu, maka mereka pun menghadap kepada Singa sebagai raja rimba untuk meminta fatwa. Ketika lebih dahulu sang Keledai mengutarakan bahwa padang rumput berwarna hijau, sang Raja Rimba langsung membenarkan tanpa menunggu lama. 

Sang Keledai pun menuntut agar sang Harimau dijatuhi hukuman atas tindakan pembodohan ini. Kontan ketika sang Harimau berargumentasi bahwa padang rumput berwarna hijau, Singa sang Raja Rimba langsung menyalahkan dan mengganjar satu tahun hukuman penjara kepada sang Harimau.

Sang Harimau yang merasa diperlakukan tidak adil pun bertanya kepada Singa, sang Raja Rimba, mengapa dirinya malah diganjar hukuman 1 tahun penjara? Dengan tenang sang Singa dan membisikkan jawaban ke telinga sang Harimau…"Kamu saya jatuhi hukuman satu tahun penjara karena kesalahanmu…mau berdebat dengan seekor keledai..!’’ 

Dengan ilustrasi di atas saya hanya ingin mengajak sang tokoh pengunggah jargon gerakan akal sehat, kembali ke jalan akal sehat yang genuine dan berkelanjutan. Bukan akal sehat yang hanya akal-akalan menjadikan gerakan akal sehat sebagai benih pembusukan terhadap akal sehat itu sendiri!

*) Oleh Erros Djarot-dikutip sepenuhnya dari laman watyutink.com

Penulis : Witanto


Bagikan artikel ini