Gencatan Senjata, Tentara Afghanistan-Taliban Nikmati Berkah Lebaran

17 Jun 2018 11:48 Internasional

"Kita menggunakan ‘momen langka’ ini untuk mengajak Taliban berunding guna mengakhiri konflik yang berlarut-larut," Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani.

Tentara Afghanistan dan militan Taliban bersepakat untuk melakukan gencatan senjata dalam rangka menyambut perayaan hari raya Idul Fitri 1439 Hijriyah. Kejadian ini belum pernah terjadi sebelumnya sejak Amerika Serikat menginvasi Afghanistan pada 2001.

Demikian dikutip ngopibareng.id, dari kantor berita Reuters, Ahad (17/6/2018).

Taliban mengumumkan gencatan senjata dengan tentara Afghanistan selama tiga hari, dimulai pada Jumat (15/6). Sementara itu, pihak pemerintah Afghanistan mengumumkan gencatan senjata selama enam hari, atau hingga hari Rabu.

Menanggapi hal itu, Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani mengapresiasi langkah Taliban yang bersedia meletakkan senjata dalam rangka lebaran. Ghani juga menggunakan ‘momen langka’ ini untuk mengajak Taliban berunding guna mengakhiri konflik yang berlarut-larut.

 

DIPLOMASI Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani ketika bersama Presiden Joko Widodo foto dok ngopibarengid
DIPLOMASI: Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani ketika bersama Presiden Joko Widodo. (foto: dok ngopibareng.id)

Wakil Menteri Dalam Negeri Afganistan Masood Azizi mengatakan, pemerintah terus memantau gencatan senjata di seluruh negeri. Selama gencatan senjata, tidak ada serangan sama sekali dari pihak Taliban. 

“Untungnya tidak ada serangan,” kata Azizi.

Dalam sebuah video dan foto yang beredar di media sosial, tentara Afghanistan dan militan Taliban terlihat saling berpelukan dan mengucapkan salam Idul Fitri di Provinsi Logar, Zabul Selatan, serta Maidan Wardak Selatan dan Tengah. 

Kejadian ini membuat masyarakat Afghanistan bersuka cita dan ‘tidak percaya’ karena biasanya tentara pemerintah dan militan Taliban terlibat bentrok hingga menewaskan banyak orang.

Sebelumnya, berbagai upaya juga ditempuh pemerintah Afghanistan untuk berdamai dengan Taliban. Salah satunya, pada awal tahun lalu pemerintah menawarkan pengakuan kepada Taliban sebagai partai politik dan mengajaknya untuk ikut serta dalam pesta demokrasi. Akan tetapi, tawaran tersebut tidak mendapatkan respons dari Taliban. (adi)