Gempa Bumi Itu Teguran Tuhan? Ini Penjelasan Islam (2)

12 Oct 2018 04:43 Khazanah

Selanjutnya ada pertanyaan, apakah ada keterkaitan antara gempa bumi dengan ulah manusia (maksiat)?

"Dari sisi teologis, jawabannya bisa saja demikian sebab banyak sekali ayat atau hadits yang memberitakan bahwa kejadian-kejadian yang menimpa manusia bisa diakibatkan sebab ulah buruk manusia itu sendiri. Allah mengingatkan hambanya dengan banyak cara, salah satunya adalah gempa bumi ini," tutur Kiai Abdul Wahab Ahmad, Peneliti di Aswaja Center Jember.

Berikut penjelasan lanjutan Kiai Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember:

Lihat misalnya kisah kaum Nabi Luth yang membangkanghinggamendapat bencana alam hebat sebagaimana digambarkan dalam ayat berikut:

فَلَمَّا جَآءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةًۭ مِّن سِجِّيلٍۢمَّنضُودٍۢ

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82)

Di beberapa ayat lainnya, Allah juga memerintahkan kita untuk memperhatikan kaum-kaum terdahulu yang berakhir tragis sebab tidak mematuhi ajaran Tuhan. Lihat misalnya:

قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُمْ سُنَنٌۭ فَسِيرُوا۟ فِي ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ

"Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. Ali Imran: 137)

"Dalam hal gempa di Indonesia, kita harus melihat faktor alami penyebab gempa itu apa dan bagaimana cara meminialisasi risiko di masa depan dengan cara-cara yang ilmiah seperti membuat bangunan tahan gempa, penataan pemukiman dan lain sebagainya."

Namun, apakah setiap bencana gempa bumi atau bencana alam lainnya bisa ditafsirkan sebagai teguran Tuhan? Jawabannya dengan tegas adalah tidak!, sama sekali tidak!. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, dari aspek teologis tak ada kekhususan dalam hal bencana alam dari kejadian apapun.

Bila bicara soal teguran Tuhan, maka teks-teks agama Islam menegaskan bahwa semua hal bisa menjadi bentuk teguran Tuhan. Sakit, rezeki yang sulit, gagal panen, kematian, dan segala ketidaknyamanan bisa menjadi bentuk teguran Tuhan agar seorang hamba kembali mengingat-Nya. Rasa berat dan enggan untuk beribadah juga bentuk teguran yang paling nyata.

Selain itu, ada juga teguran yang tampak sebagai kenikmatan, misalnya: Kekayaan, kesuksesan dan umur panjang yang disertai meningkatnya jumlah maksiat. Ini semua adalah teguran paling parah yang diberikan Allah kepada hambanya yang sudah terkunci mata hatinya. Dalam istilah Islam, teguran semacam ini disebut sebagai istidrâj dan ini banyak disinggung dalam Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan kesuksesan orang-orang kafir dan orang-orang dhalim di dunia dan bahwa hukuman bagi mereka ditangguhkan hingga mereka mati.

Jadi, jangan gegabah memvonis bahwa korban gempa bumi adalah orang-orang yang mendapat teguran (azab) dari Allah. Vonis semacam ini dilarang sebab hanya Allah yang tahu rahasia di balik setiap kejadian. Dulu kita bisa tahu bahwa suatu bencana merupakan teguran Tuhan terhadap suatu kaum sebab ada seorang Nabi yang menjelaskannya. Namun di era ketiadaan Nabi seperti sekarang, kita hanya bisa berprasangka (dhann) dan Al-Qur’an sudah menegaskan bahwa kebanyakan prasangka itu adalah dosa (QS. Al-Hujurat: 12).

Justru dalam hadits dijelaskan bahwa orang yang tertimba reruntuhan dan tenggelam adalah orang yang mendapat pahala syahid. Nabi Muhammad ﷺBersabda:

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُوْنُ وَالْمَبْطُوْنُ وَالْغَرِقُ وَصاَحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيْدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

“Para syahid itu ada lima, yaitu orang yang mati karena wabah pes (tha’un), orang yang mati karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Bukhari-Muslim)

Sikap kita terhadap sebuah musibah harus dipilah menjadi dua; sikap terhadap diri sendiri dan sikap terhadap orang lain. Ketika diri kita sendiri mendapat musibah, apa pun itu mulai yang ringan hingga berat, maka seyogianya kita introspeksi jangan-jangan itu adalah teguran Tuhan kepada kita sehingga kita bisa berubah menjadi lebih baik dan bersemangat dalam beribadah.

Namun ketika orang lain yang mendapatkan musibah, apa pun itu, maka kita harus melihatnya sebagai fenomena alami (sunnatullah) yang terjadi sebab faktor-faktor natural tanpa membumbuinya dengan aneka prasangka yang menyakitkan bagi korban atau keluarganya, apalagi bila yang terkena musibah bukanlah pelaku maksiat, seperti kebanyakan kasus gempa di Indonesia selama ini.

Dalam hal gempa di Indonesia, kita harus melihat faktor alami penyebab gempa itu apa dan bagaimana cara meminialisasi risiko di masa depan dengan cara-cara yang ilmiah seperti membuat bangunan tahan gempa, penataan pemukiman dan lain sebagainya. Kita juga harus membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah dengan cara apa pun yang kita bisa, minimal mendoakan kebaikan.

Jangan sampai ada yang gegabah menghubungkan suatu musibah sebagai azab, sebab bisa saja para korban itu mendapat pahala syahid dan justru penonton yang tak tertimpa musibah itulah yang terkena azab Allah berupa istidrâj yang harus dibayar mahal kelak di akhirat. Wallahua'lam. (adi)

Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini