Gempa 5,7 SR Guncang Poso, Jemaat Gereja Berhamburan

24 Mar 2019 11:36 Timur Indonesia

Gempa berkekuatan 5,7 skala richter (SR) mengguncang wilayah Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), Minggu, 24 Maret 2019. Getaran gempa dangkal berpusat di darat itu tidak berpotensi tsunami.

Hasil analisis Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), lokasi episenter gempa terletak pada titik koordinat 1,78 Lintang Selatan (LS) dan 120,55 Bujur Timur (BT). Tepatnya berlokasi di darat pada jarak 54 Kilometer (Km) arah barat daya Kota Poso, Sulteng pada kedalaman 10 km.

"Gempa Mag: 5.7, 24/03/2019 08:32:02 (Pusat gempa di darat 54 km Barat Daya Poso), Kedlmn:10 Km Dirasakan (MMI) IV Poso, III Palu, III Soroako, III Malili, IV Ampana, IV Morowali, III-IV Mangkutana, II-III Palopo,” tulis @infoBMKG, akun resmi twitter BMKG.

Hingga saat ini, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan (aftershock). Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Gempa cukup mengganggu jalannya ibadah di gereja-gereja. Seorang warga desa Kuku, kecamatan Pamona Utara, kabupaten Poso, Feri Timparosa melaporkan bahwa saat gempa terjadi, pada umumnya gereja-gereja di kabupaten Poso sedang melaksanakan ibadah Minggu pagi.

"Para jemaat langsung panik dan berhamburan ke luar gedung gereja dengan teriak-teriak ketakutan," ujar Feri dan menambahkan, ibadah Minggu pagi akhirnya dilanjutkan di halaman gereja masing-masing.

Menurut Feri, meskipun kabupaten Poso tidak terdampak gempa bumi di kota Palu, kabupaten Sigi, Donggala dan parigi Moutong pada 28 September 2018, namun warga di daerah ini ikut trauma dengan dampak gempa yang diikuti tsunami dan likuefaksi tersebut.

"Guncangan gempa di Poso memang terasa cukup kuat, bahkan banyak benda dalam rumah warga sempat berjatuhan ke lantai," ujarnya.

Gempa juga terasa sampai di kota Palu. meski berjarak sekitat 120 kilometer dari pusat gempa. "Ya, gempanya terasa sampai di sini (Palu)," ujar Gita, seorang warga Palu.

"Kipasku sampai jatuh gara-gara gempa," ujap Lilis Wahyuni, warga Kota Palu lainnya.

Di Gereja Sidang Jemaat Allah, Jl. Tanjung Manimbaya Palu, ratusan jemaat sedang mendengarkan khotbah dari Pendeta Rafles Loke, STh, namun semua jemaat tetap duduk di tempatnya masing-masing, meski satu-dua orang terlihat panik dan ingin keluar gedung gereja. (ant/wit)

Reporter/Penulis : Witanto


Bagikan artikel ini