Para peserta ASEAN Women Interfaith Dialogue di Grand Sheraton, Jakarta. (Foto: Kemlu)

Gelar Asean Women Interfaith Dialogue, Ini Pesan Indonesia

Nasional 14 November 2019 09:39 WIB

Menteri Luar Negeri RI, Retno L.P. Marsudi mengatakan, pentingnya peran perempuan sebagai agen perdamaian, toleransi dan kesejahteraan. Karena, perempuan sebagai inti dari upaya dialog antaragama memiliki peluang besar dalam mencapai masyarakat yang inklusif dan damai.

“Sudah saatnya perempuan bekerja bersama untuk membawa panji toleransi dan moderasi. Sudah saatnya bagi perempuan untuk menjadi agen perdamaian, toleransi, dan kemakmuran," tuturnya, dalam siaran pers Kamis, 14 November 2019.

Ia mengungkapkan hal itu, terkait acara menyambut ASEAN-Institute for Peace and Reconciliation (ASEAN-IPR) dalam menyelenggarakan ASEAN Women Interfaith Dialogue.

"Forum ini, dapat dan harus menjadi platform untuk mewujudkan hal ini", ujar Menlu Retno dalam pesan video yang disampaikan pada pembukaan forum ini.

ASEAN-IPR menyelenggarakan ASEAN Women Interfaith Dialogue pada 12 – 13 November 2019, dengan mengangkat tema “Promoting Understanding for an Inclusive and Peaceful Society" yang merupakan hasil kerja sama ASEAN-IPR, Australia dan Asia Foundation.

Forum dibuka oleh Dato Lim Jock Hoi, Sekretaris Jenderal ASEAN dan Ms. Megan Jones, Chargé D'Affaires Australia Mission to ASEAN.

Sekjen ASEAN mengapresiasi penyelenggaraan forum ini yang bertepatan dengan kepentingan ASEAN saat ini, yakni pemberdayaan perempuan dan aktualisasi perdamaian dan masyarakat inklusif di kawasan.

“Partisipasi aktif dalam Dialog Antaragama seperti ini menunjukkan komitmen kami untuk memberdayakan ASEAN, khususnya perempuan, dalam menyelesaikan perselisihan dan mengatasi tantangan yang ada dan sering bermunculan melalui jalur damai dengan pendekatan menyeluruh pada masyarakat", ujarnya dalam sambutan pembukaan.​

Prof Dr Siti Musdah Mulia Ketua Konferensi Internasional mengenai Agama dan Perdamaian Foto KemluProf. Dr. Siti Musdah Mulia, Ketua Konferensi Internasional mengenai Agama dan Perdamaian. (Foto: Kemlu)

Kegiatan yang diselenggarakan di Grand Sheraton, Jakarta ini merupakan tindak lanjut dari peluncuran pool of experts – ASEAN Women for Peace Registry (AWPR) tahun lalu di Filipina, dan suatu implementasi dari ASEAN Leader's Joint Statement “Women, Peace and Security" pada tahun 2017.

Wakil Indonesia untuk ASEAN-IPR Governing Council, Duta Besar Artauli Tobing, dalam sambutannya menyampaikan perlunya pria dan perempuan untuk bekerja bersama dalam penciptaan perdamaian berbasis agama meskipun keterlibatan perempuan sering tidak terdengar.

“Merupakan kesempatan istimewa bagi kami untuk memberikan ruang bagi perempuan di ASEAN, yang secara aktif terlibat dalam kegiatan pembangunan perdamaian untuk bertemu, melalui ASEAN Women Interfaith Dialogue pertama ini," ujarnya.

Dalam sesi pesan perdamaian yang disampaikan Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, Ketua Konferensi Internasional mengenai Agama dan Perdamaian. Ia berbicara tentang pengalaman Indonesia dan praktik terbaik dalam mengelola masyarakat yang sangat beragam dan majemuk, bersama dengan tantangannya.

Musdah Mulia percaya, perempuan memainkan peran penting dalam hal tersebut, terutama dalam mengamankan tiga pilar perdamaian berkelanjutan: pemulihan ekonomi dan rekonsiliasi; kohesi dan pembangunan sosial; dan legitimasi politik, keamanan, dan pemerintahan yang baik.

Forum yang digelar oleh ASEAN-IPR ini dimaksudkan pula untuk berbagi pengalaman dan best-practices terutama upaya menguatkan peran wanita dalam menjaga harmoni diantara masyarakat yang beragam.
Selain itu, forum ini diharapkan dapat mengidentifikasi tantangan-tantangan yang ada dan cara-cara mengatasinya demi menuju masyarakat yang majemuk, inklusif dan lebih maju.

ASEAN Women Interfaith Dialogue merupakan dialog antar agama perempuan ASEAN yang pertama di tingkat ASEAN dan turut dihadiri lebih dari 125 peserta dari berbagai organisasi dan komunitas agama, akademisi, serta think tanks dari negara-negara anggota ASEAN. Rekomendasi atau hasil dari pertemuan akan menjadi masukan bagi ASEAN.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

28 Jul 2020 07:43 WIB

Soal PenangananTerorisme, Resolusi RI Ditanggapi Serius

Internasional

Konsep upaya rehabilitasi dan reintegrasi pelaku terorisme ke masyarakat

18 Jul 2020 07:20 WIB

Repatriasi 104 WNI dari Suriah, Jalani Proses Ketat

Internasional

Di tengah pandemi Covid-19

17 Jul 2020 08:25 WIB

Menlu: RI Negara Pertama Tolak Aneksasi Israel Terhadap Palestina

Nasional

"Stop Israel's Imperialism”, webinar diadakan MUI Pusat

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...