Sopir grab dan ojek pangkalan saat dimediasi di Mapolsek Kademangan, Kota Probolinggo. (foto: Istimewa)
Sopir grab dan ojek pangkalan saat dimediasi di Mapolsek Kademangan, Kota Probolinggo. (foto: Istimewa)

Geger Ojek Online Vs Pangkalan Probolinggo Berlanjut ke Polresta

Ngopibareng.id Jawa Timur 21 August 2020 22:15 WIB

Bentrok fisik akibat berebut penumpang kembali terjadi antara sopir (driver) online (Grab) di Kota Probolinggo. Diduga diwarnai penganiayaan, kasus ini kemudian ditangani Polresta Probolinggo.

“Benar, kami mendapat laporan dugaan penganiayaan dengan korban driver online, yang dilakukan ojek pangkalan,” ujar Kasat Reskrim Polresta Probolinggo, AKP Heri Sugiono, Jumat malam, 21 Agustus 2020.

Dikatakan polisi sudah mengantongi petunjuk berupa rekaman yang beredar di media sosial. “Sedang kami selidiki, kalau ada unsur pidananya, kami tindak lanjuti,” katanya.

Kasus keributan diwarnai penganiayaan itu terjadi di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, Kamis malam, 20 Agustus. Karena saat dimediasi di Mapolsek Kademangan tidak ada titik temu, Chrisna Yanuarto, 39 tahun, driver mobil online melaporkan kasus ini ke Mapolresta, Jumat siang.

Dalam laporannya, Chrisna menceritakan, Kamis malam sekitar pukul 19.30, dirinya menjemput penumpang di Alfamart Ketapang. Saat mobil yang disopiri Chrisna baru berangkat, tiba-tiba mobil dipepet motor yang dikendarai RH, 40 tahun, pengemudi ojek pangkalan.

Chrisna kemudian menghentikan mobilnya. Tetapi tiba-tiba RH mencabut kunci kontak mobil Chrisna. Akhirnya terjadi adu mulut antara Chrisna dengan RH.

Tidak sebatas “perang mulut”, Chrisna mengaku, dua kali didorong. “Yang ketiga, saya dipukul. Setelah itu ia kabur sambil melemparkan kunci mobil saya,” kata Chrisna.

Chrisna kemudian  melaporkan kejadian itu ke Mapolsek Kademangan. Jajaran Polsek Kademangan sudah berusaha memediasi, tetapi Chrisna mengaku, tidak puas.  

Chrisna akhirnya malaporkan kasus dugaan penganiayaan yang dialaminya ke Mapolresta Probolinggo. “Kami dari kalangan pengemudi online sebenarnya sudah berusaha mengalah,” kata Chrisna. Misalnya, dengan cara tidak mengambil penumpang di Terminal Bayuangga, Kota Probolinggo. Pengemudi online biasa menunggu penumpang yang turun di terminal dari radius (jarak) sekitar 750 meter.

Gesekan akibat berebut penumpang antara moda transportasi online dengan konvensional ini sudah berkali-kali terjadi di Kota Probolinggo. Berkali-kali dimediasi pihak Dishub dan Polresta, tetapi masih terjadi cekcok di lapangan.

Selain di kawasan terminal, gesekan antara pengemudi online dengan transportasi konvensional (becak, angkutan kota) juga beberapa kali terjadi di depan Stasiun Kereta Api Probolinggo.

Dishub pun pernah menyodorkan kesepakatan kepada pengemudi online dari yang tergabung dalam Pengemudi Online Probolinggo (POP) bersama Grabcar Probolinggo. “Tetapi kami belum bisa menyetujui usulan itu,” kata Chrisna. 

Penulis : Ikhsan Mahmudi

Editor : Dyah Ayu Pitaloka

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

03 Mar 2021 21:45 WIB

Terlilit Utang, Warga Pagesangan Gadaikan Mobil Milik PNS

Kriminalitas

Pelaku awalnya menyewa mobil, namun akhirnya menghilang

03 Mar 2021 21:30 WIB

Bea Cukai Juanda Gagalkan Penyelundupan Ratusan Iphone

Kriminalitas

Iphone tersebut diselundupkan melalui jalur udara dari Batam.

03 Mar 2021 21:15 WIB

Walikota Bukittinggi Wajibkan ASN Subuhan Berjamaah, Ini Kata DPR

Nusantara

Minta agar Mendagri membina Walikota Bukittinggi.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...