Gedung eks RS Mardi Santoso “Dimakan” Belantara.

Gedung eks RS Mardi Santoso Rawan Hilang

Jejak Peradaban 11 February 2020 22:30 WIB

Gedung eks Rumah Sakit Mardi Santoso di jalan Bubutan Surabaya sedang ditawarkan untuk dijual. Penjualan lahan ini tampak pada sebuah spanduk yang terpasang di pagar. "Dijual Tanah. Hub: 0819-3193-1922 dan 0816-5102-77".

Siapa pun yang melintas depan lokasi pasti dengan mudah melihatnya. Spanduknya cukup besar. Sementara bangunan bersejarah yang berdiri besar dan megah justru tidak kelihatan karena tertutup ilalang yang lebat dan tinggi.

Gedung dengan arsitektur klasik moderen ini terakhir difungsikan sebagai restoran yang bernama "Hallo Surabaya". Usaha restoran ini menarik karena memberi kesempatan kepada para pengunjung untuk menikmati suasana bangunan, yang bernuansa klasik.

Meski, yang tersisa adalah banguanan bagian depan dari bekas Rumah Sakit Mardi Santoso, yang sebelumnya, di era Belanda, dipakai sebagai panti asuhan khusus perempuan.

Di awal tahun 2000-an, bagian samping dan belakang dibongkar. Hanya menyisakan bagian depan, seperti yang dapat dilihat sekarang. Pada masa kejayaannya, bangunan kuno ini berbentuk kotak dengan taman di bagian tengah sehingga bangunan ini ramah lingkungan.

Nyaman bagi penghuninya. Karenanya, bangunan ini sangat cocok untuk rumah sakit. Maka digunakanlah bangunan bekas panti asuhan ini sebagai rumah sakit yang bernama RS. Mardi Santoso.

Gedung Panti Asuhan Perempuan Weeshuis di Bubutan tahun 1913Gedung Panti Asuhan Perempuan “Weeshuis” di Bubutan tahun 1913

Sebelum digunakan sebagai rumah sakit, gedung ini adalah bangunan panti asuhan untuk perempuan, yang dikelola oleh Majelis Gereja. Gedung itu dibangun pada tahun 1913 dan ini merupakan gedung pantai asuhan baru.

Sebelum ada gedung panti asuhan baru di jalan Bubutan, gedung panti asuhan lama bertempat di jalan Boomstraat, kini jalan Branjangan, di kawasan kota lama Soerabaja.

Panti Asuhan lama itu dibangun oleh Majelis Gereja pada tahun 1835 (Oud Soerabaia, Von Faber). Dalam perkembangannya, gedung panti asuhan di jalan Boomstraat (Jl. Branjangan) dirasa sangat sempit, pengab dan tidak cocok untuk kebutuhan perkembangan anak anak panti.

Pada tahun 1871 ada gagasan untuk membuat rumah panti yang baru. Namun karena kesulitan keuangan, gagasan itu tidak terlaksana.

Pada tahun 1911 Majelis menerima lotere, dan satu tahun kemudian,1912, pihak majelis mulai melakukan pencarian lahan untuk didirikan rumah panti asuhan yang baru. Tepatnya tanggal 1 Maret 1912 Majelis Gereja melakukan penawaran atas lahan di jalan Bubutan.

Baru tahun 1913 sebuah rumah panti asuhan yang baru mulai dibangun di atas lahan di jalan Bubutan. Maka berdirilah sebuah bangunan yang megah yang sangat representatif untuk perkembangan anak anak panti.

Anak anak panti sedang bermain di halaman tengahAnak anak panti sedang bermain di halaman tengah.

Menurut laman RS. Mardi Santoso yang sekarang beralamat di Jl.Demak 443 Surabaya, gedung megah di jalan Bubutan itu beralih fungsi dari panti asuhan menjadi rumah sakit terjadi pada tahun 1995 oleh Perkumpulan Mardi Santoso.

Berikutnya pengelolahan rumah sakit beralih dari Perkumpulan Mardi Santoso ke Gereja Protestan indonesia bagian barat, lalu beralih lagi ke Yayasan kesehatan GPIB. Belakangan nama rumah sakit berubah nama menjadi Rumah sakit Griya Husada.

Setelah digunakan sebagai rumah sakit, bagian samping dan belakang dari bangunan ini sempat dibongkar dan mangkrak selama bertahun tahun. Bangunan ini sempat bersinar kembali ketika dipakai sebagai restoran yang bernama "Hallo Surabaya".

Umur restoran juga tidak bertahan lama, akhirnya sosok bangunan menjadi menyeramkan. Cat cat mengelupas dan tembok terlihat kusam. Lahan lahan di muka, samping dan belakang lebat ditumbuhi oleh ilalang. Bangunan megah itu menjadi hilang ditelan jaman.

Kini, kabar terbaru, bangunan bekas Panti Asuhan, RS. Mardi Santoso dan Hallo Surabaya ditawarkan untuk dijual. Ini kesempatan bagi pemerintah kota Surabaya untuk penyelamatan aset bersejarah dan menggunakannya untuk etalase kreativitas dan produktivitas ekonomi warganya.

Apalagi pemerintah kota sedang memetakan aset bersejarah sebagai ruang untuk inovasi pemberdayaan ekonomi. Jika pemerintah kota tidak bertindak, maka cepat atau lambat, bangunan indah nan bersejaraah ini akan hilang kerena alasan kapital. Ayo, jangan sampai ada alasan "kecolongan"!!!

Penulis : Nanang Purwono (Begandring Soerabaia)

Editor : Witanto

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

10 Apr 2020 02:16 WIB

Penyimpan Data di Komputer, Ini Beda HDD dan SSD

Komputer & Laptop

Mengenal evolusi teknologi penyimpan data di komputer.

09 Apr 2020 15:22 WIB

Pemkot Surabaya Keberatan Dengan Kata 'Ditimbun'

Surabaya

Pemkot melayangkan surat keberatan kepada redaksi Ngopibareng.id.

09 Apr 2020 13:12 WIB

Jadwal Ibadah Kamis Putih, Jumat Agung dan Paskah Live

Nasional

Keuskupan Agung Jakarta menyiapkan serangkaian peribadatan dari rumah.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.